Sabtu, 4 April 2026

Skenario Terburuk: Produksi Pangan Global Bisa Runtuh Imbas Perang di Timur Tengah

Penulis : Prisma Ardianto
4 Mar 2026 | 23:02 WIB
BAGIKAN
Pekerja memindahkan pupuk ke kapal untuk didistribusikan ke Nusa Tenggara Barat (NTB) di Pelabuhan Tanjungwangi, Banyuwangi, Jawa Timur, baru-baru ini. (ANTARA FOTO/Budi Candra Setya)
Pekerja memindahkan pupuk ke kapal untuk didistribusikan ke Nusa Tenggara Barat (NTB) di Pelabuhan Tanjungwangi, Banyuwangi, Jawa Timur, baru-baru ini. (ANTARA FOTO/Budi Candra Setya)

CANBERRA/JAKARTA, investor.id – Konflik yang meluas antara AS-Israel dan Iran kini mengancam ketahanan pangan dunia melalui lonjakan harga pupuk. Penutupan akses di Teluk Persia dan Selat Hormuz telah melumpuhkan rute transportasi utama bagi sepertiga ekspor urea global, memicu kekhawatiran akan krisis pasokan yang lebih parah dibandingkan masa awal perang Rusia-Ukraina.

Josh Linville, ahli komoditas dari StoneX, menyebut situasi ini sebagai "skenario terburuk" karena terjadi saat belahan bumi utara memasuki musim semi—periode puncak kebutuhan pupuk. Di pasar New Orleans, harga urea melonjak tajam hingga $520–$550 per short ton hanya dalam hitungan hari.

“Ini tidak bisa terjadi pada waktu yang lebih buruk dalam setahun. Tidak pernah ada waktu yang baik. Tapi ini mungkin seburuk-buruknya,” ujar Linville, melansir Nikkei Asia pada Rabu (4/3/2026) malam.

Sementara itu, Ekonom pertanian Commonwealth Bank, Dennis Voznesenski, memperingatkan bahwa dampak kali ini bisa "lebih menyakitkan" bagi petani dibandingkan krisis 2022. Berbeda dengan perang Rusia-Ukraina yang mengerek harga gandum, konflik Iran tidak mempengaruhi aliran perdagangan biji-bijian secara langsung.

Advertisement

“Anda memiliki margin yang tertekan karena pendapatan Anda tidak meningkat, tetapi biaya Anda naik,” jelas Voznesenski. Kondisi ini memaksa petani menghadapi dilema: membeli pupuk mahal yang menekan laba, atau mengurangi dosis pupuk yang berisiko menurunkan hasil panen secara drastis.

Australia dan Indonesia menjadi dua negara yang sangat terdampak akibat ketergantungan tinggi pada impor dari kawasan Teluk. Australia mengimpor 64% kebutuhan ureanya dari negara-negara seperti Arab Saudi, Qatar, dan UEA. Direktur Eksekutif Fertilizer Australia, Stephen Annells, menyebut ini sebagai pengingat akan kerentanan strategis akibat menyusutnya basis manufaktur lokal.

Di Indonesia, para petani sawit mulai bersiap menghadapi "tsunami" harga. Sekjen Apkasindo, Rino Afrino dalam laporan Investor Daily hari ini, mencatat bahwa pupuk menyerap hingga 60% total biaya produksi sawit. Berkaca pada pengalaman 2022, harga pupuk KCL pernah melambung dari Rp 6.000 menjadi Rp 18.000 per kg.

“Yang paling menakutkan bagi kami para petani adalah kenaikan harga pupuk. Karena pupuk itu kita full impor kan. Kapan naik harga pupuk, tentu kita lihat korelasinya dengan minyak bumi yang sulit keluar dari Selat Hormuz,” ungkap Rino.

Jika gangguan di Selat Hormuz berlanjut dalam beberapa minggu ke depan, krisis ini diprediksi akan memaksa petani beralih ke tanaman yang kurang membutuhkan nitrogen atau menghadapi penurunan produksi pangan secara masal pada akhir tahun 2026.

Editor: Prisma Ardianto

Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id

Follow

Baca Berita Lainnya di Google News

Read Now
BAGIKAN

Berita Terkait


Berita Terkini


Market 2 jam yang lalu

Pizza Hut (PZZA) Balikkan Rugi Jadi Laba

PT Sarimelati Kencana Tbk (PZZA) membalikkan kinerja keuangan pada 2025 dengan mencetak laba bersih tahun berjalan sebesar Rp 24,75 miliar.
National 2 jam yang lalu

Jenazah Prajurit TNI Gugur dalam Misi Perdamaian UNIFIL Tiba di Indonesia

Tiga jenazah prajurit TNI yang gugur jalankan tugas di Lebanon tiba di tanah air dan dijadwalkan akan diterima Presiden Prabowo Subianto.
National 3 jam yang lalu

Gelar Munas, Hipmi Perkuat Peran Pengusaha Muda Hadapi Tekanan Global

Hipmi gelar Munas 2026 untuk memperkuat kontribusi pengusaha muda dalam perekonomian nasional di tengah tantangan ekonomi global.
International 4 jam yang lalu

Israel Gempur Beirut: Markas Hizbullah dan Jembatan Sungai Litani Hancur

Israel gempur Beirut dan hancurkan jembatan strategis di Sungai Litani. 1.300 orang tewas dalam sebulan, pasukan UNIFIL kembali jadi korban.
International 4 jam yang lalu

Gedung Big Tech AS Oracle Rusak Akibat Rudal Iran

Gedung Big Tech AS Oracle Dubai rusak akibat serpihan rudal Iran. 4 warga Bahrain terluka saat serangan udara kian meluas di kawasan Teluk.
International 4 jam yang lalu

Astronot Artemis II Bingkai Keindahan Bumi yang Menakjubkan

Astronot Artemis II bagikan foto Bumi yang menakjubkan dari angkasa. Perjalanan manusia pertama menuju Bulan setelah lebih dari 50 tahun.

Tag Terpopuler


Copyright © 2026 Investor.id
PT. Koran Media Investor Indonesia