Dahlan Iskan, Spanduk Demo Jadi Kenang-kenangan
Berawal dari industri media, Dahlan Iskan yang tidak memiliki latar belakang teknis di dunia kelistrikan, sukses mengubah citra PT Perusahaan Listrik Negara (PLN) yang selama ini lebih terkenal dengan korupsi dan kebiasaan ‘biarpet’. Semua itu diraih bukan dengan cara mudah. Bahkan dia sempat didemo pada hari pertama memimpin perusahaan listrik pelat merah ini.
“Hari pertama saya di PLN, saya di demo, kantor saya disegel, banyak spanduk-spanduk yang menolak kehadiran saya,” ujar Dahlan kepada Investor Daily di dalam perjalanan saat melakukan kunjungan kerja di Semarang, baru-baru ini.
Meski demikian, pria kelahiran Magetan, 59 tahun lalu ini tak menyerah. “Saya tidak marah juga tidak mencoba untuk kompromi. Saya menempatkan diri saya sebagai pegawai PLN saat itu. Mungkin kalau saya jadi mereka, saya juga akan seperti itu,” tuturnya.
Menurut Dahlan, penolakan karyawan PLN tersebut dikarenakan ketakutan mereka terhadap sosok baru yang muncul dan memimpin PLN. Pasalnya, kata Dahlan, para karyawan belum mengenal siapa dia dan bagaimana karakternya.
Terbukti, setelah satu bulan memimpin, keadaan mulai kondusif. Tanpa diminta, para karyawan yang semula menolak kehadiran Dahlan mulai melunak dan menurunkan spanduk. Bahkan, Dahlan meminta salah satu spanduk yang sempat dipajang di kantor PLN untuk kenang-kenangan.
Kini, untuk memotivasi dan mendekatkan diri dengan karyawannya, Dahlan memiliki cara tersendiri. Setiap bulan, ia ‘menyapa’ seluruh karyawan PLN yang berjumlah sekitar 40 ribu itu dalam forum CEO Notes. “Setiap bulannya saya membuat catatan CEO yang dimuat di website PLN untuk dibaca oleh seluruh karyawan PLN,” kata dia.
Awalnya, tutur Dahlan, ia mengalami kesulitan untuk berkomunikasi dengan seluruh karyawan PLN yang berjumlah besar dan tersebar di seluruh daerah. Akhirnya, atas saran sekretaris Perusahaan, Dahlan yang memang ‘jago nulis’ diminta untuk memberikan pesan lewat CEO Notes.
“Sekarang mungkin sudah edisi yang 40 atau berapa, dan ternyata ditunggu-tunggu oleh seluruh karyawan PLN,” ujarnya bangga.
Dalam catatannya untuk karyawan PLN, Dahlan lebih banyak bercerita mengenai apa yang harus dilakukan oleh PLN, apa yang sudah dilakukan baik olehnya maupun bawahannya di berbagai daerah. “Catatan itu juga bisa ditanggapi oleh karyawan, luar biasa sekali tanggapannya,” tuturnya.
Berjuang dengan Hati
Di usia ke 56, Dahlan Iskan divonis menderita kanker hati. Bahkan dokter mengatakan hidupnya hanya tinggal enam bulan lagi akibat hati yang sudah mengeras dan menyusut. Satu-satunya yang bisa menyelamatkan nyawanya hanyalah transplantasi hati.
Akhirnya, pada 6 Agustus 2007, Dahlan Iskan menjalani operasi. Dahlan yang saat itu masih menjabat CEO Jawa Pos memilih Tianjin First Center Hospital, Tiongkok untuk tempat eksekusi. Operasi yang membuat tubuh Dahlan harus dibius selama 18 jam itu sukses dan fungsi hatinya perlahan membaik. Dahlan Iskan bisa kembali aktif meski tak lantas membuatnya sehat seketika. Kesuksesan operasi itu membuat Dahlan menganggap tanggal 6 Agustus sebagai tanggal baru kelahirannya.
“Tanggal 6 Agustus nanti ‘ulang tahun’ dan saya ingin syukuran di PLN, seandainya saya tidak meninggal dunia dalam waktu dekat,” kata dia.
Pascaoperasi, hidup pria berkacamata ini memang sangat bergantung pada obat ‘hati’ buatan Tiongkok yang harus ditelannya dua kali sehari, yaitu pada pukul 5 pagi dan pukul 5 sore.
Sebelum minum obat, Dahlan diwajibkan puasa selama dua jam dan dilanjutkan satu jam setelah obat itu masuk ke mulutnya. Selain diminum, ternyata Dahlan juga harus menyuntikkan obat itu ke dalam tubuhnya. Menurut dia, imunisasi itu dilakukan agar hati ‘baru’ nya tidak terkena virus hepatitis B, seperti hatinya yang lama. “Karena hati baru ini tidak punya imunitas,” ungkapnya.
Tidak hanya itu, setiap tiga bulan sekali, pria berusia 59 tahun ini secara rutin menyambangi Negeri Tirai Bambu untuk mengecek kesehatannya. Hidup Dahlan berubah. Semua anjuran dokter itu harus dikerjakannya secara disiplin. Sebab kalau tidak, pria asal Magetan, Jawa Timur ini tahu konsekuensinya. Ia akan kehilangan lever barunya yang artinya nyawa taruhannya.
Meski demikian, hal itu tak mengubah langkah Dahlan untuk tetap beraktivitas. Menjadi dirut PLN sudah pasti membuat pekerjaannya makin bertumpuk. Perjalanan jauh ke daerah pedalaman, bahkan berkeliling negeri, serta rapat berjam-jam menjadi rutinitasnya. Nyatanya, ia masih terlihat bugar hingga kini. “Kuncinya hanya disiplin,” katanya.
Karier Dahlan Iskan dimulai sebagai calon reporter sebuah surat kabar kecil di Samarinda (Kalimantan Timur) pada 1975. Tahun 1976, ia menjadi wartawan majalah Tempo. Sejak 1982, Dahlan Iskan memimpin surat kabar Jawa Pos hingga sekarang (sebelum jadi dirut PLN).
Dahlan Iskan adalah sosok yang menjadikan Jawa Pos yang waktu itu hampir mati dengan oplah 6.000 eksemplar, dalam waktu lima tahun menjadi surat kabar dengan oplah 300.000 eksemplar.
Lima tahun kemudian terbentuk Jawa Pos News Network (JPNN), salah satu jaringan surat kabar terbesar di Indonesia, memiliki lebih dari 80 surat kabar, tabloid, dan majalah, serta 40 jaringan percetakan di Indonesia.
Pada 1997 ia berhasil mendirikan Graha Pena, salah satu gedung pencakar langit di Surabaya, dan kemudian gedung serupa di Jakarta. Pada 2002, ia mendirikan stasiun televisi lokal JTV di Surabaya, yang kemudian diikuti Batam TV di Batam dan Riau TV di Pekanbaru.
Sejak akhir 2009, Dahlan diangkat menjadi direktur utama PLN menggantikan Fahmi Mochtar. Selain sebagai pemimpin Grup Jawa Pos, Dahlan juga merupakan presiden direktur dari dua perusahaan pembangkit listrik swasta: PT Cahaya Fajar Kaltim di Kalimantan Timur dan PT Prima Electric Power di Surabaya.
Editor: Investor.id
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
FollowBaca Berita Lainnya di Google News
Read Now

