Warga Berburu Emas hingga ke Sungai
JAKARTA, investor.id - Tingginya harga emas memicu gelombang warga dari berbagai daerah di Pulau Lombok untuk mendatangi aliran air di sela perbukitan Desa Serage, Kecamatan Praya Barat Daya, Kabupaten Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat (NTB).
Mereka berburu serpihan emas yang diyakini terkandung di aliran sungai tersebut.
Pantauan di lokasi, ratusan warga tampak memadati bantaran sungai dengan peralatan sederhana seperti dulang, sekop, dan ember. Aktivitas pendulangan ini ramai dilakukan sejak pagi hingga sore hari, terutama saat akhir pekan dan hari libur.
Seorang warga, yakni Samsul Hadi, mengaku datang bersama keluarga hanya untuk mencoba peruntungan. Ia tergiur cerita sesama warga yang disebut-sebut berhasil mendapatkan emas hingga dua gram.
“Libur, ya kita coba-coba. Siapa tahu ada nasib, dapat. Soalnya ada cerita, ada yang dapat dua gram,” ujar Samsul di Desa Serage, Lombok Tengah, NTB, Rabu (4/2/2026).
Namun, hasil yang ia peroleh masih jauh dari harapan. Seharian mendulang, Samsul hanya mendapatkan butiran emas sangat kecil, menyerupai pasir.
“Untuk saat ini belum ada penampakan yang besar. Dapat tadi titik-titik kecil saja, kayak pasir,” katanya.
Samsul mengaku baru pertama kali datang ke lokasi tersebut. Meski hasilnya minim, ia tak menutup kemungkinan akan kembali jika mendengar kabar ada warga lain yang memperoleh emas lebih banyak.
“Kalau memang ada yang dapat, ya pasti balik lagi,” ucapnya.
Fenomena ini membuat aparat kepolisian turun langsung ke lokasi. Bhabinkamtibmas Desa Serage, Aipda Indra Jaya Kusuma, mengatakan pihaknya bersama Babinsa telah berulang kali memberikan imbauan kepada warga agar menghentikan aktivitas pendulangan dan penggalian emas.
Menurut Indra, kegiatan tersebut berpotensi menimbulkan kerusakan lingkungan, mulai dari erosi tanah hingga risiko longsor dan banjir.
“Terkait kegiatan masyarakat yang melakukan pendulangan maupun penggalian emas, kami hanya bisa menghimbau untuk menghentikan kegiatannya. Kami khawatir kegiatan ini akan menimbulkan kerusakan alam sehingga menyebabkan tanah longsor dan banjir,” tegas Indra.
Didorong Faktor Ekonomi
Indra mengakui imbauan yang dilakukan secara persuasif dan humanis belum sepenuhnya direspons warga. Faktor ekonomi dan harapan mendapatkan emas menjadi alasan utama masyarakat tetap bertahan di lokasi.
“Kayaknya kurang direspon sama warga kita ini. Tapi tetap kami lakukan pendekatan secara humanis,” tambahnya.
Hingga kini, belum ada data resmi terkait jumlah pasti pendulang maupun besaran emas yang berhasil diperoleh warga. Aparat desa dan kepolisian masih terus melakukan pemantauan sekaligus mengedukasi masyarakat agar tidak melakukan aktivitas yang dapat merusak lingkungan.
Pemerintah desa juga diimbau untuk mengambil langkah antisipatif guna mencegah dampak ekologis yang lebih luas, mengingat kawasan tersebut berada di wilayah perbukitan yang rawan longsor saat musim hujan.
Editor: Natasha Khairunisa
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
FollowBaca Berita Lainnya di Google News
Read Now






