Harga Emas Jatuh 1% Lebih, Pasar Tunggu Data Penting AS
JAKARTA, investor.id - Harga emas dunia jatuh 1% lebih pada perdagangan Senin (9/3/2026). Pelemahan ini diperkirakan akan berlanjut seiring menguatnya Dolar Amerika Serikat (AS) serta meningkatnya kekhawatiran inflasi global.
Harga emas hari ini terlihat jatuh 1,55% ke level US$ 5.091,23 per ons troi saat berita ditulis, setelah sebelumnya sempat menguat pada akhir pekan lalu.
Analis Dupoin Futures Andy Nugraha mengatakan, tekanan terhadap logam mulia masih cukup kuat seiring dengan penguatan mata uang dolar dan kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah AS. Berdasarkan analisis teknikal, pergerakan emas saat ini masih menunjukkan kecenderungan bearish dalam timeframe H1.
Menurut Andy, kombinasi pola candlestick yang terbentuk bersama indikator Moving Average mengindikasikan bahwa tekanan jual masih mendominasi pasar. “Kondisi ini menunjukkan bahwa momentum penurunan masih berpotensi berlanjut apabila tidak terdapat katalis kuat yang mampu mendorong harga emas kembali menguat dalam waktu dekat,” ungkap Andy dalam risetnya, Senin (9/3/2026).
Dari sisi fundamental, Andy memaparkan, pasar saat ini juga tengah mencermati berbagai faktor eksternal yang dapat memengaruhi arah pergerakan emas. Salah satunya adalah lonjakan harga minyak mentah yang memicu kekhawatiran inflasi di AS.
“Kenaikan inflasi berpotensi membuat The Fed mempertahankan suku bunga pada level tinggi untuk jangka waktu yang lebih lama,” tambah Andy.
Menurut Andy, kebijakan suku bunga tinggi biasanya menjadi faktor negatif bagi emas karena logam mulia tidak memberikan imbal hasil seperti instrumen investasi berbunga. Oleh karena itu, investor cenderung beralih ke aset berbasis dolar yang menawarkan imbal hasil lebih menarik.
Selain itu, lanjut dia, pelaku pasar juga menunggu rilis data inflasi Consumer Price Index (CPI) AS yang dijadwalkan pada Rabu (11/3/2026). Data tersebut akan menjadi indikator penting untuk mengukur arah kebijakan moneter The Fed ke depan.
Saat ini, Andy memaparkan, banyak ekonom memperkirakan bahwa bank sentral AS kemungkinan akan mempertahankan suku bunga pada pertemuan 17–18 Maret mendatang. Bahkan sebagian analis memprediksi bahwa pemangkasan suku bunga baru berpotensi terjadi pada pertengahan tahun 2026, sekitar bulan Juni atau Juli.
Data Ketenagakerjaan AS
Editor: Indah Handayani
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
FollowBaca Berita Lainnya di Google News
Read Now






