Industri Tekstil Butuh Dukungan Lebih di Tengah Ancaman Tarif AS
TANGERANG, investor.id – Ketua Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo), Shinta Kamdani mengatakan bahwa industri Tekstil dan Produk Tekstil (TPT) seperti produk sepatu dan furnitur akan terimbas paling besar dari kebijakan tarif resiprokal AS. Terlebih, industri tekstil tanah air saat ini masih tertekan.
Shinta menjelaskan, tarif Trump mungkin tidak terlalu mengkhawatirkan, jika Indonesia dikenakan tarif impor yang setara dengan negara lain. Tarif AS yang dikenakan lebih rendah untuk negara lain daripada Indonesia berpotensi mengurangi permintaan produk-produk dari Indonesia.
Sebagai contoh, Vietnam diberlakukan tarif lebih rendah oleh AS yang rencananya hanya sebesar 20%. Tarif resiprokal AS bagi Vietnam yang lebih rendah tersebut berpotensi menurunkan daya saing Indonesia terutama di industri padat karya.
Baca Juga:
Angin Harapan IEU-CEPA“Vietnam adalah salah satu kompetitor terbesar Indonesia di industri padat karya misalnya produk sepatu. Jadi kalau Vietnam dikenakan tarif 20%, maka bisa menjadi peluang bagi mereka untuk mengambil pasar ekspor RI ke AS,” ujar Shinta saat ditemui di kantor B-Universe, Tangerang, Selasa (15/7/2025).
Dia mengatakan, ketika ekspor Indonesia turun terutama produk tekstil ke AS, maka efek domino yang ditimbulkan yakni pemutusan hubungan kerja (PHK). Hal itu mengingat pangsa pasar ekspor tekstil dan produk tekstil Indonesia tergolong cukup besar ke AS.
Efek lainnya yang diakibatkan oleh tarif impor AS sebesar 32% yakni potensi praktik dumping dari China ke Indonesia. China yang terkena tarif tinggi AS, kemungkinan melirik pasar Indonesia yang merupakan salah satu negara dengan jumlah penduduk terbesar di dunia.
Shinta menambahkan, tarif tinggi AS nantinya juga bakal turut berpengaruh bagi volatilitas nilai tukar rupiah. Tak hanya itu, bahan baku berpotensi ikut terkerek naik, mengingat sekitar 70% bahan baku di berbagai industri di Indonesia berasal dari impor.
“Perlu dukungan bagi sektor padat karya karena sektor ini sudah tertekan. Kita juga sudah minta pemerintah untuk insentif maupun stimulus, baik fiskal ataupun non fiskal. Saya rasa dukungan ini harus jadi perhatian agar produk-produk kita kompetitif,” imbuh Shinta.
Editor: Prisma Ardianto
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
FollowBaca Berita Lainnya di Google News
Read NowBerita Terkait
Berita Terkini
Kejutkan Dunia, Pemimpin Militer Burkina Faso Lontarkan Pernyataan Kontroversial
Pemimpin militer Burkina Faso Ibrahim Traore lontarkan pernyataan kontroversial, sebut demokrasi membunuh dan minta rakyat lupakan pemilu.KLH dan Pemprov Sulsel Bangun PSEL dengan Investasi Rp 3 Triliun
Kementerian LH bersama Pemprov Sulsel memulai pembangunan Pengolah Sampah Energi Listrik (PSEL) dengan nilai investasi Rp 3 triliun.Strategi Trisula (TRIS) Genjot Kinerja 2026
PT Trisula International Tbk (TRIS) menyiapkan strategi untuk memacu kinerja perusahaan pada tahun 2026.Perkuat Kapasitas Serapan, Bulog akan Bangun 100 Gudang Penyimpanan Baru
Perum Bulog akan menambah 100 gudang penyimpanan untuk memperkuat infrastruktur pascapanen dan meningkatkan kapasitas serapan petani.Presiden Prabowo akan Sambut Kedatangan 3 Jenazah Prajurit TNI dari Lebanon
Presiden Prabowo dijadwalkan menyambut kedatangan tiga jenazah prajurit TNI yang gugur saat menjalankan misi perdamaian di Lebanon.Enam Minggu Perang, Ribuan Nyawa Melayang dan 3 TNI Gugur
Update korban perang Timur Tengah: 3.500 tewas di Iran, 13 tentara AS gugur, dan 3 prajurit TNI Indonesia tewas saat tugas PBB di Lebanon.Tag Terpopuler
Terpopuler






