Sabtu, 4 April 2026

Meneropong Pergerakan Rupiah Pekan Depan

Penulis : Natasha Khairunisa
27 Feb 2026 | 17:30 WIB
BAGIKAN
Ilustrasi mata uang rupiah dan dolar AS. (Foto: ANTARA FOTO/Fathul Habib Sholeh/Spt)
Ilustrasi mata uang rupiah dan dolar AS. (Foto: ANTARA FOTO/Fathul Habib Sholeh/Spt)

JAKARTA, investor.id - Nilai tukar rupiah (IDR) diproyeksi rentan kembali memasuki zona merah pada perdagangan Senin depan, 2 Maret 2026.

Pada perdagangan sore ini, kurs rupiah ditutup melemah 34 poin terhadap dolar AS (USD), setelah sebelumnya sempat melemah 35 poin di level Rp 16.793 dari penutupan sebelumnya di level Rp 16.759. 

"Sedangkan untuk perdagangan Senin depan, mata uang rupiah fluktuatif namun ditutup melemah di rentang Rp 16.790 - Rp 16.820," ungkap Direktur PT. Traze Andalan Futures, Ibrahim Assuaibi dalam keterangan tertulis yang dibagikan pada Jumat (27/2/2026).

Advertisement

Ibrahim memproyeksi pergerakan kurs rupiah sepekan ke depan akan berada di kisaran Rp 16.750 - Rp 16.900.

Dia memaparkan, rupiah diprediksi melemah akibat sentimen geopolitik yang masih memanas antara Amerika Serikat dan Iran.

Selain itu, mata uang garuda juga dihantui sentimen terkait ketidakpastian tentang kebijakan perdagangan AS, setelah Mahkamah Agung negara itu memutuskan untuk membatalkan sebagian besar tarif perdagangan Presiden Donald Trump. 

Rupiah juga diproyeksi melemah seiring perhatian pasar global terhadap kebijakan suku bunga Federal Reserve (The Fed) yang diantisipasi akan bertahan pada pertemuan di bulan Maret dan April 2026.

"Selain itu, pasar sedang menilai kembali jalur kebijakan moneter The Fed karena para pembuat kebijakan tetap khawatir tentang inflasi yang tinggi," imbuhnya.

Dari sisi internal, rupiah diantisipasi terdampak reaksi pasar terhadap keputusan Departemen Perdagangan AS (DOC) untuk pengenaan bea masuk imbalan atas sel dan panel surya yang diimpor oleh perusahaan-perusahaan di India, Indonesia, dan Laos. Secara rinci, AS menetapkan tarif subsidi umum sebesar 125,87% untuk impor dari India, 104,38% untuk impor dari Indonesia, dan 80,67% untuk impor dari Laos.

Editor: Natasha Khairunisa

Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id

Follow

Baca Berita Lainnya di Google News

Read Now
BAGIKAN

Berita Terkait


Berita Terkini


Market 26 menit yang lalu

Strategi Trisula (TRIS) Genjot Kinerja 2026

PT Trisula International Tbk (TRIS) menyiapkan strategi untuk memacu kinerja perusahaan pada tahun 2026.
Business 26 menit yang lalu

Perkuat Kapasitas Serapan, Bulog akan Bangun 100 Gudang Penyimpanan Baru

Perum Bulog akan menambah 100 gudang penyimpanan untuk memperkuat infrastruktur pascapanen dan meningkatkan kapasitas serapan petani.
National 48 menit yang lalu

Presiden Prabowo akan Sambut Kedatangan 3 Jenazah Prajurit TNI dari Lebanon

Presiden Prabowo dijadwalkan menyambut kedatangan tiga jenazah prajurit TNI yang gugur saat menjalankan misi perdamaian di Lebanon.
International 50 menit yang lalu

Enam Minggu Perang, Ribuan Nyawa Melayang dan 3 TNI Gugur

Update korban perang Timur Tengah: 3.500 tewas di Iran, 13 tentara AS gugur, dan 3 prajurit TNI Indonesia tewas saat tugas PBB di Lebanon.
Business 1 jam yang lalu

Perum Bulog Catat Stok Beras  4,4 Juta Ton, Lampaui Target 2026

Perum Bulog mencatat stok beras nasional 4,4 juta ton melebihi target serapan sebesar 4 juta ton. Swasembada pangan optimistis tercapai.
International 1 jam yang lalu

Trump Usulkan ’Golden Dome’ dan Anggaran Perang Rp 25,5 Kuadriliun

Presiden Trump usulkan anggaran militer AS 2027 US$ 1,5 triliun. Fokus pada sistem pertahanan Golden Dome dan pangkas dana domestik.

Tag Terpopuler


Copyright © 2026 Investor.id
PT. Koran Media Investor Indonesia