Minggu, 21 Juni 2026

ICBP, INDF, MYOR, AMRT, UNVR, CMRY, Mana yang Masih Gurih?

Penulis : Jauhari Mahardhika
15 Jul 2024 | 14:00 WIB
BAGIKAN
Ilustrasi mi instan. (Image by freepik)
Ilustrasi mi instan. (Image by freepik)

JAKARTA, investor.id – Laba emiten barang konsumer pada kuartal II-2024 diharapkan sesuai perkiraan, tidak termasuk dampak mata uang. Prospeknya tetap netral karena tantangan ekonomi dan lemahnya belanja konsumen. Lantas, bagaimana dengan nasib saham ICBP, INDF, MYOR, AMRT, UNVR, dan CMRY ke depan?

Analis Mirae Asset Sekuritas Indonesia, Abyan H Yuntoharjo mengungkapkan bahwa pertumbuhan setelah Idulfitri melambat, dampak kampanye pemilu juga minimal. “Secara keseluruhan, perusahaan barang konsumer akan mencatatkan pertumbuhan serupa di tengah tantangan ekonomi yang sedang berlangsung,” tulis dia dalam risetnya.

Secara historis, sektor barang konsumer tumbuh 10-13% per tahun selama periode 7 tahun. Sedangkan saat ini, pertumbuhannya satu digit tengah.

ADVERTISEMENT

Dalam kondisi tersebut, Mayora Indah (MYOR), Cisarua Mountain Dairy (CMRY) atau Cimory, dan Sumber Alfaria Trijaya (AMRT) atau Alfamart diprediksi membukukan kinerja yang lebih baik karena ekspor, pemasaran, dan ketahanan di tengah tantangan.

Secara umum, Mirae mempertahankan sikap konservatif terhadap margin emiten barang konsumer pada kuartal II dan semester I-2024 karena volatilitas harga bahan baku.

Di sisi lain, depresiasi rupiah sejak Maret seiring kuatnya perekonomian Amerika Serikat (AS) turut memengaruhi sektor ini berupa kerugian kurs – terutama Indofood CBP (ICBP) dan Indofood Sukses Makmur (INDF) – serta biaya impor bahan baku yang lebih tinggi.

Sementara itu, kebijakan pemerintah dan pemilu dapat berdampak signifikan pada sektor barang konsumer. Walaupun bantuan sosial yang berkelanjutan dan potensi peningkatan pemilu daerah (pilkada) merupakan hal positif dalam jangka pendek, kepemimpinan baru kemungkinan menarik investasi asing, namun juga menimbulkan ketidakpastian dalam kebijakan. Misalnya, program makan siang gratis dan potensi pajak minuman manis.

Selain itu, kenaikan pajak pertambahan nilai (PPN) dan potensi pemotongan subsidi bahan bakar dapat meningkatkan biaya bagi konsumen dan perusahaan. “Secara keseluruhan, arahan pemerintah mungkin akan mengubah pola konsumsi ke arah bisnis makanan skala kecil dan menjauhi barang-barang kemasan,” jelas Abyan.

Rekomendasi dan Target Harga Saham 

Editor: Jauhari Mahardhika

Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id

Follow

Baca Berita Lainnya di Google News

Read Now
BAGIKAN

Berita Terkait


Berita Terkini


International 3 jam yang lalu

Skandal Korupsi Spanyol: Istri PM Pedro Sanchez Diadili dan Paspornya Disita

Istri PM Spanyol Begoña Gómez resmi diadili atas kasus korupsi. Paspor disita dan kubu oposisi mendesak pemerintah untuk mundur.
National 3 jam yang lalu

Ilmuwan Peringatkan Konsekuensi Besar El Nino bagi Cuaca Global

Fenomena El Niño resmi tiba! Ilmuwan peringatkan potensi kekeringan parah dari Indonesia hingga Amazon serta ancaman rekor suhu terpanas.
Lifestyle 4 jam yang lalu

Devin/Faathir Raih Final Perdana BWF Super 300 di Macau Open 2026, Hasil Nyata Pembinaan Berkelanjutan

Capaian ini menandai perkembangan signifikan pasangan muda yang selama ini disiapkan sebagai bagian dari regenerasi bulu tangkis Nasional.
International 4 jam yang lalu

Proyek Ambisius AI Kuras Kas, Investor Pantau Pasar Obligasi

Pembangunan pusat data AI kuras kas perusahaan teknologi. Investor kini wajib pantau suku bunga The Fed dan pasar obligasi global.
Business 4 jam yang lalu

Red Hat Dukung Pengembangan Agentic AI

Red Hat, penyedia solusi open source , baru-baru ini mengumumkan langkah inovatif yang signifikan pada portofolio  Red Hat AI untuk membantu menjembatani kesenjangan antara eksperimen AI dan kendali operasional di tingkat produksi.
International 4 jam yang lalu

Serangan Israel Tewaskan 16 di Lebanon, Dialog AS-Iran di Ujung Tanduk

Gencatan senjata rapuh, serangan Israel tewaskan 16 orang di Lebanon. Masa depan dialog damai nuklir AS-Iran kini kian terancam.
Copyright © 2026 Investor.id
PT. Koran Media Investor Indonesia