Kamis, 14 Mei 2026

Rupiah Rp 17.500, Warga Serbu Money Changer

Penulis : Akmalal Hamdhi
14 Mei 2026 | 21:19 WIB
BAGIKAN
Warga melakukan transaksi di VIP Money Changer Menteng, Jakarta Pusat, Rabu (13/5/2026). (B-Universe Photo/Akmalal Hamdhi)
Warga melakukan transaksi di VIP Money Changer Menteng, Jakarta Pusat, Rabu (13/5/2026). (B-Universe Photo/Akmalal Hamdhi)

JAKARTA, investor.id – Pelemahan nilai tukar rupiah hingga menyentuh level Rp 17.500 per dolar Amerika Serikat (AS) mendorong aktivitas transaksi di sejumlah money changer meningkat. Masyarakat ramai-ramai menukar rupiah maupun dolar AS untuk berbagai kebutuhan, mulai dari investasi hingga perjalanan ke luar negeri.

Berdasarkan data Investing pada Kamis (14/5/2026) malam, nilai tukar rupiah turun 80 poin atau 0,45% menjadi sebesar 17.526 per dolar AS.

Sementara itu, pantauan di VIP Money Changer Menteng, Jakarta Pusat, Rabu (13/5/2026) sebelumnya, aktivitas transaksi terlihat lebih sibuk dibanding hari biasa. Nasabah datang silih berganti untuk membeli maupun menukarkan valuta asing.

ADVERTISEMENT

Salah satu nasabah, Fonda, mengaku sengaja menukarkan dolar AS ke rupiah setelah kembali dari perjalanan kerja sebagai pelaut di Amerika Serikat dan Taiwan.

“Kebetulan saya baru pulang dari Florida, San Francisco, lalu Taiwan, dan dari Taiwan langsung terbang ke Jakarta. Saya mau pulang ke Lampung,” ujar Fonda.

Ia menilai kurs rupiah saat ini cukup menguntungkan untuk menukarkan dolar yang dimilikinya. Dana hasil penukaran tersebut akan digunakan untuk kebutuhan keluarga hingga investasi. “Kebetulan satu untuk keluarga, kemudian investasi, ya banyak sih kebutuhannya,” imbuhnya.

Fonda mengatakan perusahaannya sebenarnya menyediakan fasilitas transfer gaji yang otomatis dikonversi ke rupiah. Namun, ia memilih menukarkan dolar secara mandiri karena selisih kurs dinilai cukup besar.

Rupiah Rp 17.500, Warga Serbu Money Changer
Pergerakan rupiah terhadap dolar AS. (Ilustrasi: Investor Daily)

“Kalau tukar misalnya US$ 1.000 saja, selisih Rp 300 per dolar sudah lumayan besar,” jelasnya.

Fonda juga mengaku sengaja menahan dolar AS lebih lama dan baru menukarkannya saat nilai tukar dianggap lebih menguntungkan. Menurut dia, pergerakan rupiah saat ini lebih fluktuatif dibandingkan masa pandemi Covid-19.

“Sekarang rupiah bergerak naik turun. Beda dengan saat pandemi, kalau turun terus kemudian naik, enggak naik turun. Ya mungkin karena sekarang akibat situasi perang saat ini di Timur Tengah,” katanya.

Kebutuhan Liburan

Editor: Prisma Ardianto

Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id

Follow

Baca Berita Lainnya di Google News

Read Now
BAGIKAN

Berita Terkait


Berita Terkini


Market 31 menit yang lalu

Deretan Saham Pencetak Cuan Jumbo

Sejumlah saham mencetak cuan jumbo dan masuk daftar top gainers selama periode 11-13 Mei 2026.
Macroeconomy 42 menit yang lalu

Rupiah Rp 17.500, Warga Serbu Money Changer

Rupiah melemah lagi ke Rp 17.526 per dolar AS. Money changer di Jakarta ramai didatangi warga untuk jual-beli valuta asing.
Macroeconomy 1 jam yang lalu

Core Dukung Perluasan Insentif ke Sektor Padat Karya

Core dorong pemerintah memperluas program padat karya dan insentif industri manufaktur demi jaga momentum pertumbuhan ekonomi nasional.
Macroeconomy 2 jam yang lalu

Giliran Purbaya Respons Surat Investor China soal Iklim Investasi RI

Menkeu Purbaya merespons keluhan pengusaha China soal iklim investasi RI dan menegaskan pemerintah tetap utamakan kepentingan nasional.
Finance 2 jam yang lalu

Livin’ by Mandiri Beri Kemudahan Nasabah Berkurban

Bank Mandiri mempermudah pembelian hewan kurban secara digital melalui fitur Sukha di aplikasi Livin’ by Mandiri.
Macroeconomy 2 jam yang lalu

Rupiah Tertekan, BI-Rate Diprediksi Naik pada Kuartal II-2026

DBS memprediksi BI berpotensi menaikkan BI-Rate pada kuartal II-2026 seiring pelemahan rupiah dan cadangan devisa yang menyusut.
Copyright © 2026 Investor.id
PT. Koran Media Investor Indonesia