Arah IHSG setelah Meletus Perang AS-Israel Kontra Iran
JAKARTA, investor.id – Eskalasi konflik hingga meletusnya perang antara Amerika Serikat (AS)-Israel melawan Iran bisa mengguncang pasar modal Indonesia. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berisiko terkoreksi tajam, seiring langkah investor yang mulai beralih dari aset berisiko ke instrumen aman (safe haven).
Pengamat Pasar Modal sekaligus Founder Republik Investor, Hendra Wardana menjelaskan bahwa tekanan terhadap IHSG datang dari dua faktor utama.
“Pertama, potensi arus keluar modal (capital outflow) karena investor asing mengurangi eksposur di emerging market, termasuk Indonesia. Kedua, risiko inflasi impor akibat lonjakan harga energi,” ungkap Hendra saat dihubungi, Minggu (1/3/2026).
Potensi gangguan pasokan minyak di Selat Hormuz—jalur yang melayani 30% perdagangan minyak global—menjadi kekhawatiran utama pasar. Hendra memperingatkan bahwa gangguan pada arus kapal tanker di kawasan tersebut dapat memicu lonjakan harga minyak yang berimbas pada kinerja emiten.
“Jika harga minyak bertahan tinggi, beban biaya produksi meningkat dan margin emiten bisa tertekan. Dalam kondisi seperti ini, IHSG berpotensi bergerak melemah,” imbuhnya.
Secara teknikal, IHSG diprediksi akan menguji level support klasik di 8.133. Jika level tersebut ditembus, area psikologis 8.000 menjadi titik pertahanan berikutnya, sementara resistance terdekat berada di posisi 8.300. Pada penutupan perdagangan Jumat (27/2/2026), IHSG tercatat stagnan di level 8.235,48.
Meski demikian, sektor berbasis komoditas seperti emas dan minyak diprediksi menjadi penopang di tengah gejolak global. Hendra merekomendasikan strategi trading buy untuk sejumlah saham, di antaranya MDKA (target harga Rp 3.900), ANTM (target harga Rp 4.500), ELSA (target harga Rp 900), ENRG (target harga Rp 1.900), serta SOCI (target harga Rp 750). Adapun AKRA direkomendasikan untuk speculative buy dengan target harga Rp 1.400.
Hendra menekankan agar investor tetap disiplin dan selektif. Bagi investor konservatif, strategi wait and see dianggap paling relevan sambil memantau pergerakan arus dana asing.
“Dalam situasi geopolitik yang panas, kunci bukan sekadar masuk atau keluar pasar, melainkan kemampuan membaca rotasi sektor dan menjaga risiko agar tetap terkendali,” tutup Hendra.
Editor: Prisma Ardianto
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
FollowBaca Berita Lainnya di Google News
Read Now






