BI sebut Tensi Geopolitik dan The Fed Pengaruhi Ekonomi Domestik melalui Dua Jalur
JAKARTA, investor.id - Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo menyampaikan ketidakpastian global diantaranya tensi geopolitik, dan kebijakan suku bunga The Fed akan mempengaruhi proses pemulihan ekonomi domestik melalui dua jalur yakni pertumbuhan ekonomi, stabilitas moneter sistem keuangan.
Perry menyampaikan, tantangan global tersebut juga dikhawatirkan akan mempengaruhi stabilitas moneter di dalam negeri. Hal ini tercermin dari revisi ke bawah angka pertumbuhan ekonomi global oleh International Monetary Fund (IMF) menjadi 4,4% pada 2022.
“IMF sudah revisi ke bawah pertumbuhan ekonomi global mempertimbangkan tensi geopolitik, juga Omicron,” katanya dalam acara Focus Group Discussion (FGD) bersama dengan Pemimpin Redaksi Media Massa, Rabu (23/2).
Menurutnya, BI telah melakukan kajian tantangan global tersebut dan memperkirakan pertumbuhan ekonomi global hanya tumbuh 4,4% pada tahun ini. Sementara itu, kebijakan normalisasi kebijakan negara maju yang akan mempengaruhi proses pemulihan dan menghambat aliran portofolio asing ke negara berkembang, termasuk Indonesia.
Meski demikian, Perry menyebut dampak dari tensi geopolitik ke kinerja ekspor Indonesia tidak akan signifikan, mengingat ekspor Indonesia yang berbasis komoditas. Tidak hanya itu, hilirisasi komoditas jadi value add ekspor tetap baik dan dukung sumber pertumbuhan ekonomi sisi ekspor. BI optimistis, pertumbuhan ekonomi Indonesia pada tahun ini akan mencapai kisaran 4,7-5,5%.
“Jadi kesimpulannya kami masih pertahankan proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia sebesar 4,7-5,5%. Kemudian assessment risiko kami masih tetap balance kecenderungan pertumbuhan ekonomi di titik tengah 5,1%. Sehingga, belum kami melihat ada suatu reason atau justifikasi atau suatu keperluan untuk revisi titik tengah,” tegasnya.
Lebih lanjut Perry mengatakan terkait proyeksi pasar terkait berapa kali The Fed menaikkan suku bunga empat atau lima kali, ujungnya tetap akan memiliki dampak pada sisi pasar keuangan negara berkembang termasuk Indonesia. Meski belum resmi menaikkan suku bunga, namun dampaknya pun sudah terasa di pasar keuangan negara maju dan Indonesia.
Hal ini tercermin dari kenaikan imbal hasil (yield) dari surat utang pemerintah AS atau US Treasury yang merangkak naik hingga 1,97%. Alhasil mendorong peningkatan yield pada surat berharga negara (SBN) sudah di level 6,4%.
Kendati begitu dampak untuk aliran modal asing ke pasar SBN maupun saham masih terbatas, meski tengah peningkatan tingkat imbal hasil US Treasury. Di samping itu, dampak ke nilai tukar rupiah kata Perry pun masih terkendali. Nilai tukar rupiah pada awal tahun ini cenderung stabil, bahkan menguat.
“Kenapa nilai tukar stabil bahkan menguat, karena fundamental kita bagus, current account rendah, bahkan surplus, neraca perdagangan surplus, berarti supply dolar di pasar melebihi demand,” tutupnya.
Editor: Indah Handayani
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
FollowBaca Berita Lainnya di Google News
Read Now






