Tensi AS-Iran Memanas, Harga Emas Kembali Meroket Dekati Level US$ 5.100
SINGAPURA, investor.id – Harga emas dunia kembali bergerak perkasa pada perdagangan Rabu (4/2/2026), mendekati level US$ 5.100 per troy ons. Kenaikan ini dipicu oleh meningkatnya permintaan aset aman (safe haven) menyusul ketegangan geopolitik terbaru antara Amerika Serikat (AS) dan Iran yang kembali memanas.
Berdasarkan data pasar pada pukul 06.55 GMT, harga emas di pasar spot melesat 2,8% ke level US$ 5.076,01 per ons. Lonjakan ini menyusul performa impresif pada Selasa (3/2/2026), di mana emas mencatatkan kenaikan harian sebesar 5,9% yang menjadi kenaikan satu hari terbesar sejak November 2008.
Sementara itu, kontrak berjangka emas AS untuk pengiriman April 2026 terpantau naik 3,3% ke posisi US$ 5.097,20 per ons, menurut laporan Reuters, Rabu (4/2/2026)
Pemicu Geopolitik dan Analisis Pasar
Sentimen pasar berubah agresif setelah militer Amerika Serikat melaporkan telah menembak jatuh sebuah pesawat nirawak (drone) milik Iran pada Selasa. Drone tersebut dianggap melakukan manuver berbahaya saat mendekati kapal induk USS Abraham Lincoln di Laut Arab.
Analis dari ANZ Soni Kumari menilai, kembalinya kekuatan harga emas merupakan hal yang wajar. "Setelah reli yang sangat tajam, koreksi memang diperkirakan terjadi. Namun, dengan kembalinya harga emas saat ini, terlihat bahwa fundamental pasar belum banyak berubah," ungkapnya.
Optimisme juga datang dari Goldman Sachs yang menyebut adanya potensi kenaikan signifikan melampaui prediksi akhir tahun mereka di angka US$ 5.400. Hal ini didukung oleh langkah bank sentral dunia yang terus menumpuk cadangan emas serta meningkatnya pembelian ETF emas oleh investor swasta.
Prediksi Harga Emas Menuju US$ 6.000?
Analis riset senior dari IndusInd Securities Jigar Trivedi bahkan memprediksi harga emas akan terus mendaki. "Kami memperkirakan level US$ 5.600 akan tercapai pada akhir paruh pertama tahun ini atau sekitar akhir April 2026. Target harga akhir tahun kami berada di level US$ 6.000 per ons," jelasnya.
Tidak hanya emas, perak di pasar spot juga melonjak 5% menjadi US$ 89,38 per ons. Logam mulia lainnya seperti platinum naik 4,2% menjadi US$ 2.302,56 dan paladium menguat 3,5% ke posisi US$ 1.794,15.
Saat ini, pelaku pasar tengah menantikan rilis data penggajian swasta ADP untuk melihat arah kebijakan The Federal Reserve (The Fed), di tengah tertundanya laporan ketenagakerjaan resmi Januari akibat penutupan pemerintahan sebagaian (government shutdown) di AS.
Mengapa Dunia Kembali Berburu Emas?
Lonjakan harga emas hingga menembus level psikologis di atas US$ 5.000 pada awal 2026 bukan sekadar fluktuasi pasar biasa, melainkan manifestasi dari kumulasi ketidakpastian global.
Secara historis, emas selalu dianggap sebagai "pelabuhan terakhir" saat mata uang fiat dan pasar saham goyah akibat perang atau ketegangan diplomatik. Insiden penembakan drone Iran di Laut Arab hanyalah pemantik terbaru dari bara api geopolitik yang sudah lama menyala di Timur Tengah.
Selain faktor konflik, fenomena ini juga dipicu oleh strategi diversifikasi cadangan devisa oleh berbagai bank sentral dunia yang mulai mengurangi ketergantungan pada dolar AS.
Di sisi lain, kondisi internal Amerika Serikat yang mengalami penutupan pemerintahan menciptakan kekosongan data ekonomi yang valid, memaksa investor beralih ke aset berwujud yang nilainya tidak dapat dimanipulasi oleh kebijakan politik singkat.
Pergerakan harga menuju angka US$ 6.000 mencerminkan ekspektasi inflasi global dan ketidakstabilan politik akan menjadi norma baru dalam beberapa tahun ke depan, menjadikan logam mulia sebagai standar utama dalam menjaga nilai kekayaan.
Editor: Grace El Dora
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
FollowBaca Berita Lainnya di Google News
Read Now






