Libur Panjang Gairahkan Industri Pariwisata dan Pusat Perbelanjaan di Kota Kecil
JAKARTA, investor.id – Industri Pariwisata dapat dikatakan mendapat berkah dari libur dan cuti bersama yang panjang. Sebab, sebagian besar masyarakat memanfaatkan waktu liburan tersebut untuk berwisata ke daerah (luar kota) atau kalau pun di dalam kota akan mengunjungi pusat perbelanjaan.
Ketua Umum Asosiasi Pengelola Pusat Belanja Indonesia (APPBI) Alphonzus Widjaja mengakui, industri pariwisata sempat terpuruk selama tiga tahun pada pandemi Covid-19. Karena itu, adanya kebijakan libur nasional dan cuti bersama menggairahkan kembali wisata Tanah Air.
"Industri pariwisata terperosok selama Covid-19 bahkan pertumbuhannya sampai negatif termasuk di daerah Bali yang biasanya sangat ramai. Selama pandemi kami sangat menderita luar biasa karena hanya mengandalkan pendapatan dari sektor wisata saja," katanya, Jumat (24/5/2024).
Alphonzus menilai hal positif dari libur panjang mendorong sektor pariwisata dalam negeri. Bagi kelas menengah ke bawah, libur panjang merupakan kesempatan untuk berlibur ataupun melakukan perjalanan wisata.
"Perjalanan wisata yang dilakukan masyarakat tentu akan mendorong industri pariwisata secara keseluruhan termasuk di dalamnya itu adalah destinasi wisata, perhotelan, kuliner, belanja dan lainnya. Tetapi saya juga menyadari bahwa libur panjang juga juga memiliki dampak pada sektor lain, seperti industri manufaktur dan lainnya," ungkapnya.
Alphonzus menjelaskan, untuk sektor perbelanjaan terdapat dua dampak yakni positif dan negatif. Bagi pusat pusat-pusat perbelanjaan di kota-kota kecil libur panjang berdampak positif karena akan mendorong terjadinya peningkatan jumlah kunjungan.
Sementara sisi pusat-pusat perbelanjaan di kota besar malah umumnya berdampak negatif. Alasannya, kelas menengah ke atas akan meninggalkan kota karena mereka lebih senang memanfaatkan wisata ke luar negeri.
Untuk kelas menengah ke bawah, lanjut Alphonzus, akan banyak meninggalkan kota-kota besar untuk berwisata di daerah-daerah.
"Jadi saya kira kalau pusat perbelanjaan lebih menyukai kalau hari libur yang kejepit itu. Kenapa, karena waktunya sangat tanggung atau kurang lama kalau harus melakukan perjalanan jauh, sehingga meningkatkan peluang pergi ke pusat perbelanjaan saja," beber dia.
Baginya, baik dampak positif dan negatif tentunya harus bisa diimbangi. Jadi berharap pemerintah bisa memberikan perhatian kepada sektor pariwisata yang mengalami dampak yang paling berat sebetulnya selama Covid-19 kemarin selama tiga tahun.
"Pariwisata bisa dibilang mencapai titik nol (0), sedangkan teman-teman di industri manufaktur masih bisa mengalami dan masih ada hasil melakukan kegiatan aktivitas fisik yang berhubungan dengan ekspor dan sebagainya. Jadi begitu biar kita harus memikirkan kedua sisi," ucapnya.
Jadi nanti tentunya diharapkan kepada masyarakat yang sudah melakukan libur panjang, para pekerja bisa meningkatkan kualitas kerjanya dan semangat karena sudah kembali segar atau refresh untuk bisa beraktivitas jauh lebih tinggi dari sebelumnya.
"Jadi saya kira hal-hal ini kita pertimbangkan bersama begitu. Saya kira pemerintah juga setelah ini sekira di tahun-tahun berikutnya mungkin bisa mempertimbangkan hari libur atau cuti bersamanya tidak perlu sampai terlalu panjang dan lama, karena tentunya industri pariwisata juga sudah mulai pulih kembali," saran Alphonzus.
Editor: Maswin
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
FollowBaca Berita Lainnya di Google News
Read Now


