Pertamina Geothermal (PGEO) Cari Pinjaman Bank Rp 15 Triliun
JAKARTA, investor.id - PT Pertamina Geothermal Tbk (PGEO), anak usaha PT Pertamina (Persero), dikabarkan tengah mencari pinjaman bank sebesar US$ 1 miliar atau setara Rp 15,3 triliun.
Dalam hal ini, Pertamina Geothermal berburu pinjaman berbasis berkelanjutan (Environmental Social Governance/ESG loan). "PGEO berharap, proposal pinjaman berbasis ESG ini rampung akhir bulan ini," seperti dilansir dari Bloomberg, Senin (11/9/2023).
Perseroan juga berharap, bisa meraih pinjaman bank dengan bunga kurang dari 100 basis poin berpatokan pada The Secured Overnight Financing Rate (SOFR).
Direktur Keuangan Pertamina Geothermal Nelwin Aldriansyah mengaku, belum bisa memberikan tanggapan apa pun atas kabar ESG loan tersebut. "Mohon maaf, kami belum bisa memberikan tanggapan," ucap Nelwin, singkat kepada Investor Daily, Senin (11/9/2023).
Inisiatif PGEO mencari pendanaan ini patut disinyalir berhubungan erat dengan rencana perseroan untuk mengakuisisi Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) PT Sorik Marapi Geothermal Power yang dikuasai KS Orka Renewables.
Nilai transaksi pengambilalihan aset panas bumi ini diestimasikan mencapai US$ 1 miliar, seperti dilaporkan Reuters. Di samping aktif mencari pendanaan dari perbankan, belum lama ini Nelwin juga menyampaikan, Pertamina Geothermal berencana menerbitkan green bonds senilai US$ 500 juta pada akhir 2024.
Ia menerangkan, dana itu untuk memperkuat kapasitas produksi panas bumi terpasang sebesar 350 megawatt dalam dua tahun ke depan. Soalnya, PGEO berambisi menjadi operator panas bumi terbesar di Indonesia dan kedua di Asia dengan kapasitas produksi mencapai 1 gigawatt.
Anak Usaha Mitra Investindo (MITI) Menang Tender Proyek Pertamina
Saat ini, sambungnya, perseroan sudah memiliki kapasitas panas bumi terpasang sebesar 672 megawatt dan akan terus naik hingga 1 gigawatt.
“Jadi ada tambahan sekitar 340 megawatt dalam dua tahun ke depan. Kita sudah identifikasi dari 110 megawatt di area Hululais dan 55 megawatt di Lumut Balai. Sekarang, dua-duanya sedang kita kerjakan," tuturnya.
Praktis, di tengah semarak aksi korporasi Pertamina Geothermal belakangan ini, selama sembilan hari terakhir perdagangan, saham PGEO menguat sebesar 615 poin atau setara 55,71% secara akumulatif.
Namun sayang, sepanjang sepekan terakhir harga saham PGEO cenderung terkoreksi hingga 13% dan secara akumulatif terpangkas 365 poin atau setara 29,32% dalam 10 hari terakhir.
Pada perdagangan hari ini, Senin (11/9/2023) misalnya, sampai pukul 12.51 WIB, harga saham PGEO terpantau melanjutkan pelemahan ke level Rp 1.195, menyusut 70 poin atau 5,53% dibandingkan penutupan pada perdagangan sebelumnya di posisi Rp 1.265.
Berdasarkan data RTI, saham PGEO dibuka di harga Rp 1.265 pada perdagangan hari ini, Senin (11/9/2023), dan bergerak pada rentang Rp 1.175-1.270. Sementara frekuensi perdagangan tercatat sebanyak 12.183 kali dengan volume saham yang ditransaksikan sejumlah 102.80 saham senilai Rp 124,86 miliar. Price to Earning Ratio (PER) sebanyak 17.78 kali dan Price to Book Value Ratio (PBVR) sebanyak 1,74 kali serta kapitalisasi pasar mencapai Rp 49,47 triliun.
Editor: Muawwan Daelami
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
FollowBaca Berita Lainnya di Google News
Read Now






