UBS dan Goldman Sachs Kompak Naikkan Proyeksi Harga Minyak
JAKARTA, investor.id – Dua raksasa keuangan global, UBS dan Goldman Sachs, kompak menaikkan proyeksi harga minyak mentah Brent untuk 2026. Revisi ini didorong eskalasi konflik di Timur Tengah serta gangguan arus pasokan melalui Selat Hormuz yang kini nyaris tertutup.
Dikutip dari Reuters, UBS pada Rabu (4/3/2026) menaikkan proyeksi rata-rata harga Brent kuartal I-2026 menjadi US$71 per barel. Proyeksi tersebut mengindikasikan harga bisa berada di kisaran US$80 per barel pada Maret. Untuk keseluruhan 2026, UBS memperkirakan Brent rata-rata di level US$72 per barel, naik US$10 dari estimasi sebelumnya.
Meski demikian, UBS belum mengubah proyeksi untuk tahun-tahun berikutnya, yakni US$ 70 per barel pada 2027 dan US$ 75 per barel pada 2028. Namun, bank tersebut menilai risiko harga cenderung mengarah ke atas (upside risk).
UBS bahkan memperingatkan, serangan terhadap infrastruktur energi regional, seperti fasilitas LNG Qatar, berpotensi mendorong harga Brent menembus US$ 90 per barel. Jika penutupan Selat Hormuz berlangsung lebih lama, harga minyak bisa melampaui US$ 100 per barel.
“De-eskalasi dalam waktu dekat memang bisa mengikis premi risiko. Namun, kecil kemungkinan harga kembali ke level US$ 60 per barel seperti awal tahun,” tulis UBS dalam catatannya.
Pada perdagangan terbaru, Brent berada di kisaran US$82 per barel setelah mencatatkan penutupan tertinggi sejak Januari 2025. Sementara minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS diperdagangkan di kisaran US$ 74–75 per barel, level tertinggi sejak Juni.
Goldman Sachs Lebih Agresif
Editor: Indah Handayani
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
FollowBaca Berita Lainnya di Google News
Read Now






