Pengalaman Selalu Menjadi Guru Terbaik
‘Pengalaman adalah guru yang terbaik’ mungkin terdengar klise. Namun, pepatah ini selalu berlaku bagi semua orang. Dari pengalaman pribadi, seseorang dapat mempelajari kekurangan dan kelebihan dirinya, sehingga ia dapat menjadi orang yang lebih baik. Inilah prinsip yang selalu diyakini dan dipegang teguh Madi Darmadi Lazuardi.
Belum genap setahun Madi Darmadi Lazuardi menjabat sebagai orang nomor satu di PT Bank QNB Kesawan Tbk. Namun, tugas berat dan kompleks sudah mengadangnya. Paling tidak, setelah Qatar National Bank (QNB) masuk ke Bank Kesawan, Madi mesti mengubah haluan Bank QNB Kesawan menjadi bank yang berorientasi lebih luas.
“Kami sudah siap take off,” kata eksekutif kelahiran Jakarta, 26 Juli 1966 itu kepada wartawan Investor Daily Grace Dwitiya Amianti dan pewarta foto Eko S Hilman di Jakarta, baru-baru ini.
Bagaimana perjalanan karier Madi hingga ia menakhodai bank joint venture? Bagaimana cara ia memimpin? Berikut petikan lengkap wawancara tersebut.
Bagaimana perjalanan karier Anda dan apa saja success stor y-nya?
Saya lulus kuliah pada 1989, kemudian langsung bergabung dengan Bank Danamon dalam program management trainee. Selama beberapa tahun, saya menempati beberapa bidang. Pada program itu, saya meraih peringkat pertama di antara peserta lainnya. Semua yang mendapat peringkat pertama ditarik ke kantor pusat. Kemudian dalam waktu 7 bulan, saya menjadi Kepala Cabang di Bank Danamon Cabang Panglima Polim, dilanjutkan menjadi Senior Credit Officer di Kantor Regional Jakarta. Lalu, cukup lama saya di Corporate Banking, sekitar 6 tahun, sampai akhirnya terjadi krisis pada 1998.
Ketika krisis, saya dipindahkan ke Divisi Special Asset Management. Saat itu juga, Danamon merger dengan 9 bank lainnya. Sebab itu, rasio kredit bermasalah (non performing loan/NPL) Danamon ketika itu mencapai sekitar 30%. Saya bersama Dirut Bank Danamon waktu itu, Arwin Rasyid (sekarang Presdir CIMB Niaga) dan Armand B Arief (sekarang Presdir UOB Indonesia) menyelesaikan masalah-masalah pascamerger.
Kemudian pada 2001 atau 2002, Pak Arwin meminta saya menjadi Corporate Affairs Head. Tugasnya menangani Investor Relations, Public Relations, Corporate Secretary, dan Corporate Planning. Bersamaan juga pada waktu itu Temasek masuk saat Badan Penyehatan Perbankan Nasional (BPPN) melakukan divestasi Bank Danamon. Pada 2002-2003, pada puncaknya yaitu Juni, proses divestasi selesai dan dibeli Temasek. Saya diminta Dirut baru waktu itu, Francis Rosario, untuk mengembangkan bisnis baru, yaitu Commercial Banking. Saya menghabiskan 17 tahun di Bank Danamon.
Sampai akhirnya kira-kira awal 2007, saya pindah ke Bank ABN-Amro sebagai Country Head untuk Business Banking. Waktu itu, ABN-Amro ingin mengembangkan Business Banking, sebab mereka sudah punya Consumer Banking dan Corporate Banking, namun belum ada bisnis untuk skala menengah. Kurang lebih berjalan hampir setahun, ABN-Amro akhirnya dibeli Royal Bank of Scotland (RBS), kira-kira pada November 2007.
Waktu itu saya menerima penawaran dari UOB Buana (saat ini UOB Indonesia) untuk menangani Commercial Banking. Walaupun baru setahun di ABN-Amro, saya mempertimbangkan untuk pindah karena saya melihat ketika RBS masuk, ini bisa butuh waktu lama lagi untuk proses konsolidasi. Akhirnya saya ambil kesempatan untuk pindah ke UOB. UOB juga melakukan pekerjaan dari bawah karena sebelumnya adalah bank kecil, yaitu Bank Buana, sebelum diakuisisi United Overseas Bank (UOB) dari Singapura.
Di UOB, saya bertahan sampai kurang lebih empat tahun, akhirnya saya mencoba mengambil tantangan baru untuk menjadi CEO di Bank Kesawan. Sampai akhirnya belum lama ini nama kami berubah menjadi Bank QNB Kesawan setelah diakuisisi QNB. Jadi, totalnya, saya sudah berkarier 22-23 tahun di bank.
Kiat Anda dalam mencapai kesuksesan?
Saya tidak mengatakan bahwa saya hebat, namun dalam bekerja, saya punya prinsip dan nilai-nilai (values) yang saya yakini. Sebab, setelah berjalan selama ini, saya coba introspeksi. Kalau saya merunut ke belakang, banyak hal yang bisa membuat saya bertahan. Saya melihat, saya adalah orang yang cukup mudah beradaptasi dengan perubahan.
Faktor kedua, saya melihat segala sesuatu dari sisi positifnya. Ketika dipindah dari satu bagian ke bagian lain di sebuah bank, saya justru melihatnya sebagai tantangan dan kesempatan saya untuk belajar. Contohnya yang paling ekstrem adalah ketika saya di Corporate Banking Bank Danamon, kemudian krisis ekonomi pada 1998 telah membuat saya harus menangani kredit bermasalah. Keduanya adalah situasi yang sangat berbeda. Sebab, Corporate Banking adalah suatu grup yang cukup punya prestise di bank. Sedangkan untuk kredit bermasalah, bertolak belakang 180 derajat. Sebelumnya saya belajar bagaimana memberikan kredit, kemudian saya harus tahu bagaimana meng-collect kredit.
Begitu pula ketika saya dipindah lagi ke bagian Corporate Affairs. Kuncinya adalah saya tidak pernah melihat segala sesuatu dari sisi negatif. Sehingga saya merasa, sepertinya itulah yang membuat atasan dan rekan kerja melihat saya enak diajak kerja sama. Saya juga tidak pernah menolak jika diberi tugas, bahkan seringkali saya bilang, “Oke, saya saja yang kerjakan tugas itu.”
Saya juga punya prinsip bahwa saya bukan orang yang pintar, sebab ada banyak yang lebih pintar. Tapi saya melihat bahwa saya punya value, “Walaupun saya hanya menjadi Account Officer (AO), saya berusaha menjadi AO terbaik.”
Bisa bertahan lama diperbankan, apa idealisme Anda?
Saya tidak pernah bercita-cita menjadi bankir. Ketika lulus kuliah, saya ingin sekali ambil S2, tapi orangtua tidak mampu. Kemudian saya ingat ketika di SMA, saya sering membantu orangtua yang menjadi pedagang di Tanah Abang. Setiap hari, saya selalu setor uang hasil dagangan Rp 1,5-2 juta ke Bank Danamon Cabang Pasar Pagi. Saya mengantarnya pagi hari dengan sepeda motor, kemudian saya membantu di toko, dan kebetulan sekolah saya mulai siang hari.
Ketika sudah lulus kuliah pada 1989, ayah saya bertanya, kamu mau apa? Saya masih bimbang. Akhirnya saya memberanikan diri mencoba melamar ke kantor cabang Danamon Pasar Pagi yang selalu saya datangi saat SMA. Saya diterima karena kebetulan saat itu sedang diadakan management trainee. Namun, sebelumnya saya mencoba melamar secara formal ke kantor pusat Danamon.
Saya tidak diterima karena saya lulusan lokal dan hanya bergelar S1. Suatu ketika, saat dilakukan on the job training untuk management trainee, saya bertemu para peserta lain dari kantor pusat. Mereka pakai dasi, saya tidak. Gaji mereka Rp 500 ribu saat itu, saya hanya Rp 300 ribu, padahal jabatan kami sama. Di situlah saya mulai terpacu bahwa saya harus lebih baik dari mereka. Akhirnya, saya bisa menjadi peringkat pertama di kelas training.
Faktor lain adalah saya akhirnya mendapat beasiswa dari Danamon untuk mengambil S2 di Universitas Gadjah Mada (UGM) pada 1995-1996. Saya merasa pemberian itu sebagai berkah karena orangtua saya dulu tidak mampu membiayai saya untuk kuliah S2. Sebenarnya saya mendapat beasiswa dari Prasetya Mulya Business School pada 1990 dan kebetulan saya kenal dengan Jusuf Wanandi, namun saya tidak ambil karena diharuskan berhenti bekerja (purnawaktu).
Saya juga tidak terpikir kenapa bisa sampai 17 tahun di Danamon, mungkin karena saya mendapat kesempatan belajar lebih banyak. Setelah merasa mendapat cukup pengalaman dan kepercayaan diri, akhirnya saya memutuskan untuk pindah. Menurut saya, untuk menjadi bankir yang andal tidak cukup hanya di satu bank. Saya percaya, kesuksesan itu ada tiga kunci, yaitu kemauan, kemampuan, dan kesempatan.
Seperti apa metode kepemimpinan Anda?
Sampai hari ini saya masih sering berbincang dengan atasan-atasan saya dahulu, meminta saran mereka. Saya menghormati orang-orang yang pengalamannya lebih banyak. Namun, dengan teman-teman saya yang masih di bawah, saya tekankan bahwa saya bukan Superman. Saya tidak bisa melakukan semuanya sendirian, saya butuh tim yang kuat. Kita tidak bisa kerja sendirian.
Di situlah saya sadar bahwa saya di sini hanya sebagai fasilitator. Memfasilitasi agar orang-orang di sekitar saya bisa bekerja dengan baik. Ibaratnya, kalau di dunia musik, CEO bertindak sebagai dirigen. Dirigen belum tentu bisa memainkan bas, piano, atau alat musik lainnya. Namun, dia bisa mengatur bagaimana supaya terjadi musik yang indah.
Filosofi hidup Anda?
Dalam bisnis dan karier ada saatnya kita berada di top performance, namun ada pula saat kita down. Kita harus sadar bahwa kita tidak selalu di atas. Prinsipnya adalah ketika kita sedang di atas atau ketika sedang di bawah, patokannya kita selalu harus melihat ke atas. Sebab, orang selalu bilang bahwa di atas langit masih ada langit. Ketika jadi Direktur, masih ada CEO. Ketika jadi CEO, masih ada CEO bank yang lebih besar, begitu pula di atasnya masih ada bank yang lebih besar.
Sampai sekarang saya sangat senang membaca biografi dan curriculum vitae orang-orang sukses, termasuk atasan dan mantan atasan saya, sebab dari situ saya terinspirasi. Jika Anda membaca buku The Seven Habits of Highly Effective People karya Stephen Covey, habit yang ketujuh adalah sharpen the saw atau mengasah mata gergaji. Artinya, ketika kita harus bekerja terus pun, suatu waktu kita harus berhenti. Ketika saya turun, ini mungkin tanda bagi saya untuk asah gergaji, supaya naik lagi. Saya tidak pernah berkecil hati, sebab ada waktunya kita harus tiarap dan introspeksi. Hal yang paling penting, jangan sampai mental kita jatuh. Selain itu, jangan berhenti belajar dan jangan malu bertanya pada ahlinya.
Gebrakan apa yang pernah dilakukan di perusahaan?
Saya tidak melihat harus ada gebrakan. Apa yang saya lakukan ini juga dilakukan orang lain. Mungkin yang membedakan saya dari yang lain adalah timing dan approach atau cara. Saya tidak melihat saya spesial. Saya selalu berusaha berbuat yang terbaik saja. Untuk melakukan perbaikan, kita harus tahu penyakitnya apa. Sebab, kondisi di semua bank berbeda-beda. Apa yang saya lakukan di Danamon, belum tentu bisa di ABN-Amro, juga di UOB, begitu pula sebaliknya.
Ada obsesi atau cita-cita yang belum tercapai?
Tidak ada cita-cita saya yang spesifik, namun umumnya di bank, mungkin orang ingin mencapai puncak karier. Tapi menurut saya, tidak ada yang namanya puncak karier, karena selalu ada posisi yang lebih tinggi. Cita-cita saya sekarang adalah bagaimana mengembangkan bank ini sesuai harapan. Jika ditanya apa next step-nya, mungkin saja kita ingin menjadi CEO di bank yang paling besar. Kemudian berikutnya, kalau bisa menjadi CEO di bank luar negeri yang bertaraf regional. Itu semua mungkinmungkin saja.
Bisa Anda jelaskan kinerja QNB Kesawan saat ini dan ke depan?
Kami masih dalam proses, namun memang ambisinya cukup besar. Kami sudah siap take off setelah berganti nama. Kami harus pastikan kondisinya sehat, seperti halnya landasan pesawat terbang harus siap sebelum pesawat lepas landas. Berdasarkan Rencana Bisnis Bank (RBB) kami, target kredit akan bertumbuh dari Rp 2 triliun pada 2011 menjadi Rp 4 triliun. Aset Rp 3 triliun akan menjadi Rp 8 triliun. Dana pihak ketiga ditargetkan Rp 4,5-4,6 triliun. Kami akan fokus di retail banking maupun wholesale banking.
Kami siapkan infrastruktur untuk ritel. Saat ini rasio kecukupan modal (CAR) masih sangat tinggi, yaitu 40%. Kalau pertumbuhan sangat kencang atau bisa mencapai target 200%, CAR bisa turun ke level 15%. Tahun depan, kami akan melihat kebutuhan penambahan modal. Kalau kami lakukan penawaran saham terbatas (rights issue), pemegang saham pengendali yaitu QNB menyatakan siap menjadi pembeli siaga. (*)
Editor: Investor.id
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
FollowBaca Berita Lainnya di Google News
Read Now

