Iran Tutup Selat Hormuz, Ketahanan Energi RI dalam Posisi Siaga
JAKARTA, investor.id – Ketegangan geopolitik di Teluk Persia mencapai titik kritis setelah Iran dilaporkan menutup akses di Selat Hormuz, jalur ekspor minyak paling strategis di dunia. Kabar penutupan ini muncul dari misi angkatan laut Uni Eropa, Aspides, yang menerima pesan dari Garda Revolusi Iran terkait pelarangan melintas bagi kapal tanker.
Meski otoritas Iran belum memberikan konfirmasi resmi, kabar ini langsung memicu kekhawatiran krisis energi global. Selat Hormuz merupakan chokepoint utama yang mengalirkan sekitar 20% pasokan minyak dunia setiap harinya.
Pengamat Energi, Sefriyanto, memperingatkan bahwa gangguan di jalur ini akan memicu lonjakan harga minyak mentah secara instan. “Pasar energi sangat sensitif terhadap risiko geopolitik. Penutupan ini akan memicu lonjakan premi risiko (risk premium) dalam perdagangan berjangka,” ujarnya, Minggu (1/3/2026).
Skenario terburuk membayangi distribusi minyak dari produsen utama seperti Arab Saudi, UEA, Kuwait, dan Irak. Jika kapal harus memutar melalui Tanjung Harapan di Afrika Selatan, sehingga waktu tempuh akan bertambah 10–15 hari dengan biaya logistik yang melonjak drastis.
Bagi Indonesia, situasi ini menjadi alarm bagi ketahanan energi nasional. Ketergantungan tinggi pada impor minyak mentah dan BBM membuat APBN rentan terhadap tekanan fiskal. Sefriyanto menyebut beberapa implikasi strategis, mulai dari membengkaknya subsidi energi, defisit neraca perdagangan migas, hingga tekanan inflasi pada sektor logistik.
“Dalam konteks ini, peran SKK Migas dan Kementerian ESDM menjadi krusial dalam menjaga stabilitas pasokan, mempercepat peningkatan lifting, serta optimalisasi produksi dari blok-blok eksisting,” imbuh Sefriyanto.
Sebagai langkah mitigasi jangka panjang, pemerintah didorong untuk segera meningkatkan cadangan strategis (strategic petroleum reserve) minimal untuk 30–90 hari. Selain itu, percepatan transisi ke energi baru terbarukan (EBT) dan biofuel seperti B35/B40 menjadi prasyarat mutlak untuk mengurangi ketergantungan impor.
Dia bilang, eskalasi antara Iran kontra Israel dan AS tidak hanya berdimensi militer, tetapi juga ekonomi global. Komunitas internasional tentu berkepentingan mencegah konflik meluas, karena dampaknya dapat memicu krisis energi seperti era 1970-an.
“Harapan besar tertuju pada jalur diplomasi agar ketegangan segera mereda. Stabilitas di Selat Hormuz berarti stabilitas harga energi dunia. Dan bagi Indonesia, momentum ini menjadi pengingat bahwa kedaulatan energi adalah prasyarat mutlak bagi ketahanan nasional dan keberlanjutan pembangunan ekonomi,” tandas Sefriyanto.
Editor: Prisma Ardianto
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
FollowBaca Berita Lainnya di Google News
Read NowBerita Terkait
Berita Terkini
Astronot Artemis II Bingkai Keindahan Bumi yang Menakjubkan
Astronot Artemis II bagikan foto Bumi yang menakjubkan dari angkasa. Perjalanan manusia pertama menuju Bulan setelah lebih dari 50 tahun.Banjir Setinggi 30-80 cm Rendam Sejumlah Wilayah di Tangerang Selatan
Hujan deras yang mengguyur sejak pagi membuat sejumlah wilayah di Tangerang Selatan terendam banjir dengan ketinggian 30-80 cm.Kejutkan Dunia, Pemimpin Militer Burkina Faso Lontarkan Pernyataan Kontroversial
Pemimpin militer Burkina Faso Ibrahim Traore lontarkan pernyataan kontroversial, sebut demokrasi membunuh dan minta rakyat lupakan pemilu.KLH dan Pemprov Sulsel Bangun PSEL dengan Investasi Rp 3 Triliun
Kementerian LH bersama Pemprov Sulsel memulai pembangunan Pengolah Sampah Energi Listrik (PSEL) dengan nilai investasi Rp 3 triliun.Strategi Trisula (TRIS) Genjot Kinerja 2026
PT Trisula International Tbk (TRIS) menyiapkan strategi untuk memacu kinerja perusahaan pada tahun 2026.Perkuat Kapasitas Serapan, Bulog akan Bangun 100 Gudang Penyimpanan Baru
Perum Bulog akan menambah 100 gudang penyimpanan untuk memperkuat infrastruktur pascapanen dan meningkatkan kapasitas serapan petani.Tag Terpopuler
Terpopuler






