Minggu, 21 Juni 2026

Zulhas: 1.000 Ton Beras Impor dari AS Bukan untuk Konsumsi Umum

Penulis : Ricki Putra Harahap
2 Mar 2026 | 22:15 WIB
BAGIKAN
Menteri Koordinator Bidang Pangan, Zulkifli Hasan di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Senin (2/3/2026). (B-Universe Photo/Ricki Putra Harahap)
Menteri Koordinator Bidang Pangan, Zulkifli Hasan di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Senin (2/3/2026). (B-Universe Photo/Ricki Putra Harahap)

JAKARTA, investor.id – Menteri Koordinator Bidang Pangan, Zulkifli Hasan, menegaskan bahwa rencana impor 1.000 ton beras dari Amerika Serikat (AS) merupakan komoditas kategori beras khusus. Beras tersebut tidak ditujukan untuk pasar konsumsi umum masyarakat Indonesia, melainkan untuk segmen kebutuhan spesifik.

Langkah impor ini merupakan bagian dari perjanjian dagang resiprokal antara Indonesia dan Amerika Serikat. Dalam kesepakatan tersebut, Indonesia memiliki kewajiban untuk mengimpor komoditas pangan dari AS dengan total nilai mencapai US$ 4,5 miliar.

Zulkifli Hasan, yang akrab disapa Zulhas, menjelaskan bahwa beras khusus ini diperuntukkan bagi kebutuhan tertentu, seperti pasokan restoran internasional atau konsumen dengan persyaratan kesehatan khusus.

“1.000 ton itu perjanjian (dengan AS) itu mengenai beras khusus, seperti beras itu ada beras jepang, ada basmati disebut beras khusus, kalau beras khusus ada beras yang buat orang kena gula gitu. Kita yang jelas bukan beras itu bukan yang buat makanan kita,” ujar Zulhas saat ditemui di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Senin (2/3/2026).

ADVERTISEMENT

Menurut Zulhas, skema impor beras khusus merupakan hal yang lazim dalam hubungan dagang internasional. Ia mencontohkan kerja sama serupa dengan Jepang yang mencakup pengadaan beras khusus guna memenuhi standar bahan baku restoran Jepang yang beroperasi di tanah air.

“Kalau beras khusus ya memang ada, termasuk perjanjian kita dengan Jepang kan ada beras Jepang tuh, yang buat restoran-restoran Jepang kan dia berasnya khusus mendatangkan dari sana,” ucapnya.

Lebih lanjut, Zulhas menambahkan bahwa jenis beras khusus tersebut tidak diproduksi secara masif di dalam negeri karena faktor harga jual yang sangat tinggi, sehingga pasarnya sangat terbatas (segmented).

“Mahal itu, 100 ribu lebih 1 kilo kan. Siapa mau beli kan, yang beli kan yang makan di restoran Jepang aja, kalau yang Jepang kan gitu,” tutup Zulhas.

Editor: Prisma Ardianto

Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id

Follow

Baca Berita Lainnya di Google News

Read Now
BAGIKAN

Berita Terkait


Berita Terkini


Market 12 menit yang lalu

BBCA Dijagokan Lagi, Dana Besar Masuk

Saham BBCA (BCA) kembali dijagokan untuk perdagangan selanjutnya. Target harga saham BBCA tinggi. Dana besar masuk!
Business 40 menit yang lalu

KEK Industropolis Batang Jadi Magnet Investasi Global, Pimpin Transisi Industri Hijau

KEK Industropolis Batang jadi magnet investasi global, yang berada di jalur tepat untuk memimpin transisi industri hijau di Asia Tenggara.
Market 1 jam yang lalu

BERITA POPULER: Saham Murah BMRI Diserok hingga Rencana MSCI 23 Juni

Berita populer 24 jam terakhir, mulai dari saham murah BMRI diserok hingga rencana MSCI pada 23 Juni soal status pasar modal Indonesia.
International 6 jam yang lalu

Skandal Korupsi Spanyol: Istri PM Pedro Sanchez Diadili dan Paspornya Disita

Istri PM Spanyol Begoña Gómez resmi diadili atas kasus korupsi. Paspor disita dan kubu oposisi mendesak pemerintah untuk mundur.
National 7 jam yang lalu

Ilmuwan Peringatkan Konsekuensi Besar El Nino bagi Cuaca Global

Fenomena El Niño resmi tiba! Ilmuwan peringatkan potensi kekeringan parah dari Indonesia hingga Amazon serta ancaman rekor suhu terpanas.
Lifestyle 7 jam yang lalu

Devin/Faathir Raih Final Perdana BWF Super 300 di Macau Open 2026, Hasil Nyata Pembinaan Berkelanjutan

Capaian ini menandai perkembangan signifikan pasangan muda yang selama ini disiapkan sebagai bagian dari regenerasi bulu tangkis Nasional.
Copyright © 2026 Investor.id
PT. Koran Media Investor Indonesia