Sabtu, 4 April 2026

Konflik Timur Tengah Picu Risk-Off Global

Penulis : Akmalal Hamdhi
1 Mar 2026 | 21:03 WIB
BAGIKAN
Sebuah proyektil yang datang meledak di atas air saat Israel mengeluarkan peringatan nasional menyusul serangannya terhadap Iran, di Teluk Haifa, Israel utara, Sabtu (28/2/2026). (Foto: AP/ Leo Correa)
Sebuah proyektil yang datang meledak di atas air saat Israel mengeluarkan peringatan nasional menyusul serangannya terhadap Iran, di Teluk Haifa, Israel utara, Sabtu (28/2/2026). (Foto: AP/ Leo Correa)

JAKARTA, investor.id – Eskalasi konflik bersenjata antara Iran kontra Israel dan Amerika Serikat (AS) bertransformasi menjadi ancaman serius bagi stabilitas ekonomi dunia. Pasar keuangan global mulai menunjukkan pola risk-off, di mana investor secara masif meninggalkan aset berisiko dan beralih ke instrumen aman (safe haven).

Pengamat Pasar Modal sekaligus Founder Republik Investor, Hendra Wardana, mengungkapkan bahwa ketegangan ini langsung memicu lonjakan harga komoditas. Harga emas tercatat menguat lebih dari 1%, sementara minyak mentah jenis West Texas Intermediate (WTI) dan Brent melonjak hampir 3%.

“Kenaikan harga ini dipicu kekhawatiran terganggunya pasokan energi dari kawasan Timur Tengah... Salah satu titik krusial yang menjadi perhatian pelaku pasar adalah Selat Hormuz,” ujar Hendra saat dihubungi, pada Minggu (1/3/2026).

Selat Hormuz merupakan urat nadi distribusi energi dunia yang melayani sekitar 30% perdagangan minyak global. Hendra memperingatkan bahwa hambatan distribusi di jalur sempit tersebut akan memaksa pasar melakukan repricing terhadap risiko pasokan global.

Advertisement

“Jika eskalasi konflik mengganggu arus kapal tanker di Selat Hormuz, harga minyak bisa melonjak lebih tinggi karena pasar akan menghitung ulang risiko pasokan,” jelasnya.

Lebih lanjut, dampak kenaikan harga energi ini diprediksi akan menciptakan efek domino yang luas. Hendra menilai situasi ini berpotensi memicu inflasi global, menekan nilai tukar mata uang, hingga memengaruhi arah kebijakan suku bunga di berbagai negara.

Di pasar domestik, tekanan terhadap pasar modal Indonesia datang dari dua sisi. Pertama, potensi arus keluar modal (capital outflow) akibat investor asing yang mengurangi eksposur di emerging market. Kedua, munculnya risiko inflasi impor akibat melambungnya harga energi dunia.

Secara teknikal, IHSG berpotensi melemah dan menguji level support klasik di 8.133. Jika level tersebut tertembus, area psikologis 8.000 akan menjadi batas pertahanan berikutnya, dengan resistance terdekat pada level 8.300.

Dalam situasi ketidakpastian geopolitik yang meningkat, Hendra memperkirakan volatilitas pasar keuangan global masih akan berlangsung dalam jangka pendek hingga menengah, seiring pelaku pasar terus mencermati perkembangan konflik di Timur Tengah.

Editor: Prisma Ardianto

Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id

Follow

Baca Berita Lainnya di Google News

Read Now
BAGIKAN

Berita Terkait


Berita Terkini


International 5 menit yang lalu

Astronot Artemis II Bingkai Keindahan Bumi yang Menakjubkan

Astronot Artemis II bagikan foto Bumi yang menakjubkan dari angkasa. Perjalanan manusia pertama menuju Bulan setelah lebih dari 50 tahun.
National 20 menit yang lalu

Banjir Setinggi 30-80 cm Rendam Sejumlah Wilayah di Tangerang Selatan

Hujan deras yang mengguyur sejak pagi membuat sejumlah wilayah di Tangerang Selatan terendam banjir dengan ketinggian 30-80 cm.
International 52 menit yang lalu

Kejutkan Dunia, Pemimpin Militer Burkina Faso Lontarkan Pernyataan Kontroversial

Pemimpin militer Burkina Faso Ibrahim Traore lontarkan pernyataan kontroversial, sebut demokrasi membunuh dan minta rakyat lupakan pemilu.
Business 53 menit yang lalu

KLH dan Pemprov Sulsel Bangun PSEL dengan Investasi Rp 3 Triliun

Kementerian LH bersama Pemprov Sulsel memulai pembangunan Pengolah Sampah Energi Listrik (PSEL) dengan nilai investasi Rp 3 triliun.
Market 1 jam yang lalu

Strategi Trisula (TRIS) Genjot Kinerja 2026

PT Trisula International Tbk (TRIS) menyiapkan strategi untuk memacu kinerja perusahaan pada tahun 2026.
Business 1 jam yang lalu

Perkuat Kapasitas Serapan, Bulog akan Bangun 100 Gudang Penyimpanan Baru

Perum Bulog akan menambah 100 gudang penyimpanan untuk memperkuat infrastruktur pascapanen dan meningkatkan kapasitas serapan petani.

Tag Terpopuler


Copyright © 2026 Investor.id
PT. Koran Media Investor Indonesia