Sabtu, 4 April 2026

Pefindo Turunkan Rating Obligasi Sejumlah Emiten BUMN

Penulis : Muhammad Ghafur Fadillah
16 Okt 2025 | 15:15 WIB
BAGIKAN
Investor memantau pergerakan saham. (Investor Daily/David Gita Roza)
Investor memantau pergerakan saham. (Investor Daily/David Gita Roza)

JAKARTA, investor.id - Lembaga pemeringkat efek PT Pemeringkat Efek Indonesia (Pefindo) menurunkan peringkat surat utang beberapa emiten yang memiliki afiliasi dengan Badan Usaha Milik Negara (BUMN) hingga akhir September 2025.

Penurunan peringkat ini terutama terjadi pada sektor konstruksi dan properti, dua industri yang sedang menghadapi tekanan berat akibat pelemahan permintaan dan terbatasnya akses pendanaan.

Head of Non-Financial Institution Ratings 2 Pefindo, Yogie Surya Perdana menjelaskan bahwa penurunan peringkat tersebut tidak serta-merta disebabkan oleh status BUMN perusahaan terkait, melainkan lebih karena faktor fundamental industri dan kemampuan keuangan masing-masing emiten.

Advertisement

“Kalau kita berbicara penurunan peringkat pada BUMN, itu tidak bisa disamaratakan. Bukan karena mereka BUMN lalu otomatis peringkatnya turun. Ini kasus per kasus, dan banyak dipengaruhi oleh kinerja sektoral,” ujar Yogie dalam konferensi pers secara virtual, Kamis (16/10/2025).

Menurut Yogie, sektor konstruksi masih menjadi salah satu industri dengan tekanan paling besar sepanjang 2025. Salah satu contohnya adalah PT Wijaya Karya Tbk (WIKA) yang peringkatnya diturunkan dua kali oleh Pefindo — dari sebelumnya BB- menjadi CCC, dan kemudian menjadi Selective Default (SD).

“Kepercayaan investor terhadap sektor konstruksi memang sedang melemah. Ini berdampak langsung terhadap kemampuan emiten untuk melakukan fundraising dan refinancing. Risiko pembiayaan meningkat karena penurunan sentimen pasar,” jelasnya.

Pefindo mencatat, lemahnya arus kas dan tingginya beban utang jangka pendek membuat emiten konstruksi seperti WIKA menghadapi tantangan besar dalam menjaga likuiditas. Selain itu, proyek-proyek infrastruktur yang membutuhkan pembiayaan besar semakin memperberat posisi keuangan di tengah minimnya dukungan pendanaan baru dari pasar modal.

Selain sektor konstruksi, penurunan rating juga terjadi pada beberapa emiten di sektor properti yang memiliki afiliasi dengan BUMN Karya, seperti PT Adhi Commuter Properti Tbk (ADCP) dan PT PP Properti Tbk (PPRO).

Yogie menilai, meskipun pemerintah telah memperpanjang insentif PPN Ditanggung Pemerintah (DTP) menjadi 100% hingga akhir Desember 2025 dan Bank Indonesia mulai menurunkan suku bunga acuan, dampaknya belum terasa merata ke seluruh pengembang.

“Regulasi yang bersifat supportive seperti PPN DTP dan penurunan suku bunga seharusnya positif bagi sektor properti. Tapi efeknya tidak sama rata karena tergantung pada product mix masing-masing emiten,” paparnya.

ADCP dan PPRO, misalnya, memiliki portofolio proyek yang didominasi oleh pengembangan high-rise seperti apartemen dan kompleks hunian vertikal. Banyak proyek tersebut yang masih dalam bentuk ready stock atau inventory, namun belum berhasil dikonversi menjadi penjualan. “Karena proyek high-rise mereka banyak yang belum laku atau masih tersimpan dalam inventory, maka kemampuan untuk menghasilkan arus kas (cashflow) menjadi terbatas. Kondisi inilah yang mempengaruhi kualitas kredit mereka,” ujar Yogie.

Meski demikian, Pefindo sempat menaikkan peringkat PP Properti dari kategori Selective Default (SD) menjadi CCC, setelah perseroan berhasil mencapai kesepakatan homologasi dengan kreditur dalam proses Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang (PKPU). Namun, secara fundamental, kondisi keuangannya masih perlu diperkuat.

“Upgrade peringkat PPRO lebih karena keberhasilan mereka menyelesaikan PKPU, bukan karena fundamental yang sudah membaik signifikan. Tantangan mereka tetap sama, yakni bagaimana mengubah aset dalam bentuk inventory menjadi cashflow yang kuat,” tutur Yogie.

Tiga Emiten Turun Peringkat

Editor: Natasha Khairunisa

Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id

Follow

Baca Berita Lainnya di Google News

Read Now
BAGIKAN

Berita Terkait


Berita Terkini


International 44 detik yang lalu

Astronot Artemis II Bingkai Keindahan Bumi yang Menakjubkan

Astronot Artemis II bagikan foto Bumi yang menakjubkan dari angkasa. Perjalanan manusia pertama menuju Bulan setelah lebih dari 50 tahun.
National 15 menit yang lalu

Banjir Setinggi 30-80 cm Rendam Sejumlah Wilayah di Tangerang Selatan

Hujan deras yang mengguyur sejak pagi membuat sejumlah wilayah di Tangerang Selatan terendam banjir dengan ketinggian 30-80 cm.
International 48 menit yang lalu

Kejutkan Dunia, Pemimpin Militer Burkina Faso Lontarkan Pernyataan Kontroversial

Pemimpin militer Burkina Faso Ibrahim Traore lontarkan pernyataan kontroversial, sebut demokrasi membunuh dan minta rakyat lupakan pemilu.
Business 48 menit yang lalu

KLH dan Pemprov Sulsel Bangun PSEL dengan Investasi Rp 3 Triliun

Kementerian LH bersama Pemprov Sulsel memulai pembangunan Pengolah Sampah Energi Listrik (PSEL) dengan nilai investasi Rp 3 triliun.
Market 1 jam yang lalu

Strategi Trisula (TRIS) Genjot Kinerja 2026

PT Trisula International Tbk (TRIS) menyiapkan strategi untuk memacu kinerja perusahaan pada tahun 2026.
Business 1 jam yang lalu

Perkuat Kapasitas Serapan, Bulog akan Bangun 100 Gudang Penyimpanan Baru

Perum Bulog akan menambah 100 gudang penyimpanan untuk memperkuat infrastruktur pascapanen dan meningkatkan kapasitas serapan petani.

Tag Terpopuler


Copyright © 2026 Investor.id
PT. Koran Media Investor Indonesia