Tsingshan Mau Masuk ke Grup Harum (HRUM), Kenapa Pasar Bereaksi Negatif?
JAKARTA, investor.id – PT Harum Energy Tbk (HRUM) telah menandatangani nota kesepahaman kerja sama strategis dengan raksasa peleburan baja asal China, Eternal Tsingshan Group. Eternal Tsingshan merupakan bagian dari Grup Tsingshan yang telah melakukan banyak investasi di bidang pengolahan dan pemurnian nikel di Indonesia.
Beberapa proyek besar Grup Tsingshan adalah Indonesia Morowali Industrial Park dan Weda Bay Industrial Park. Grup Tsingshan juga telah bekerja sama dengan emiten nikel lainnya, yakni PT Merdeka Battery Materials Tbk (MBMA).
Sesuai rencana, Eternal Tsingshan akan masuk ke anak usaha Harum Energy yang membawahi unit bisnis nikel, yaitu PT Harum Nickel Perkasa (HNP) dan PT Tanito Harum Nickel (THN), melalui surat utang wajib konversi (SUWK).
Penerbitan surat utang wajib konversi ditargetkan rampung pada kuartal III-2024. Nantinya, surat utang tersebut akan dikonversi menjadi sejumlah saham baru di HNP dan/atau THN dengan kepemilikan efektif hingga 49%.
Harum Energy dan anak usahanya akan menggunakan dana hasil emisi surat utang wajib konversi untuk menyelesaikan sebagian kewajiban, yang berhubungan dengan akuisisi aset nikel.
Baca Juga:
GOTO Mepet Zona Rp 50-an, Bisa Bangkit?Sebelumnya, emiten berkode saham HRUM tersebut telah mengakuisisi beberapa aset nikel, seperti pembelian 60% saham PT Infei Metal Industry senilai US$ 70,4 juta pada September 2023 dan akuisisi 60,7% saham PT Westrong Metal Industry sebesar US$ 215,2 juta pada Januari 2024.
Menurut manajemen HRUM, kerja sama strategis dengan Eternal Tsingshan bakal berdampak positif bagi bisnis nikel perseroan, antara lain efisiensi kinerja operasional melalui portofolio nikel yang terintegrasi, perbaikan struktur permodalan setelah konversi surat utang, mendukung transfer pengetahuan dan teknologi di bidang pengolahan nikel, serta perluasan akses pemasaran produk stainless steel dan baterai di pasar global.
HRUM melalui THN juga telah menandatangani fasilitas kredit senilai US$ 620 juta dengan 12 bank di Indonesia dan luar negeri. Fasilitas tersebut memiliki jatuh tempo 48 bulan sejak penarikan, dengan bunga sebesar 2,05-2,55% di atas Secured Overnight Financing Rate (SOFR) untuk pinjaman dari bank luar negeri dan 2,3-2,8% di atas SOFR untuk pinjaman dari bank dalam negeri.
Pinjaman tersebut akan dipakai untuk mendanai kebutuhan umum perusahaan dan pembiayaan kembali pinjaman pemegang saham yang diberikan kepada THN.
Reaksi Pasar
Editor: Jauhari Mahardhika
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
FollowBaca Berita Lainnya di Google News
Read Now






