Harga Emas Nangkring di US$ 5.000 Lagi, Tapi Volatilitas Masih Mengintai
JAKARTA, investor.id – Harga emas kembali menembus level psikologis US$ 5.000 per ons troi, setelah sempat terguncang oleh aksi jual tajam sehari sebelumnya. Meski mampu pulih, para analis mengingatkan bahwa gejolak harga logam mulia masih jauh dari kata selesai.
Sepanjang awal pekan, emas dan perak relatif bergerak tenang di sekitar level kunci masing-masing, yakni US$ 5.000 dan US$ 80 per ons. Namun pada Kamis, pasar dikejutkan oleh tekanan jual besar-besaran. Harga emas anjlok 3%, sementara perak merosot lebih dari 10% dalam satu sesi.
Senior Market Analyst di Pepperstone Michael Brown menyebut, pergerakan tersebut cukup janggal karena tidak dipicu katalis yang jelas. Menurut dia, pemulihan harga yang terjadi saat ini belum cukup menjadi sinyal bahwa volatilitas telah berakhir. “Kita masih perlu melihat fase konsolidasi sebelum emas memulai reli lanjutan,” ujarnya dikutip dari Kitco.
Sentimen positif muncul setelah data inflasi Amerika Serikat (AS) dirilis lebih rendah dari perkiraan. Biro Statistik Tenaga Kerja AS (Bureau of Labor Statistics) melaporkan inflasi tahunan berdasarkan CPI pada Januari sebesar 2,4%, turun dari 2,7% pada Desember dan lebih rendah dari ekspektasi 2,5%.
Data tersebut mendorong spekulasi bahwa The Fed memiliki ruang untuk menurunkan suku bunga. Harga emas spot terakhir diperdagangkan di US$ 5.043,11 per ons, naik 2,5% secara harian dan 1,65% dibanding pekan lalu. Sementara itu, harga perak berada di US$ 77,43 per ons, naik 2,97% dalam sehari, tetapi masih tertahan di bawah level US$ 80.
Berdasarkan CME FedWatch Tool, peluang pemangkasan suku bunga baru diperkirakan terjadi pada Juni. Bahkan, pasar kini memperhitungkan kemungkinan 50% adanya pemangkasan suku bunga ketiga hingga akhir 2026.
Senior Market Analyst di FXTM Lukman Otunuga menilai, level US$ 5.000 per ons troi menjadi area resistensi psikologis penting. Jika mampu ditembus secara meyakinkan, harga emas berpeluang naik ke US$ 5.050 – 5.100 per ons troi. Sebaliknya, jika kembali melemah di bawah US$ 5.000 per ons troi, harga bisa terkoreksi menuju US$ 4.900 per ons troi.
Pasar Saham dan Risiko Likuiditas
Selain kebijakan moneter, pergerakan emas juga dipengaruhi tekanan di pasar saham. Indeks S&P 500 masih kesulitan menembus level 7.000 poin. Kekhawatiran bahwa euforia teknologi berbasis kecerdasan buatan (AI) tidak berkelanjutan turut membebani sentimen investor.
Meski dikenal sebagai aset safe haven, emas juga merupakan instrumen likuid yang kerap dijual investor untuk memenuhi kebutuhan margin ketika pasar saham bergejolak. Kondisi ini bisa memicu tekanan jangka pendek.
Dari sisi global, pasar China akan tutup pekan depan karena perayaan Tahun Baru Imlek, yang berpotensi mengurangi volume transaksi. Padahal, permintaan dari China selama ini menjadi penopang utama reli emas, bahkan di tengah gejolak harga.
Analis komoditas di Commerzbank Barbara Lambrecht memperkirakan, emas akan bergerak dalam fase konsolidasi selama libur panjang tersebut.
Pekan depan, sejumlah data penting AS akan menjadi perhatian pasar, antara lain data manufaktur, perumahan, hingga produk domestik bruto (PDB) kuartal IV dan indeks inflasi inti PCE.
Senior Market Analyst di FXEmpire.com Christopher Lewis menilai, fundamental emas masih kuat, tetapi pasar belum memiliki arah yang jelas. Menurut dia, koreksi jangka pendek justru bisa menjadi peluang beli baru. “Kita mungkin bergerak sideways untuk sementara waktu. Namun dalam jangka menengah, tidak mengejutkan jika harga kembali menguji rekor tertinggi,” katanya.
Editor: Indah Handayani
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
FollowBaca Berita Lainnya di Google News
Read Now






