Sabtu, 20 Juni 2026

Indodax Sebut Fundamental Tetap Jadi Aspek Penting

Penulis : Thresa Sandra Desfika
20 Jun 2026 | 19:38 WIB
BAGIKAN
Indodax. Ist
Indodax. Ist

JAKARTA, investor.id – Bitcoin kembali bergerak ke kisaran US$ 64.000 setelah pasar merespons hasil pertemuan Federal Open Market Committee (FOMC) terbaru yang dipimpin Ketua Federal Reserve, Kevin Warsh.

Meski The Fed mempertahankan suku bunga acuan di level 3,50%–3,75%, nada kebijakan yang lebih hawkish membuat pelaku pasar menyesuaikan ekspektasi terhadap potensi pelonggaran moneter dalam waktu dekat.

Chief Marketing Officer INDODAX, Aloysia Dian, mengatakan bahwa koreksi pasca-FOMC merupakan bagian yang lazim dari dinamika pasar global, terutama ketika terjadi perubahan ekspektasi terkait kebijakan moneter global.

“Volatilitas seperti ini bukan sesuatu yang baru bagi pasar aset kripto. Yang terpenting adalah investor memahami bahwa pergerakan harga jangka pendek seringkali dipengaruhi sentimen makro, sehingga keputusan investasi sebaiknya tetap didasarkan pada riset dan strategi yang matang,” ujar Aloysia dalam keterangan resmi, Sabtu (20/6/2026).

ADVERTISEMENT

Sentimen tersebut turut tercermin pada arus dana institusional. ETF spot Bitcoin dan Ethereum di Amerika Serikat tercatat mengalami arus keluar bersih (net outflow) US$ 112,8 juta pasca-FOMC, menunjukkan sikap yang lebih defensif dari sebagian pelaku pasar.

“Setiap periode volatilitas dapat menjadi momentum untuk mengevaluasi kembali tujuan investasi, profil risiko, dan strategi yang digunakan. Karena itu, kami selalu mengingatkan masyarakat untuk melakukan Do Your Own Research (DYOR), menerapkan strategi investasi berkala seperti Dollar Cost Averaging (DCA), dan menghindari keputusan yang didorong oleh fear maupun euforia pasar,” tambahnya.

Meski demikian, Aloysia menyebutkan bahwa investor perlu melihat perkembangan pasar secara lebih komprehensif dan tidak berlarut pada sentimen jangka pendek. Menurutnya, faktor fundamental seperti tingkat adopsi aset digital dan kripto, perkembangan teknologi blockchain, serta partisipasi investor jangka panjang tetap menjadi aspek penting yang perlu diperhatikan.

Selain mempertahankan suku bunga, The Fed juga menghapus forward guidance, yaitu panduan atau sinyal eksplisit dari bank sentral mengenai kemungkinan arah kebijakan suku bunga ke depan. Langkah ini membuat pasar semakin bergantung pada data ekonomi yang lebih aktual seperti inflasi, pasar tenaga kerja, dan pertumbuhan ekonomi dalam membentuk ekspektasi kebijakan moneter ke depan.

Kevin Warsh juga mengumumkan pembentukan lima gugus tugas (task forces) yang akan mengkaji berbagai aspek kebijakan The Fed, mulai dari komunikasi, neraca keuangan, sumber data, kerangka pengendalian inflasi, serta produktivitas, lapangan kerja, dan dampak artificial intelligence (AI) terhadap perekonomian.

Kelima gugus tugas tersebut akan melibatkan ahli dari dalam dan luar The Fed untuk mengevaluasi kebijakan yang berjalan serta menyusun rekomendasi pengembangan ke depan. Langkah ini mencerminkan upaya The Fed meninjau kembali kerangka kebijakan moneternya di tengah perubahan ekonomi global dan perkembangan teknologi.

Aloysia menilai bahwa salah satu aspek yang menarik untuk dicermati adalah masuknya produktivitas dan dampak AI terhadap perekonomian sebagai bagian dari fokus kajian.

“Menariknya, salah satu fokus kajian The Fed adalah produktivitas dan dampak AI terhadap ekonomi. Ini menunjukkan bahwa bank sentral mulai memperhatikan faktor-faktor struktural baru yang berpotensi membentuk pertumbuhan ekonomi di masa depan. Sehingga, pelaku pasar juga perlu melihat perkembangan ini sebagai bagian dari gambaran yang lebih besar, tak hanya bereaksi terhadap pergerakan harga harian,” tutup Aloysia.

Sebagai top crypto exchange Indonesia, INDODAX juga mengingatkan para investor untuk tetap menerapkan manajemen risiko, melakukan diversifikasi sesuai kebutuhan, berinvestasi secara rutin dengan metode DCA untuk meredam volatilitas, serta melakukan riset secara mandiri sebelum mengambil keputusan investasi. Edukasi dan pemahaman yang kuat terhadap aset kripto dinilai menjadi fondasi penting dalam menghadapi dinamika pasar yang terus berkembang.

Editor: Theresa Sandra Desfika

Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id

Follow

Baca Berita Lainnya di Google News

Read Now
BAGIKAN

Berita Terkait


Berita Terkini


Lifestyle 16 menit yang lalu

Hotto Gaet Indro Warkop

Brand minuman multigrain Hotto resmi meluncurkan kampanye "Karena Kamu Harus Sehat".
Business 33 menit yang lalu

Gandeng Indomaret, FolaPlay (IRSX) Perluas Akses Hiburan Digital

Folaplay menjalin kerja sama distribusi dengan Indomaret yang dikelola oleh PT Indomarco Prismatama.
Lifestyle 54 menit yang lalu

Epidemiolog Prediksi Kasus Demam Dengue Meningkat pada 2027

Epidemiolog memprediksi kasus demam berdarah akan meningkat pada 2027. Kondisi ini dipicu oleh cuaca ekstrem dan El Nino.
Market 1 jam yang lalu

DOSS Bagi Dividen 14,8% dari Laba

PT Global Sukses Digital Tbk (DOSS) akan membagikan dividen interim sebesar Rp 5,17 miliar untuk tahun buku 2025.
Finance 1 jam yang lalu

Optimalisasi Pengelolaan Dana, Fintech Ini Bangun Kolaborasi Strategis Global

SplitPay berperan pada sektor Financial Infrastructure dan Fund Development yang mendukung pengembangan teknologi keuangan.
Business 1 jam yang lalu

Chandra Asri Group Klarifikasi Kepemilikan Saham PRDA Hanya Bagian dari Pengelolaan Portofolio Investasi

Chandra Asri Group menegaskan pembelian saham PRDA pada April 2026 merupakan bagian dari pengelolaan portofolio investasi jangka pendek.
Copyright © 2026 Investor.id
PT. Koran Media Investor Indonesia