Sabtu, 4 April 2026

Insentif EV Terancam Berakhir, DEN Wanti-wanti Tekanan Subsidi BBM

Penulis : Happy Amanda Amalia
15 Jan 2026 | 15:58 WIB
BAGIKAN
Ilustrasi Seorang pria sedang menghubungkan pengisi daya ke mobil listrik di stasiun pengisian. (Freepik)
Ilustrasi Seorang pria sedang menghubungkan pengisi daya ke mobil listrik di stasiun pengisian. (Freepik)

JAKARTA, investor.id — Akselerasi pengembangan ekosistem kendaraan listrik (electric vehicle/EV) di Indonesia diperkirakan menghadapi tantangan pada awal 2026. Hal tersebut seiring wacana pemerintah untuk tidak melanjutkan sejumlah insentif fiskal yang selama ini menopang pertumbuhan pasar EV.

Anggota Dewan Energi Nasional (DEN), M. Kholid Syeirazi menilai penghentian stimulus tersebut berisiko menekan penjualan kendaraan listrik di tingkat ritel. Sejumlah fasilitas yang akan berakhir tahun ini antara lain pembebasan bea masuk mobil listrik berbasis baterai (battery electric vehicle/BEV) impor utuh (completely built up/CBU) serta skema Pajak Pertambahan Nilai Ditanggung Pemerintah (PPN DTP) sebesar 10%.

Kholid, yang juga menjabat Direktur Eksekutif Center for Energy Policy. mengatakan, pelemahan minat masyarakat beralih ke EV berpotensi berdampak pada meningkatnya beban subsidi bahan bakar minyak (BBM). Risiko tersebut dinilai kian besar karena sistem penyaluran subsidi BBM di Indonesia masih bersifat terbuka.

Advertisement

“Subsidi seharusnya diberikan secara tertutup. Terlepas dari ada atau tidaknya EV, subsidi BBM kita memang belum tepat sasaran. Sistem terbuka sangat rawan moral hazard dan penyimpangan,” ujarnya.

Kholid lebih lanjut menjelaskan bahwa penghentian insentif tidak hanya mendorong kenaikan harga kendaraan listrik, tetapi juga berpotensi menurunkan minat konsumen yang relatif sensitif terhadap harga. Selama ini, insentif fiskal berperan sebagai pendorong permintaan (demand booster) agar konsumen beralih dari kendaraan berbahan bakar fosil (internal combustion engine/ICE) ke EV.

“PPN merupakan salah satu demand booster penjualan. Tanpa insentif tersebut, kenaikan harga per unit bisa mencapai sekitar 15%,” katanya.

Meski demikian, Kholid memahami langkah pemerintah menghentikan stimulus fiskal sebagai upaya menjaga ketahanan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) dan membuka ruang fiskal bagi program prioritas di bawah pemerintahan Presiden Prabowo Subianto.

Ia juga menekankan, pemerintah tetap perlu mempertahankan dukungan terhadap industri EV melalui instrumen lain, seperti pajak daerah yang lebih rendah atau stimulus nonfiskal, termasuk pembebasan dari kebijakan ganjil-genap.

Hingga kini, pelaku industri otomotif dan calon konsumen masih mencermati dampak kenaikan harga di tingkat dealer terhadap penjualan nasional, khususnya pada kuartal pertama 2026.

“Yang ditunggu konsumen adalah insentif pengganti. Jika PPN DTP dan relaksasi bea impor CBU dicabut, harapannya ada pada instrumen pajak lain. Selama pajaknya tetap rendah, itu masih bisa menjadi demand booster bagi pasar,” ucap Kholid.

Editor: Happy Amanda Amalia

Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id

Follow

Baca Berita Lainnya di Google News

Read Now
BAGIKAN

Berita Terkait


Berita Terkini


National 22 menit yang lalu

Prabowo dan SBY Lepas Jenazah 3 Prajurit TNI yang Gugur di Lebanon

Presiden Prabowo dan mantan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono turut melepas tiga prajurit TNI yang gugur di Lebanon untuk dimakamkan.
InveStory 34 menit yang lalu

Inspiratif! Rayyan Shahab Diterima 15 Kampus Top Dunia Tanpa Kursus Bahasa Inggris

Siswa MAN IC Pekalongan, Ahmad Ali Rayyan Shahab mencatat prestasi luar biasa. Di usia 17 tahun dia diterima 15 kampus dunia.
Business 35 menit yang lalu

Private AI Bantu Dunia Bisnis Kurangi Risiko 

- Tekanan terhadap perusahaan Indonesia saat ini terasa dari dua arah sekaligus. Di satu sisi, semua orang bicara soal AI, mulai dari chatbot, analitik prediktif, sampai agen AI yang bisa mengotomatisasi proses bisnis.
Business 59 menit yang lalu

MPMX Raih Laba Bersih Rp 462 Miliar pada 2025

PT Mitra Pinasthika Mustika Tbk (MPMX), perusahaan konsumer  otomotif dan transportasi di Indonesia hari ini melaporkan hasil kinerja keuangan  untuk tahun buku 2025 yang telah diaudit. Perseroan tetap mempertahankan fundamental  bisnis yang solid di tengah dinamika kondisi pasar.  
Market 4 jam yang lalu

Pizza Hut (PZZA) Balikkan Rugi Jadi Laba

PT Sarimelati Kencana Tbk (PZZA) membalikkan kinerja keuangan pada 2025 dengan mencetak laba bersih tahun berjalan sebesar Rp 24,75 miliar.
National 4 jam yang lalu

Jenazah Prajurit TNI Gugur dalam Misi Perdamaian UNIFIL Tiba di Indonesia

Tiga jenazah prajurit TNI yang gugur jalankan tugas di Lebanon tiba di tanah air dan dijadwalkan akan diterima Presiden Prabowo Subianto.

Tag Terpopuler


Copyright © 2026 Investor.id
PT. Koran Media Investor Indonesia