TBIG dan SRTG Melesat, Respons Sandi dan Trenggono Jadi Menteri
Investor.id - Di tengah penurunan indeks harga saham gabungan (IHSG) menjelang libur Natal, saham PT Saratoga Investama Sedaya Tbk (SRTG) dan PT Tower Bersama Infrastructure Tbk (TBIG) harganya melesat, merespons pelantikan Sakti Wahyu Trenggono dan Sandiaga Uno menjadi menteri.
Pada perdagangan Rabu (23/12/2020), harga saham SRTG melesat ke level Rp 3.950 atau naik 10,96%. Sementara itu, saham TBIGnaik 8,81% ke level Rp 1.730 per lembar.
Kemarin, IHSG melemah 1,57% ke level 6.008,709. Pergerakan pasar saham selama tiga hari bursa jelang libur Natal mengalami tekanan karena investor melakukan aksi ambil untung (profit taking) untuk menghindari risiko selama liburan.
Penurunan juga terjadi pada angka rata-rata volume transaksi sebesar 14,68% menjadi 26,742 miliar saham dari 31,344 miliar saham, pekan yang lalu. Rata-rata nilai transaksi harian selama sepekan juga turun menjadi Rp19,762 triliun dari Rp 20,769 triliun.
Sakti Wahyu Trenggono dikenal sebagai pengusaha telekomunikasi, bahkan dijuluki sebagai Raja Menara. Melalui PT Solusindo Kreasi Pratama, Wahyu Trenggono menjadi komisaris utama. Bisnis towernya bermula ketika ia merintis PT Indonesian Tower.
Pada tahun 2009, ia didapuk menjadi Komisaris Komisaris PT Tower Bersama Tbk, salah satu perusahaan pemilik tower telekomunikasi papan atas nasional yang sahamnya pernah dimiliki Sandiaga Uno lewat Saratoga.
Kepemilikan mayoritas saham TBIG (35,61%) dimiliki PT Wahana Anugerah Sejahtera, kemudian PT Provident Capital indonesia dengan porsi 26,73%. Kedua perusahaan itu merupakan anak usaha dari PT Saratoga Investama Sedaya Tbk (SRTG) yang mayoritas sahamnya dimiliki Sandiaga Uno.
Akuisisi Menara
Seperti diberitakan Investor Daily, PT Tower Bersama Infrastructure Tbk (TBIG) melalui anak usahanya, PT Tower Bersama, menandatangani perjanjian jual beli bersyarat untuk mengakuisisi hingga 3.000 menara telekomunikasi milik PT Inti Bangun Sejahtera Tbk (IBST).
Nilai transaksinya sebesar Rp 3,97 triliun atau setara US$ 280 juta. Perjanjian jual beli dilakukan pada 21 Desember 2020. Akuisisi ini akan membuat total menara telekomunikasi Tower Bersama menjadi lebih dari 19.000 sites.
“Akuisisi ini melengkapi strategi utama perseroan yang berfokus pada pertumbuhan organik. Dalam basis proforma, transaksi ini akan meningkatkan EBITDA perseroan sekitar 10% dan memiliki dampak penambahan langsung. Transaksi ini diharapkan selesai menjelang akhir kuartal I-2021,” kata CEO Tower Bersama Infrastructure Hardi Wijaya Liong dalam keterangan tertulisnya.
Dia menegaskan, penyelesaian transaksi ini masih membutuhkan berbagai persetujuan, termasuk persetujuan pemegang saham dan pemberi pinjaman dari Tower Bersama dan Inti Bangun Sejahtera.
Hingga kuartal III-2020, Tower Bersama membukukan laba bersih Rp 747,46 miliar atau tumbuh 22,1% dibandingkan periode sama tahun lalu sebesar Rp 611,96 miliar. Perolehan laba bersih sejalan dengan peningkatan pendapatan perseroan 13,5% menjadi Rp 3,93 triliun.
Editor: Investor.id
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
FollowBaca Berita Lainnya di Google News
Read Now


