Puasa dan De(regulasi) Diri
Bila setiap kita menuntut dihormati, tak akan ada yang mendapat kehormatan. Tapi bila semua saling menghormati, semuanya mendapat kehormatan (Lukman Hakim Saifuddin).
Awan pekat intoleransi kembali datang berarak. Atas nama “ketertiban” dan “kehormatan”, segerombolan petugas Satpol PP Serang, Banten, merazia paksa seorang ibu yang menjual makanan di siang hari. Seluruh dagangannya dikuras tanpa sisa.
Sontak tangis ibu paruh baya itu pecah. Razia itu dilakukan, pasalnya, ibu tersebut dianggap melanggar peraturan daerah yang tidak mengizinkan penjual makanan beroperasi pada siang hari pada bulan Ramadan. Setiap penjual makanan harus ditertibkan karena mereka dipandang tidak menghormati orang yang berpuasa.
Benarkah orang berpuasa memiliki hak istimewa untuk dihormati sehingga tidak seorang pun boleh menjual makanan dan minuman pada siang hari? Kecuali karena alasan-alasan politis, aturan seperti itu tidak ada dasarnya dalam Islam.
Nabi tidak pernah mencontohkan demikian. Fondasi paling populer dalam Islam adalah hadis Nabi yang berbunyi: “Man shâma ramadhâna îmânan wa ihtisâban, ghufira lahû mâ taqaddama min dzanbihi wa mâ ta’akkhara. Yakni barangsiapa berpuasa Ramadan karena iman dan ikhlas, maka diampuni dosa-dosa yang telah lalu dan yang akan datang” (HR. Bukhari).
Al-Khatabi memberi ulasan bahwa makna ihtisâban adalah ‘azîmatan, yaitu an yashîma alâ ma’na al-raghbah fi tsawâbihi thaytibata nafsihi bi dzâlika ghaira kârihatin lahu, wa lâ mustatsqilatan lishiyâmihi wa lâ mustathîlatan li ayyâmihi. Atau berpuasa dengan segenap perbaikan kualitas diri, senang terhadap pahalanya dan tidak ada kebencian di dalamnya.
Ihtisâban berarti siap menyelenggarakan puasa tanpa tendensi ingin dihormati. Jika seorang muslim berpuasa dan hatinya masih ada segumpal keinginan untuk dihormati, itu namanya bukan ihtisâban, melainkan istiryâ’an.
Frase ghaira kârihatin, saya pikir, tidak saja bermakna tidak benci terhadap puasa, melainkan juga tidak benci terhadap orang yang tidak puasa. Esensi puasa adalah perbaikan diri (thayyibah al-nafs), baik yang menyangkut relasi dengan Tuhan maupun dengan manusia.
Di samping itu, menurut Al-Ghazali dalam Ihyâ’ Ulûmi al-Dîn, puasa tidak sekadar menahan diri dari makan dan minum, esensi puasa adalah menahan diri dari hawa nafsu (al-imsâk ‘an alsyahwah). Dalam pandangan Al-Ghazali, sumber yang dapat membangkitkan hawa nafsu terbentang luas di dalam realitas, dan puasa bukan dimaksudkan sebagai mandataris untuk menghancurkan sumber-sumber hawa nafsu, melainkan lebih kepada aktivasi sistem imun diri dari pengaruh-pengaruh eksternal yang menggangu.
Gangguan dan cobaan selama berpuasa akan terus ada. Justru karena itu puasa diwajibkan. Muslim yang baik seharusnya sadar bahwa puasa bukanlah sepaket proposal untuk mencari penghormatan, apalagi penghormatan di mata manusia. Puasa yang ihtisâban adalah puasa tanpa pretensi bla-bla-bla. Bahkan sekira ada yang menggangu puasa kita, kita tidak boleh merisaukannya. Persis di titimangsa itu puasa meneguhkan nilai profetiknya.
Gus Dur pernah mengingatkan: “Jika kita Muslim terhormat, maka kita akan berpuasa dengan menghormati orang yang tidak berpuasa.” Gus Dur paham bahwa puasa bukan ritual pemampatan hubungan interpersonal, melainkan penggalian saluran dan perluasan emosional. Jika demikian, maka tidak sepantasnya orang berpuasa pongah meminta penghormatan dari mereka yang tidak berpuasa.
Lagi pula, dorongan yang bersifat intrinsik dalam setiap ritual keagamaan, tegas Psikolog Amerika Gordon W. Allport (1975), memberi pendasaran kuat terhadap pembentukan kepribadian sehat. Dorongan intrinsik dalam istilah Allport sejalan dengan makna ihtisâban dalam hadis di atas.
Peraturan daerah yang melarang orang menjual makanan pada siang hari pada bulan Ramadan, jelas mereduksi secara serius makna ihtisâban dalam berpuasa. Razia terhadap penjual makanan merupakan sebentuk kebencian yang tidak dibenarkan dalam Islam.
Islam itu agama ramah, bukan agama marah. Rumusnya simpel: jika khawatir tidak kuat karena mudah ngiler melihat makanan, tak usah sering-sering lewat di tempat yang banyak menjual makanan. Ibaratnya, kalau takut menginjak duri, jangan pergi ke semak-semak tanpa alas kaki.
Segala rupa razia hanya mengundang hujan kebencian. Dan yang lebih fatal, ia dapat meruntuhkan setelak-telaknya, manfaat besar yang terkandung di dalam puasa. Padahal, seharusnya dimensi “menahan” (imsâk) dalam puasa harus benar-benar mujarab menanggulangi purparagam emosi agar lebih terkendali.
Sejumlah riset psikologi menunjukkan kepada kita manfaat penting yang terkandung di dalam ritual puasa. Salah satu riset baru-baru ini, yang dilakukan Very Julianto dan Pipih Mohopilah (2015), mengonfirmasi bahwa puasa terbukti berhubungan erat dengan tingkat regulasi kemarahan. Semakin sering berpuasa, semakin tinggi tingkat regulasi marah seseorang.
Dengan lain perkataan, orang yang sering berpuasa lebih cenderung mampu meredam amarah dan memiliki tingkat pengendalian diri (self control) yang tinggi, sehingga secara psikologis, mereka yang berpuasa jauh lebih potensial untuk dapat meregulasi diri, alih-alih menderegulasi.
Sakura Dragon dalam Benefits of Fasting from Islamic Perspective (2016), mengemukakan manfaat puasa terhadap kesehatan mental. Selain dapat mengurangi risiko terkena serangan jantung, berpuasa dapat memberi kontrol terhadap munculnya emosi negatif. Sakura melanjutkan,
“Fasting gives one the opportunity to overcome the many addictions which have become a major part of modern life”. Puasa dapat memberi peluang untuk mengatasi pelbagai adiksi negatif yang muncul dari kehidupan modern. Namun demikian, puasa yang lahir dari kondisi ihtisâban adalah imun terbaik untuk menepis setiap godaan.
Termasuk godaan haus penghormatan. Saya kira, alarm tegas Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin yang dikutip di awal tulisan ini penting dikunyah halus-halus: kita hanya akan memeroleh kesia-siaan jika kita saling berebut kehormatan. Dan apabila pintu kebencian masih terbuka saat kita semestinya khidmat berpuasa, maka penting untuk segera diperiksa, jangan-jangan puasa kita bukan manifestasi ketundukan kepada Sang Pencipta, melainkan bentuk lain dari penghambaan kepada manusia.
Naufil Istikhari Kr, Peneliti Psikologi di Fakultas Ilmu Sosial & Humaniora, UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta
Editor: Investor.id
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
FollowBaca Berita Lainnya di Google News
Read NowBerita Terkait
Berita Terkini
Astronot Artemis II Bingkai Keindahan Bumi yang Menakjubkan
Astronot Artemis II bagikan foto Bumi yang menakjubkan dari angkasa. Perjalanan manusia pertama menuju Bulan setelah lebih dari 50 tahun.Banjir Setinggi 30-80 cm Rendam Sejumlah Wilayah di Tangerang Selatan
Hujan deras yang mengguyur sejak pagi membuat sejumlah wilayah di Tangerang Selatan terendam banjir dengan ketinggian 30-80 cm.Kejutkan Dunia, Pemimpin Militer Burkina Faso Lontarkan Pernyataan Kontroversial
Pemimpin militer Burkina Faso Ibrahim Traore lontarkan pernyataan kontroversial, sebut demokrasi membunuh dan minta rakyat lupakan pemilu.KLH dan Pemprov Sulsel Bangun PSEL dengan Investasi Rp 3 Triliun
Kementerian LH bersama Pemprov Sulsel memulai pembangunan Pengolah Sampah Energi Listrik (PSEL) dengan nilai investasi Rp 3 triliun.Strategi Trisula (TRIS) Genjot Kinerja 2026
PT Trisula International Tbk (TRIS) menyiapkan strategi untuk memacu kinerja perusahaan pada tahun 2026.Perkuat Kapasitas Serapan, Bulog akan Bangun 100 Gudang Penyimpanan Baru
Perum Bulog akan menambah 100 gudang penyimpanan untuk memperkuat infrastruktur pascapanen dan meningkatkan kapasitas serapan petani.Tag Terpopuler
Terpopuler






