Ramadan Bikin Pasar Sepi? Ini Fakta yang Sering Disalahpahami Trader
JAKARTA, investor.id – Banyak trader retail beranggapan bahwa bulan Ramadan identik dengan pasar keuangan yang sepi dan peluang trading yang menurun. Namun, anggapan tersebut dinilai kurang tepat.
Ramadan tidak membuat pasar berhenti bergerak, melainkan hanya mengubah pola partisipasi sebagian pelaku pasar. Aktivitas perdagangan global tetap berlangsung karena pusat keuangan dunia seperti London, New York, dan Tokyo tidak terpengaruh langsung oleh Ramadan.
Dalam keterangannya, JustMarkets menyebut, faktor utama penggerak pasar seperti kebijakan bank sentral, inflasi, serta perkembangan geopolitik tetap memengaruhi pergerakan berbagai instrumen keuangan, mulai dari pasangan mata uang, emas, hingga indeks global.
“Perubahan yang biasanya terjadi selama Ramadan berkaitan dengan pola likuiditas pasar, terutama di kawasan dengan mayoritas penduduk Muslim. Aktivitas trading cenderung lebih rendah pada siang hari dan meningkat kembali setelah waktu berbuka puasa,” tulis JustMarkets dalam keterangannya, Jumat (13/3/2026).
Kondisi ini dapat memicu beberapa dinamika pasar, seperti jendela partisipasi yang lebih sempit, pergerakan harga yang lebih lambat pada periode tertentu, hingga lonjakan volatilitas saat likuiditas kembali meningkat.
Platform trading seperti JustMarkets menilai pemahaman terhadap siklus likuiditas lebih penting dibanding sekadar menganggap pasar akan sepi selama Ramadan. Salah satu kesalahan yang kerap terjadi selama Ramadan adalah menurunnya disiplin trading karena asumsi bahwa pasar tidak akan bergerak signifikan.
“Hal ini dapat memicu manajemen risiko yang buruk, penggunaan leverage berlebihan, atau membuka posisi tanpa strategi yang jelas,” tegas JustMarkets.
Periode Paling Likuid
Selain itu, JustMarkets menegaskan, sebagian trader juga kerap mengabaikan waktu tumpang tindih sesi perdagangan global, seperti sesi London dan New York yang tetap menjadi periode paling likuid di pasar forex. Padahal, rilis data ekonomi penting dari Amerika Serikat (AS), Eropa, maupun China masih berpotensi memicu pergerakan harga besar meskipun partisipasi pasar di beberapa kawasan berkurang.
Alih-alih menghindari pasar, banyak trader profesional justru menyesuaikan strategi selama Ramadan. Beberapa fokus pada peluang dengan probabilitas tinggi saat likuiditas kuat, sementara lainnya menggunakan strategi swing trading yang tidak terlalu bergantung pada pergerakan harga intraday.
Dengan pendekatan tersebut, Ramadan tidak selalu menjadi periode yang sepi bagi pasar. Bagi trader yang mampu memahami perubahan ritme dan menyesuaikan strategi, bulan ini tetap dapat menghadirkan peluang di pasar keuangan global.
Editor: Indah Handayani
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
FollowBaca Berita Lainnya di Google News
Read Now

