Nilai Tambah Hilirisasi Nikel Rendah
17 Apr 2026 | 11:00 WIB
JAKARTA,investor.id -Dalam peta industri kendaraan listrik global, Indonesia memiliki modal besar berupa cadangan nikel yang melimpah, bahkan diproyeksikan menyuplai hingga 70% kebutuhan dunia. Namun, Indonesia justru belum mampu mengonversi keunggulan tersebut menjadi kekuatan utama dalam industri baterai sel.
Peneliti Institut Teknologi Bandung (ITB) Agus Purwadi mengatakan, kondisi yang terjadi saat ini sebagai paradoks yang perlu segera diselesaikan. Indonesia, kata dia, masih terjebak pada aktivitas hilir terbatas seperti produksi bahan dasar nikel mulai dari Nickel Pig Iron (NPI), hingga nickel sulfate yang nilai tambahnya relatif rendah dibandingkan produksi baterai sel.

