Saham BBCA Jangan-jangan Tembus ke Sini
JAKARTA, investor.id - Saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) atau BCA cenderung tertekan setelah sejam lebih sesi I perdagangan Rabu (11/3/2026).
Di sekitar pukul 10.18 WIB, saham emiten bank swasta terbesar di RI ini minus 0,72% ke Rp 6.925. Sudah sejumlah 25,5 juta saham BBCA diperdagangkan, frekuensi 9.927 kali, dan nilai transaksi Rp 177,39 miliar.
Saham Bank Central Asia memerah karena mengalami tekanan jual. Berdasarkan data pada aplikasi Stockbit Sekuritas, saham BCA mencatatkan net sell Rp 27,8 miliar.
Baca Juga:
Pucuk Harga Saham BBCAPadahal pada perdagangan Selasa (10/3/2026), saham BCA mengalami kenaikan 1,45%. Tapi memang kenaikannya tak ditopang oleh aksi investor asing. Lantaran asing malah mencatatkan net sell Rp 32,82 miliar.
Sementara itu, Kiwoom Sekuritas dalam analisis teknikalnya hari ini, mematok support pertama saham BBCA pada level 6.900 dan support kedua di 6.850.
Jika bisa berbalik arah, maka resistance pertama saham BCA di 7.025 dan resistance kedua pada 7.100. “Stoploss jika saham ini menyentuh 6.750,” sebut Kiwoom Sekuritas dalam analisisnya.
Sedangkan, GaleriSaham menilai BBCA saat ini berkonsolidasi tertekan di area support 6.825. Jika support merah solidnya kembali ditembus, BBCA ada tendensi untuk bergerak turun menuju support kuat 6.375.
Kemudian, ada tendensi rebound jika berhasil mencapai dan bertahan di atas swing low 6.375. Target rebound kembali menuju 7.475. Stoploss jika dalam beberapa hari saham ini gagal bertahan di atas swing low 6.375.
Sebelumnya, CGS International memproyeksi pendapatan bunga bersih (net interest income) BBCA mencapai Rp 88,23 triliun pada 2026, naik 3% dibandingkan 2025. Sementara itu laba bersih diproyeksi naik 5,7% menjadi Rp 60,82 triliun pada 2026.
Baca Juga:
Bos MDKA Lepas Saham di Harga SeginiPada Januari 2026, BBCA telah mencatat laba bersih Rp 5 triliun, naik 5,8% secata year on year. Pencapaian ini setara dengan 8% proyeksi laba setahun dari konsensus analis yang dikompilasi Bloomberg. Peningkatan laba bersih di Januari secara yoy terutama didorong oleh kenaikan pendapatan non-bunga sebesar 11% serta penurunan beban pencadangan yang signifikan sebesar 54%.
“Portofolio kredit turun 1,3% dalam month over month. Namun hal ini terlihat bersifat musiman, mengingat dalam 10 tahun terakhir kredit BBCA biasanya memang menyusut sekitar 2% mom setiap bulan Januari,” kata analis CGS International Handy Noverdanius dalam riset, dikutip Senin (8/3/2026).
Dari sisi pendanaan, posisi likuiditas BBCA tetap kuat dengan rasio dana murah atau CASA mencapai sekitar 84.8%, mencerminkan keunggulan biaya dana dibandingkan bank sejenis. Adapun loan to deposit ratio masih rendah di level 77,4%. Kondisi ini dinilai menjadi salah satu faktor yang menjaga stabilitas profitabilitas perseroan.
Selain itu, CGS juga menilai BBCA masih memiliki ruang untuk meningkatkan rasio pembagian dividen untuk tahun buku 2025, yang berpotensi menjadi katalis positif bagi pergerakan saham perseroan.
CGS mempertahankan rekomendasi add atau beli terhadap saham BBCA dengan target harga Rp 10.000 per saham. Proyeksi ini setara dengan potensi kenaikan 43% dari harga saham BBCA di akhir tahun lalu.
“Kami tetap mempertahankan rekomendasi add, karena kami menilai BBCA masih akan mampu membukukan kinerja yang solid dengan fundamental yang kuat. Re-rating catalysts adalah yield kredit dan permintaan kredit yang lebih baik dari perkiraan. Selain itu, perbaikan sentimen makro juga berpotensi mendorong re-rating,” tulis riset CGS.
Editor: Theresa Sandra Desfika
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
FollowBaca Berita Lainnya di Google News
Read Now






