Konflik Timur Tengah Picu Risk-Off Global
JAKARTA, investor.id – Eskalasi konflik bersenjata antara Iran kontra Israel dan Amerika Serikat (AS) bertransformasi menjadi ancaman serius bagi stabilitas ekonomi dunia. Pasar keuangan global mulai menunjukkan pola risk-off, di mana investor secara masif meninggalkan aset berisiko dan beralih ke instrumen aman (safe haven).
Pengamat Pasar Modal sekaligus Founder Republik Investor, Hendra Wardana, mengungkapkan bahwa ketegangan ini langsung memicu lonjakan harga komoditas. Harga emas tercatat menguat lebih dari 1%, sementara minyak mentah jenis West Texas Intermediate (WTI) dan Brent melonjak hampir 3%.
“Kenaikan harga ini dipicu kekhawatiran terganggunya pasokan energi dari kawasan Timur Tengah... Salah satu titik krusial yang menjadi perhatian pelaku pasar adalah Selat Hormuz,” ujar Hendra saat dihubungi, pada Minggu (1/3/2026).
Selat Hormuz merupakan urat nadi distribusi energi dunia yang melayani sekitar 30% perdagangan minyak global. Hendra memperingatkan bahwa hambatan distribusi di jalur sempit tersebut akan memaksa pasar melakukan repricing terhadap risiko pasokan global.
“Jika eskalasi konflik mengganggu arus kapal tanker di Selat Hormuz, harga minyak bisa melonjak lebih tinggi karena pasar akan menghitung ulang risiko pasokan,” jelasnya.
Lebih lanjut, dampak kenaikan harga energi ini diprediksi akan menciptakan efek domino yang luas. Hendra menilai situasi ini berpotensi memicu inflasi global, menekan nilai tukar mata uang, hingga memengaruhi arah kebijakan suku bunga di berbagai negara.
Di pasar domestik, tekanan terhadap pasar modal Indonesia datang dari dua sisi. Pertama, potensi arus keluar modal (capital outflow) akibat investor asing yang mengurangi eksposur di emerging market. Kedua, munculnya risiko inflasi impor akibat melambungnya harga energi dunia.
Secara teknikal, IHSG berpotensi melemah dan menguji level support klasik di 8.133. Jika level tersebut tertembus, area psikologis 8.000 akan menjadi batas pertahanan berikutnya, dengan resistance terdekat pada level 8.300.
Dalam situasi ketidakpastian geopolitik yang meningkat, Hendra memperkirakan volatilitas pasar keuangan global masih akan berlangsung dalam jangka pendek hingga menengah, seiring pelaku pasar terus mencermati perkembangan konflik di Timur Tengah.
Editor: Prisma Ardianto
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
FollowBaca Berita Lainnya di Google News
Read Now






