Julius Kardinal Darmaatmadja SJ: Rawat Kebinekaan atas Dasar Pancasila
SEMARANG – Mantan Uskup Agung Jakarta, Bapa Julius Kardinal Darmaatmadja SJ mendoakan bangsa dan rakyat Indonesia agar selalu dilindungi dan dijaga dalam kerukunan dan perdamaian.
Demikian dikemukakan Kardinal Darmaatmadja saat hadir dan memberikan orasi dalam acara Ngabuburit Kebangsaan - Guyub Rukun Handarbeni di Taman Tugu Muda Semarang, Kamis (1/6).
"Kita bersyukur boleh memperingati hari kelahiran Pancasila sore ini. Hujan tidak menghalangi kita. Saya sebagai orang yang sudah tua bangga melihat semangat kalian semua. Saya berdoa semoga bangsa kita tetap dilindungi dan dijaga dalam kerukunan dan perdamaian,” ujar Kardinal Darmaatmadja SJ mengawali orasinya.
Lebih lanjut Kardinal menyatakan bahwa, semangat sore itu mengingatkan pada semangat para pendiri bangsa ini.
“Mereka telah mewariskan kepada kita bangunan hidup berbangsa berdasarkan Pancasila, semangat Bineka Tunggal Ika dan berlandaskan UUD 1945 dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia. Kita pun diajak bersyukur memiliki kekayaan keberagaman di negeri ini dan menjaganya seperti ini,” katanya.
Acara Ngabuburit Kebangsaan - Guyub Rukun Handarbeni diselenggarakan oleh Pelita (Persaudaraan Lintas Agama) Semarang bekerja sama dengan berbagai komunitas lintas usia, kelompok, kampus, dan agama.
Meski hujan terus membasahi bumi, namun itu tidak memadamkan semangat ratusan peserta yang hadir dan mengisi acara dengan berbagai kreasi kreatif. Mulai dari Orang Muda Katolik (OMK), Pemuda Kristen, Pemuda Hindu dan Buddha, Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII), dan juga Wanita Katolik Republik Indonesia (WKRI) Kota Semarang, mereka menampilkan berbagai kreasi baik tarian, nyanyian kebangsaan, permainan musik erhu maupun pembacaan puisi.
Dengan lindungan payung di tengah hujan rintik-rintik, Bapa Julius Kardinal Darmaatmadja SJ menyampaikan orasinya, didampingi Romo Aloys Budi Purnomo Pr - Ketua Komisi Hubungan Antaragama dan Kepercayaan Keuskupan Agung Semarang (Kom HAK KAS), Gus Ubadillah Achmad, Pendeta Sedyoko - Ketua Persekutuan Gereja-gereja Kristen Semarang, Sr Yulia PI dan Rini yang duduk di kursi roda karena keadaannya yang difabel.
Sinergi Romo-Kyai
Sesudah Bapak Kardinal, Kyai Ubaidillah Achmad yang dikenal sebagai Gus Ubaid membacakan puisinya. Salah satu puisi yang dibacakan berjudul "Jamuan Firdaus".
Selagi Kyai Ubaid membacakan puisinya, Romo Budi mengiringi dengan alunan saksofonnya. Iringan alunan saksofon juga melantun saat Heidy Ibrahim, vocalis Powerslave menyanyikan dan mengajak semua hadirin menyanyikan lagu Garuda Pancasila.
Tak ketinggalan Harjanto Halim, budayawan Pasar Semawis Semarang juga didaulat menyampaikan orasi. Pak HaHa konkrit berbagi pengalaman bahwa semua karyawan-karyawati di perusahaannya harus hafal Pancasila dan Lagu Indonesia Raya. “Itu menjadi prasyarat untuk bisa bekerja di tempatnya. Intinya, kita harus mengamalkan Pancasila mulai dari diri sendiri,” ujarnya.
Rangkaian acara yang digagas Setyawan Budi - Ketua Pelita Semarang dan didampingi Yas Yunantyo serta beberapa aktivis kemanusiaan dan lingkungan hidup itu ditutup dengan doa menjelang buka bersama dan buka bersama sederhana.
Romo Aloys Budi merasa bangga dan bersyukur boleh ikut acara ini. “Acara-acara yang memiliki warna keberagaman dalam kerukunan dan damai seperti ini harus terus dilakukan tanpa kenal lelah. Itulah panggilan dan perutusan kita semua, apa pun agamanya, sebagai anak-anak bangsa Indonesia,” katanya. (gor)
Editor: Investor.id
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
FollowBaca Berita Lainnya di Google News
Read Now

