Core Dukung Perluasan Insentif ke Sektor Padat Karya
JAKARTA, investor.id – Pemerintah dinilai perlu memperkuat berbagai strategi untuk menjaga pertumbuhan ekonomi domestik tetap stabil di tengah tekanan global. Langkah yang didorong antara lain memperluas Program Padat Karya Tunai (PKT), memperkuat sektor pertanian, hingga memberikan insentif fiskal bagi industri manufaktur padat karya.
Ekonom Center of Reform on Economics (Core) Indonesia, Yusuf Rendy Manilet, mengatakan bahwa Program Padat Karya Tunai perlu diperluas, terutama di wilayah luar Pulau Jawa, karena memiliki efek pengganda yang besar terhadap perekonomian masyarakat.
“Program Padat Karya Tunai perlu diperluas, terutama di luar Jawa. Program seperti ini punya multiplier yang tinggi karena uang langsung berputar di masyarakat bawah dan menopang konsumsi lokal,” ujar Rendy saat dihubungi, Kamis (14/5/2026).
Menurut dia, perluasan program padat karya penting untuk menjaga daya beli masyarakat sekaligus menopang konsumsi rumah tangga yang menjadi motor utama pertumbuhan ekonomi nasional.
Di sisi lain, perhatian terhadap sektor pertanian juga penting. Rendy menilai sektor pertanian tetap menjadi fondasi perekonomian, khususnya di wilayah pedesaan. Karena itu, pemerintah diminta memastikan distribusi subsidi pupuk dan benih berjalan tepat waktu agar produktivitas petani tetap terjaga.
Ia menegaskan sektor pertanian memiliki peran strategis, tidak hanya dalam menjaga ketahanan pangan nasional, tetapi juga menopang aktivitas ekonomi masyarakat desa. “Pemerintah perlu memastikan subsidi pupuk dan benih tepat sasaran dan tepat waktu agar produktivitas sektor pertanian tetap terjaga,” katanya.
Di sisi lain, pemerintah juga didorong memperluas insentif fiskal untuk industri manufaktur padat karya seperti tekstil dan alas kaki. Langkah tersebut dinilai penting untuk menjaga stabilitas tenaga kerja di tengah tekanan ekonomi global yang masih berlangsung.
Rendy mengatakan insentif seperti Pajak Penghasilan (PPh) Pasal 21 Ditanggung Pemerintah (DTP) seharusnya tidak hanya terbatas pada sektor tertentu, tetapi diperluas agar industri padat karya memiliki ruang bertahan lebih besar.
Menurutnya, menjaga keberlangsungan industri padat karya jauh lebih penting dalam kondisi ekonomi saat ini karena sektor tersebut menyerap tenaga kerja dalam jumlah besar dan berkontribusi signifikan terhadap konsumsi domestik.
“Dalam kondisi global yang penuh tekanan, menjaga industri padat karya tetap bertahan jauh lebih penting untuk stabilitas tenaga kerja dan konsumsi domestik,” pungkas Yusuf Rendy.
Editor: Prisma Ardianto
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
FollowBaca Berita Lainnya di Google News
Read NowBerita Terkait
Berita Terkini
Deretan Saham Pencetak Cuan Jumbo
Sejumlah saham mencetak cuan jumbo dan masuk daftar top gainers selama periode 11-13 Mei 2026.Rupiah Rp 17.500, Warga Serbu Money Changer
Rupiah melemah lagi ke Rp 17.526 per dolar AS. Money changer di Jakarta ramai didatangi warga untuk jual-beli valuta asing.Core Dukung Perluasan Insentif ke Sektor Padat Karya
Core dorong pemerintah memperluas program padat karya dan insentif industri manufaktur demi jaga momentum pertumbuhan ekonomi nasional.Giliran Purbaya Respons Surat Investor China soal Iklim Investasi RI
Menkeu Purbaya merespons keluhan pengusaha China soal iklim investasi RI dan menegaskan pemerintah tetap utamakan kepentingan nasional.Livin’ by Mandiri Beri Kemudahan Nasabah Berkurban
Bank Mandiri mempermudah pembelian hewan kurban secara digital melalui fitur Sukha di aplikasi Livin’ by Mandiri.Rupiah Tertekan, BI-Rate Diprediksi Naik pada Kuartal II-2026
DBS memprediksi BI berpotensi menaikkan BI-Rate pada kuartal II-2026 seiring pelemahan rupiah dan cadangan devisa yang menyusut.Tag Terpopuler
Terpopuler






