Pefindo Turunkan Rating Obligasi Sejumlah Emiten BUMN
JAKARTA, investor.id - Lembaga pemeringkat efek PT Pemeringkat Efek Indonesia (Pefindo) menurunkan peringkat surat utang beberapa emiten yang memiliki afiliasi dengan Badan Usaha Milik Negara (BUMN) hingga akhir September 2025.
Penurunan peringkat ini terutama terjadi pada sektor konstruksi dan properti, dua industri yang sedang menghadapi tekanan berat akibat pelemahan permintaan dan terbatasnya akses pendanaan.
Head of Non-Financial Institution Ratings 2 Pefindo, Yogie Surya Perdana menjelaskan bahwa penurunan peringkat tersebut tidak serta-merta disebabkan oleh status BUMN perusahaan terkait, melainkan lebih karena faktor fundamental industri dan kemampuan keuangan masing-masing emiten.
“Kalau kita berbicara penurunan peringkat pada BUMN, itu tidak bisa disamaratakan. Bukan karena mereka BUMN lalu otomatis peringkatnya turun. Ini kasus per kasus, dan banyak dipengaruhi oleh kinerja sektoral,” ujar Yogie dalam konferensi pers secara virtual, Kamis (16/10/2025).
Menurut Yogie, sektor konstruksi masih menjadi salah satu industri dengan tekanan paling besar sepanjang 2025. Salah satu contohnya adalah PT Wijaya Karya Tbk (WIKA) yang peringkatnya diturunkan dua kali oleh Pefindo — dari sebelumnya BB- menjadi CCC, dan kemudian menjadi Selective Default (SD).
“Kepercayaan investor terhadap sektor konstruksi memang sedang melemah. Ini berdampak langsung terhadap kemampuan emiten untuk melakukan fundraising dan refinancing. Risiko pembiayaan meningkat karena penurunan sentimen pasar,” jelasnya.
Baca Juga:
Patriot Bonds, Harapan Baru Emiten BUMNPefindo mencatat, lemahnya arus kas dan tingginya beban utang jangka pendek membuat emiten konstruksi seperti WIKA menghadapi tantangan besar dalam menjaga likuiditas. Selain itu, proyek-proyek infrastruktur yang membutuhkan pembiayaan besar semakin memperberat posisi keuangan di tengah minimnya dukungan pendanaan baru dari pasar modal.
Selain sektor konstruksi, penurunan rating juga terjadi pada beberapa emiten di sektor properti yang memiliki afiliasi dengan BUMN Karya, seperti PT Adhi Commuter Properti Tbk (ADCP) dan PT PP Properti Tbk (PPRO).
Yogie menilai, meskipun pemerintah telah memperpanjang insentif PPN Ditanggung Pemerintah (DTP) menjadi 100% hingga akhir Desember 2025 dan Bank Indonesia mulai menurunkan suku bunga acuan, dampaknya belum terasa merata ke seluruh pengembang.
“Regulasi yang bersifat supportive seperti PPN DTP dan penurunan suku bunga seharusnya positif bagi sektor properti. Tapi efeknya tidak sama rata karena tergantung pada product mix masing-masing emiten,” paparnya.
ADCP dan PPRO, misalnya, memiliki portofolio proyek yang didominasi oleh pengembangan high-rise seperti apartemen dan kompleks hunian vertikal. Banyak proyek tersebut yang masih dalam bentuk ready stock atau inventory, namun belum berhasil dikonversi menjadi penjualan. “Karena proyek high-rise mereka banyak yang belum laku atau masih tersimpan dalam inventory, maka kemampuan untuk menghasilkan arus kas (cashflow) menjadi terbatas. Kondisi inilah yang mempengaruhi kualitas kredit mereka,” ujar Yogie.
Meski demikian, Pefindo sempat menaikkan peringkat PP Properti dari kategori Selective Default (SD) menjadi CCC, setelah perseroan berhasil mencapai kesepakatan homologasi dengan kreditur dalam proses Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang (PKPU). Namun, secara fundamental, kondisi keuangannya masih perlu diperkuat.
“Upgrade peringkat PPRO lebih karena keberhasilan mereka menyelesaikan PKPU, bukan karena fundamental yang sudah membaik signifikan. Tantangan mereka tetap sama, yakni bagaimana mengubah aset dalam bentuk inventory menjadi cashflow yang kuat,” tutur Yogie.
Tiga Emiten Turun Peringkat
Editor: Natasha Khairunisa
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
FollowBaca Berita Lainnya di Google News
Read NowBerita Terkait
Berita Terkini
Astronot Artemis II Bingkai Keindahan Bumi yang Menakjubkan
Astronot Artemis II bagikan foto Bumi yang menakjubkan dari angkasa. Perjalanan manusia pertama menuju Bulan setelah lebih dari 50 tahun.Banjir Setinggi 30-80 cm Rendam Sejumlah Wilayah di Tangerang Selatan
Hujan deras yang mengguyur sejak pagi membuat sejumlah wilayah di Tangerang Selatan terendam banjir dengan ketinggian 30-80 cm.Kejutkan Dunia, Pemimpin Militer Burkina Faso Lontarkan Pernyataan Kontroversial
Pemimpin militer Burkina Faso Ibrahim Traore lontarkan pernyataan kontroversial, sebut demokrasi membunuh dan minta rakyat lupakan pemilu.KLH dan Pemprov Sulsel Bangun PSEL dengan Investasi Rp 3 Triliun
Kementerian LH bersama Pemprov Sulsel memulai pembangunan Pengolah Sampah Energi Listrik (PSEL) dengan nilai investasi Rp 3 triliun.Strategi Trisula (TRIS) Genjot Kinerja 2026
PT Trisula International Tbk (TRIS) menyiapkan strategi untuk memacu kinerja perusahaan pada tahun 2026.Perkuat Kapasitas Serapan, Bulog akan Bangun 100 Gudang Penyimpanan Baru
Perum Bulog akan menambah 100 gudang penyimpanan untuk memperkuat infrastruktur pascapanen dan meningkatkan kapasitas serapan petani.Tag Terpopuler
Terpopuler






