BUMI Bersiap untuk Akuisisi Lagi
JAKARTA, investor.id – PT Bumi Resources Tbk (BUMI), emiten Grup Bakrie dan Salim, bakal mengumumkan akuisisi lanjutan dalam enam sampai dua belas bulan ke depan. Aksi korporasi BUMI ini dilakukan demi menunjang agenda perseroan menyeimbangkan portofolio bisnis batu bara termal dan non batu bara termal hingga 2031.
Direktur Bumi Resources (BUMI), Christopher Fong mengungkapkan bahwa perseroan tengah gencar menjalankan strategi diversifikasi bisnis secara transformatif, dengan fokus melakukan transisi dari bisnis batu bara termal ke bisnis non batu bara termal.
Meski perseroan mengurangi eksposur terhadap bisnis batu bara termal, Christopher menegaskan bahwa BUMI akan tetap memastikan kinerja bisnis batu bara termal berjalan dengan baik.
“Fokus kami sekarang pada logam dan mineral serta kegiatan hilirisasi. Kami akan mengumumkan akuisisi lebih lanjut dalam enam hingga dua belas bulan ke depan di sektor mineral dan kemungkinan juga di sektor lainnya,” ujar Christopher dalam paparan publik perseroan, Senin (1/12/2025).
Dengan begitu, Christopher memproyeksikan, secara konsolidasian BUMI akan mencapai 50:50 dari sisi aset dan pendapatan baik, dari batu bara termal maupun non batu bara termal pada 2031.
Akuisisi Laman Mining
Langkah Bumi Resources (BUMI) mendiversifikasi pendapatan tampak dari aksinya merambah bisnis mineral, terutama emas dan tembaga, dengan mengakuisisi tambang emas dan tembaga Wolfram Limited (WFL) di Queensland, Australia, dengan nilai transaksi sekitar Rp 698 miliar.
Pada kesempatan tersebut, Direktur BUMI, Rio Supin menambahkan bahwa tambang Wolfram yang diakuisisi perseroan nanti hasil akhirnya berbentuk konsentrat.
Di luar itu, BUMI juga melihat potensi lain di bisnis aluminium dan alumina dengan memulai proses akuisisi tambang bauksit PT Laman Mining di Kalimantan Barat yang diharapkan ke depannya dapat memproduksi alumina.
“Jadi, untuk bisnis non emas, saat ini BUMI memang fokus pada tembaga dan bauksit,” ucap Rio.
Untuk bisnis batu bara termal, BUMI memaparkan bahwa pada 2026, sebagian besar akan relatif sama dengan tahun 2025. Persamaan ini terlihat dari target produksi batu bara BUMI yang cenderung stagnan.
Direktur BUMI, Maringan M Ido Hotna Hutabarat menyampaikan, panduan kinerja BUMI pada 2026 kurang lebih sama dengan tahun ini yang masing-masing akan dikontribusi oleh PT Kaltim Prima Coal (KPC) dan PT Arutmin Indonesia selaku anak usaha.
“KPC sekitar 53,5 juta ton. Kemudian, Arutmin sekitar 22-23 juta ton. Jadi, total (produksi) antara 77 juta sampai 78 juta ton di tahun 2026,” pungkas Ido.
Editor: Jauhari Mahardhika
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
FollowBaca Berita Lainnya di Google News
Read Now






