Kolaborasi Jadikan RI Penggerak Ekonomi Halal Dunia
JAKARTA, Investor.id - Forum bisnis B57+ Asia Pacific Regional Chapter membidik industri halal sebagai langkah konkret menjadikan Indonesia sebagai motor penggerak ekonomi halal dunia.
Langkah tersebut diawali dengan gelaran halalbihalal yang dihadiri Menteri Agama (Menag) Nasaruddin Umar, Menteri Ekonomi Kreatif Teuku Riefky Harsya, Ketua Umum B57+ Asia Pacific Regional Chapter Arsjad Rasjid, dan sejumlah perwakilan duta besar negara-negara anggota B57+, salah satunya Duta Besar Uni Emirat Arab untuk Indonesia Abdulla Salem Al Dhaheri.
Pertemuan yang juga dihadiri sejumlah organisasi masyarakat Islam dan para ekonom ini berfokus pada pembahasan ekonomi halal dan peluang Indonesia sebagai motor penggerak industri halal dunia.
Dalam sambutannya, Menag Nasaruddin Umar mengatakan, peluncuran B57+ Asia Pacific Regional Chapter pada 3 Februari 2026 menjadi milestone penting hadirnya platform yang dipimpin sektor swasta untuk menghubungkan 57 negara anggota Organisasi Kerja Sama Islam (OKI) di tengah krisis geopolitik dan kondisi dunia yang sedang bergejolak.
“Saya optimistis Islamic Economic Multilateralism, dalam hal ini B57+ Asia Pacific Chapter, mampu menghadapi tantangan yang ada berdasarkan pengalaman menghadapi krisis sebelumnya,” kata Menag.
Menurut Menag, ekonomi halal tidak lagi hanya dilihat dari perspektif ibadah, melainkan sebagai industri raksasa yang diperkirakan bernilai lebih dari US$3 triliun secara global pada 2026. Sektor makanan halal, keuangan syariah, kosmetik, hingga halal lifestyle kini menjadi arus utama ekonomi dunia.
Arsjad Rasjid mengungkapkan, di saat dunia sedang penuh ketidakpastian, memperkuat kedamaian dan kemakmuran menjadi lebih penting, sehingga dibutuhkan platform yang mampu membangun kepercayaan dan menjembatani pasar untuk mendorong pertumbuhan ekonomi. Salah satu pasar yang paling siap dan potensial adalah ekonomi halal.
Arsjad menekankan potensi ekonomi halal global pada 2030 yang diproyeksikan mencapai US$9,5 triliun, melampaui batas agama, budaya, dan geografi. Namun, potensi tersebut dapat lebih bermakna apabila dibangun kolaborasi yang terorganisir, terpercaya, dan terhubung, salah satunya melalui kehadiran B57+.
“Misinya B57+ sederhana, tetapi penuh ambisi, yakni menerjemahkan kekuatan bersama menjadi kemakmuran bersama. Hal ini dicapai melalui perdagangan, investasi, dan konektivitas bisnis yang konkret,” ucap Arsjad sekaligus menegaskan peran B57+ sebagai jembatan kepemimpinan kerja sama ekonomi halal di kawasan.
Menurut dia, halal tidak terbatas pada urusan pangan, tetapi juga lifestyle yang berakar pada kepercayaan, kualitas, dan integritas yang saat ini menjadi standar yang relevan di berbagai sektor, mulai dari fesyen dan kesehatan hingga logistik dan keuangan syariah.
Sebagai bagian dari tugas regional chapter di Asia Pasifik, Arsjad menambahkan, pihaknya akan membangun perwakilan B57+ di sejumlah negara non-OKI, antara lain negara-negara ASEAN seperti Vietnam, hingga Australia dan Selandia Baru.
Sekretaris Jenderal B57+ Indonesia Eka Sastra menambahkan, posisi Indonesia sebagai negara dengan populasi muslim terbesar di dunia sudah sepatutnya menjadikan Indonesia motor produktivitas dan ekonomi halal nomor satu secara global.
“Kami menyadari bahwa tujuan besar ini tidak mungkin kami capai sendiri-sendiri. Upaya ini tentu membutuhkan kolaborasi dan kerja sama,” tutup dia.
Editor: Harso Kurniawan
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
FollowBaca Berita Lainnya di Google News
Read Now






