Infrastruktur SPKLU Masih Jadi Penghambat Utama Adopsi Kendaraan Listrik
JAKARTA, investor.id – Direktur CORE Indonesia, Mohammad Faisal, menilai percepatan adopsi kendaraan listrik (electric vehicle/EV) di Tanah Air masih terganjal oleh lemahnya ekosistem pendukung. Meskipun harga kendaraan listrik kini semakin kompetitif, minimnya infrastruktur pengisian daya membuat konsumen masih ragu untuk beralih sepenuhnya dari kendaraan konvensional.
Faisal secara khusus menyoroti keterbatasan Stasiun Pengisian Kendaraan Listrik Umum (SPKLU) menjadi pertimbangan utama pasar. Faktor kemudahan akses, lokasi stasiun pengisian, hingga kecepatan pengisian daya (charging speed) menjadi variabel yang memengaruhi kepercayaan konsumen terhadap teknologi EV.
“Dari sisi ekosistem, ekosistem daripada infrastrukturnya). Nah ini kan yang salah satu yang dipertimbangkan oleh konsumen pada saat sekarang. Walaupun dia lebih murah tapi kemudian sistem charging (SPKLU) dan lain-lainnya itu masih banyak pertimbangan, kecepatannya (charging), lokasinya, dan lain-lain. Ini akan memperlambat juga adopsi dan kepercayaan dari konsumen,” ujar Faisal saat ditemui di Jakarta Pusat, Senin (13/4/2026).
Menurutnya, pemerintah tidak bisa hanya fokus pada target penjualan dan pemberian insentif kendaraan semata. Dibutuhkan kepastian kebijakan teknis yang lebih rinci, termasuk sistem insentif dan disinsentif bagi pelaku usaha yang ingin berinvestasi pada penyediaan infrastruktur pengisian daya jangka panjang.
Faisal mengakui bahwa arah kebijakan pemerintah dalam tiga tahun terakhir sudah cukup kuat memosisikan EV sebagai prioritas nasional. Namun, dunia usaha masih menanti aturan turunan yang dapat menjamin keberlangsungan investasi mereka.
“EV kan sebetulnya sudah didorong dari tiga tahun terakhir dan ada banyak insentif yang sudah diberikan pada saat itu. Terakhir saya ketemu Pak Presiden itu kemudian di-statement lagi bahwa EV ini akan menjadi salah satu prioritas. Tinggal bagaimana turunan kebijakan teknisnya itu yang lebih penting,” kata Faisal.
Terkait pasokan listrik, CORE menilai kapasitas agregat nasional saat ini sebenarnya mencukupi untuk mendukung transisi energi. Namun, tantangan terbesarnya adalah menerjemahkan ketersediaan daya tersebut ke dalam jaringan SPKLU yang merata dan didukung teknologi pengisian cepat.
“Saya pikir kalau yang sekarang itu dari listrik kan sebetulnya ada ya. Jadi maksudnya kapasitas agregatnya itu sebetulnya mencukupi. Nah tinggal bagaimana menerjemahkannya ke masing-masing SPKLU-nya gitu ya. Teknologinya supaya (pengisian) jadi lebih cepat,” kata Faisal.
Faisal mengingatkan, jika kendala di sisi hilir ini tidak segera diatasi, pertumbuhan kendaraan listrik di Indonesia akan sulit mencapai puncaknya. Harga yang terjangkau memang mampu menarik minat awal, tetapi ketersediaan stasiun pengisian dan kemudahan akses sehari-hari tetap menjadi penentu utama keputusan akhir konsumen.
Editor: Prisma Ardianto
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
FollowBaca Berita Lainnya di Google News
Read Now






