Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Bangunan hotel di Bali. Foto ilustrasi: IST

Bangunan hotel di Bali. Foto ilustrasi: IST

Omzet Bisnis Hotel Tembus Rp 6,73 Triliun

Edo Rusyanto, Rabu, 15 Januari 2020 | 13:11 WIB

JAKARTA, investor.id – Bisnis hotel di Indonesia dinilai masih cukup menjanjikan jika merujuk pada pendapatan 54 emiten properti dan hotel yang tercatat di Bursa Efek Indonesia (BEI). Per 30 September 2019, mereka mampu mengantongi pendapatan sekitar Rp 6,73 triliun. Angka itu naik tipis, yakni sekitar 2% dibandingkan dengan periode sama 2018 yang sekitar Rp 6,61 triliun.

Selain sebagai sumber pendapatan berkesinambungan (recurring income), bisnis hotel juga menjadi penjaga keseimbangan arus kas perusahaan saat bisnis properti didera pelemahan dalam beberapa tahun terakhir.

Demikian rangkuman pendapat Ketua DPD Real Estat Indonesia (REI) DKI Jakarta Arvin F Iskandar, Direktur PT Metropolitan Land Tbk (Metland) Wahyu Sulistio, Head of Investor Relations PT Surya Semesta Internusa Tbk Erlin Budiman, Direktur Eksekutif Indonesia Property Watch Ali Tranghanda, dan pengamat bisnis properti Panangian Simanungkalit. Mereka diwawancarai secara terpisah oleh Investor Daily, dari Jakarta, Selasa (14/1) dan baru-baru ini.

“Kami perkirakan pendapatan dari hotel akan naik 8% pada 2020 dibandingkan tahun 2019,” ujar Erlin Budiman.

Hotel Grand Melia Jakarta
Hotel Grand Melia Jakarta

Mengutip laporan keuangan Surya Semesta Internusa (SSI), Per 30 September 2019, pendapatan dari lini hotel naik tipis sekitar 1,32% menjadi Rp 600,87 miliar dibandingkan dengan Rp 593,02 miliar pada periode sama 2018. SSI memiliki tiga hotel bintang lima, yaitu Gran Melia Jakarta, Melia Bali Hotel, dan Banyan Tree Ungaran Resort. Selain itu, SSI memiliki dan mengoperasikan tujuh hotel bintang tiga dengan merek Batiqa yang tersebar di Karawang, Jababeka, Cirebon, Surabaya, Pekanbaru, Lampung, dan Palembang. “Kenaikan pada 2019 karena kinerja hotel kami di Bali sangat baik terutama dari sektor F&B dan room price-nya,” jelas Erlin Budiman.

Bali cukup menjanjikan bagi bisnis hotel lantaran kunjungan wisatawan, baik turis asing maupun lokal, terus meningkat. Pada 2019, khusus turis asing ditaksir menyentuh 6,7 juta orang, sedangkan tahun ini diprediksi menembus tujuh juta.

Bila SSI bisa mengantongi Rp 600,87 miliar, emiten lainnya, yakni PT Jakarta Setiabudi International Tbk (JSI), malah bisa mengantongi Rp 705,57 miliar, per 30 September 2019. Bagi JSI, pemasukan dari hotel justru tergolong tinggi ketimbang bisnis properti lainnya. Saat itu, lini hotel berkontribusi sekitar 58,61%.

Saat ini, perusahaan yang didirikan pada 1975 ini memiliki 10 hotel yang mencakup Grand Hyatt Bali, Hyatt Regency Bali, Hyatt Regency Yogyakarta, Mercure Resort Sanur, dan Mercure Convention Center Ancol. Lalu, POP! Hotel Malioboro Yogyakarta, POP! Hotel Pemuda Semarang, Ibis Budget Jakarta Menteng, Ibis Budget Jakarta Cikini, dan POP! Hotel Kemang Jakarta.

Recurring Income

Proyek vila Royal Venya Ubud
Proyek vila Royal Venya Ubud

Masih legitnya bisnis perhotelan membuat Metland merancang sejumlah proyek dalam beberapa tahun ke depan. Sepanjang triwulan III-2019, Metland mengantongi pendapatan Rp 84,03 miliar atau relatif turun tipis dibandingkan dengan periode sama 2018 yang sebesar Rp 85,06 miliar.

“Untuk tahun 2020, estimasi kami ada kenaikan berkisar 15-16% dengan mulai beroperasinya Hotel Horison Ultima Kertajati yang merupakan hotel bintang empat. Pada 2019, kontribusi bisnis hotel sekitar 30% terhadap recurring income perseroan,” papar dia.

Kini, Metland memiliki empat hotel yang telah beroperasi, yaitu @HOM Hotel Tambun melalui anak usaha, PT Metropolitan Permata Development (MPD). Lalu, Metland Hotel (Cirebon) di bawah PT Metropolitan Deta Graha (MDG) yang dimiliki secara tidak langsung melalui MPD. Selain itu, Hotel Horison Ultima Bekasi dan Hotel Horison Ultima Seminyak, Bali.

“Untuk tahun 2020-2022, hotel yang masuk dalam pipeline kami adalah Horison Ultima Kertajati, Royal Venya Ubud Villa & Suites, dan hotel di Gorontalo,” jelas Wahyu.

Panangian Simanungkalit. Foto: sp.beritasatu.com
Panangian Simanungkalit. Foto: sp.beritasatu.com

Sementara itu, menurut Panangian, bisnis hotel menjadi salah satu sumber pendapatan berkesinambungan (recurring income). “Untuk pengembang, saat ini, rata-rata masih kecil, yakni sekitar 10%,” ujar dia.

Panangian menambahkan, memang ada produk properti lainnya yang dapat menjadi sumber recurring income seperti perkantoran, mall, dan serviced apartment. “Tapi, hotel merupakan salah satu pilihan yang paling disukai oleh banyak pengembang,” tutur dia.

Ali Tranghanda. Sumber: youtube
Ali Tranghanda. Sumber: youtube

Dalam catatan IPW, kata Ali Tranghanda, selain bisnis hotel, sumber recurring income para pengembang antara lain sekolah, rumah sakit, dan mal. “Saat ini, sumbangan hotel berkisar 10-15% terhadap pendapatan para pengembang properti,” kata dia.

Di luar itu, tentu ada pengembang yang besaran recurring-nya lebih besar dari 15%. SSI merupakan salah satunya. Erlin mengatakan, recurring income SSI saat ini sekitar 30% dari total pendapatan. “Sebanyak 80% (recurring income) dari bisnis perhotelan,” ujar dia.

Menurut Arvin, di tengah ketidakpastian ekonomi dan penjualan properti, recurring menjadi sumber pendapatan “fixed” yang pasti untuk menutup semua biaya-biaya yang ada. “Bagi investor, dia mendapatkan pendapatan yang pasti (fixed),” kata dia.

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN

REKOMENDASI UNTUK ANDA