Minggu, 5 April 2026

Saham BBCA Jangan-jangan Jadi Segini

Penulis : Thresa Sandra Desfika
9 Mar 2026 | 12:57 WIB
BAGIKAN
Ilustrasi BCA (BBCA). (Foto: Istimewa)
Ilustrasi BCA (BBCA). (Foto: Istimewa)

JAKARTA, investor.id - Saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) atau BCA diparkir minus 1,79% ke Rp 6.875 pada akhir sesi I perdagangan Senin (9/3/2026). Saham emiten bank swasta terbesar di Indonesia ini mengalami tekanan jual.

Sebanyak 78,32 juta saham BCA (BBCA) diperdagangkan, frekuensi 32.805 kali, dan nilai transaksi Rp 539,09 miliar. Mengacu pada data di aplikasi Stockbit Sekuritas, saham BBCA membukukan net sell Rp 119,7 miliar.

Sepanjang pekan lalu, saham BCA juga mayoritas memerah dengan hanya dua kali hijau. Investor asing membukukan net sell  di saham ini Rp 707,31 miliar pada periode 2-6 Maret 2026.

ADVERTISEMENT

Dalam analisisnya untuk perdagangan hari ini, MNC Sekuritas sempat memperkirakan saham BBCA masih bisa melemah ke kisaran 6.600-6.700, sehingga merekomendasikan buy on weakness di area tersebut.

Target harga pertamanya 7.275, dan target harga kedua 7.575. Stoploss saham BBCA jika turun ke bawah level 6.375.

Analis BRI Danareksa Sekuritas (BRIDS), Victor Stefano dan Naura Reyhan Muchlis dalam risetnya menyatakan prospek saham BBCA dinilai tetap solid meski industri perbankan menghadapi tantangan penurunan margin bunga bersih pada 2026. 

BRIDS memprediksi BBCA akan mencatatkan Pendapatan Operasional Sebelum Pencadangan (PPOP) sebesar Rp 79,58 triliun pada 2026. Naik 5,73% dari 2025. Adapun laba bersih diprediksi menembus Rp 60 triliun, atau meningkat 5,35% dari tahun sebelumnya.

BRIDS memperkirakan margin bunga bersih (NIM) BCA berpotensi mendapatkan tantangan pada 2026 seiring penurunan yield kredit. Manajemen BBCA memproyeksikan NIM berada di kisaran 5,4%–5,6% dengan pertumbuhan kredit sekitar 8%–10%, serta biaya kredit yang relatif stabil di kisaran 0,4%–0,5%.

Baca juga: Titik Tertinggi Saham BBCA 

Untuk menjaga profitabilitas, BCA diperkirakan akan mengandalkan peningkatan efisiensi operasional serta pertumbuhan pendapatan berbasis komisi dan fee. Rasio biaya terhadap pendapatan (CIR) diproyeksikan membaik ke kisaran 31%–33% dalam beberapa tahun ke depan. 

“Kami mempertahankan rekomendasi Beli untuk BBCA dengan target harga Rp 11.400, yang lebiih tinggi dari sebelumnya Rp 10.800,” tulis Victor dan Naura dalam riset, Jumat (6/3/2026). 

Editor: Theresa Sandra Desfika

Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id

Follow

Baca Berita Lainnya di Google News

Read Now
BAGIKAN

Berita Terkait


Berita Terkini


National 3 jam yang lalu

Prabowo dan SBY Lepas Jenazah 3 Prajurit TNI yang Gugur di Lebanon

Presiden Prabowo dan mantan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono turut melepas tiga prajurit TNI yang gugur di Lebanon untuk dimakamkan.
InveStory 3 jam yang lalu

Inspiratif! Rayyan Shahab Diterima 15 Kampus Top Dunia Tanpa Kursus Bahasa Inggris

Siswa MAN IC Pekalongan, Ahmad Ali Rayyan Shahab mencatat prestasi luar biasa. Di usia 17 tahun dia diterima 15 kampus dunia.
Business 3 jam yang lalu

Private AI Bantu Dunia Bisnis Kurangi Risiko 

- Tekanan terhadap perusahaan Indonesia saat ini terasa dari dua arah sekaligus. Di satu sisi, semua orang bicara soal AI, mulai dari chatbot, analitik prediktif, sampai agen AI yang bisa mengotomatisasi proses bisnis.
Business 4 jam yang lalu

MPMX Raih Laba Bersih Rp 462 Miliar pada 2025

PT Mitra Pinasthika Mustika Tbk (MPMX), perusahaan konsumer  otomotif dan transportasi di Indonesia hari ini melaporkan hasil kinerja keuangan  untuk tahun buku 2025 yang telah diaudit. Perseroan tetap mempertahankan fundamental  bisnis yang solid di tengah dinamika kondisi pasar.  
Market 6 jam yang lalu

Pizza Hut (PZZA) Balikkan Rugi Jadi Laba

PT Sarimelati Kencana Tbk (PZZA) membalikkan kinerja keuangan pada 2025 dengan mencetak laba bersih tahun berjalan sebesar Rp 24,75 miliar.
National 7 jam yang lalu

Jenazah Prajurit TNI Gugur dalam Misi Perdamaian UNIFIL Tiba di Indonesia

Tiga jenazah prajurit TNI yang gugur jalankan tugas di Lebanon tiba di tanah air dan dijadwalkan akan diterima Presiden Prabowo Subianto.
Copyright © 2026 Investor.id
PT. Koran Media Investor Indonesia