Sabtu, 4 April 2026

Nilai Tukar Rupiah Hari Ini, Senin 2 Maret 2026: Melorot

Penulis : Indah Handayani
2 Mar 2026 | 09:21 WIB
BAGIKAN
Pegawai menunjukkan uang rupiah dan dolar AS di Bank Syariah Indonesia, Tangerang Selatan, Banten, Rabu (21/1/2026). (ANTARA FOTO/Hafidz Mubarak A)
Pegawai menunjukkan uang rupiah dan dolar AS di Bank Syariah Indonesia, Tangerang Selatan, Banten, Rabu (21/1/2026). (ANTARA FOTO/Hafidz Mubarak A)

JAKARTA, investor.id - Nilai tukar (kurs) rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) melorot pada Senin (2/3/2026), seiring meningkatnya ketegangan geopolitik global yang mendorong penguatan dolar AS dan memicu arus modal keluar dari pasar negara berkembang.

Berdasarkan data Bloomberg pada pukul 09.04 WIB di pasar spot exchange, nilai tukar rupiah hari ini melorot 45 poin (0,27%) ke level Rp 16.832 per dolar AS. Sementara itu, indeks dolar terlihat naik 0,21% ke level 97,82.

Sedangkan pada perdagangan Jumat (27/2/2026), nilai tukar rupiah terhadap dolar AS ditutup melemah 34 poin di level Rp 16.793.

Advertisement

Kepala Ekonom Bank Permata, Josua Pardede mengatakan, peningkatan ketegangan geopolitik global umumnya memicu pergeseran portofolio investor dari aset berisiko (risk assets) ke aset safe haven seperti dolar AS (USD) dan obligasi pemerintah AS. Kondisi ini membuat arus modal ke emerging markets berpotensi melemah dalam jangka pendek.

"Dampaknya bagi Indonesia umumnya muncul sebagai tekanan arus modal keluar, pelemahan rupiah, dan kenaikan imbal hasil surat berharga negara karena investor meminta kompensasi risiko yang lebih tinggi," kata Josua saat dihubungi B-Universe, dikutip pada Senin (2/3/2026).

Josua menjelaskan, pada fase awal eskalasi, pelemahan rupiah biasanya masih terbatas apabila pelaku pasar menilai konflik bersifat temporer dan tidak meluas. Namun tekanan dapat meningkat signifikan jika konflik berlarut-larut atau memicu gangguan serius pada rantai pasok energi global.

Ketegangan yang mendorong penguatan dolar AS secara luas dan kenaikan imbal hasil (yield) obligasi pemerintah AS juga dapat mengurangi daya tarik aset keuangan domestik. Selisih imbal hasil (yield spread) yang menyempit serta meningkatnya premi risiko membuat investor global cenderung melakukan penyesuaian portofolio.

"Tekanan dapat membesar bila konflik berlarut atau meluas dan mendorong penguatan dolar serta kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah AS," jelasnya.

Eskalasi Geopolitikal Global

Editor: Indah Handayani

Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id

Follow

Baca Berita Lainnya di Google News

Read Now
BAGIKAN

Berita Terkait


Berita Terkini


International 4 menit yang lalu

Gedung Big Tech AS Oracle Rusak Akibat Rudal Iran

Gedung Big Tech AS Oracle Dubai rusak akibat serpihan rudal Iran. 4 warga Bahrain terluka saat serangan udara kian meluas di kawasan Teluk.
International 27 menit yang lalu

Astronot Artemis II Bingkai Keindahan Bumi yang Menakjubkan

Astronot Artemis II bagikan foto Bumi yang menakjubkan dari angkasa. Perjalanan manusia pertama menuju Bulan setelah lebih dari 50 tahun.
National 42 menit yang lalu

Banjir Setinggi 30-80 cm Rendam Sejumlah Wilayah di Tangerang Selatan

Hujan deras yang mengguyur sejak pagi membuat sejumlah wilayah di Tangerang Selatan terendam banjir dengan ketinggian 30-80 cm.
International 1 jam yang lalu

Kejutkan Dunia, Pemimpin Militer Burkina Faso Lontarkan Pernyataan Kontroversial

Pemimpin militer Burkina Faso Ibrahim Traore lontarkan pernyataan kontroversial, sebut demokrasi membunuh dan minta rakyat lupakan pemilu.
Business 1 jam yang lalu

KLH dan Pemprov Sulsel Bangun PSEL dengan Investasi Rp 3 Triliun

Kementerian LH bersama Pemprov Sulsel memulai pembangunan Pengolah Sampah Energi Listrik (PSEL) dengan nilai investasi Rp 3 triliun.
Business 2 jam yang lalu

PTPP Perkuat Fundamental Keuangan melalui Langkah Transformasi dan Penyesuaian Berbasis Prudence

PTPP memperkuat langkah transformasi bisnis dan fondasi keuangan Perseroan sebagai bagian dari upaya menjaga keberlanjutan.

Tag Terpopuler


Copyright © 2026 Investor.id
PT. Koran Media Investor Indonesia