WHO Kecam Serangan ke Fasilitas Kesehatan di Iran
PARIS, investor.id – Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengeluarkan peringatan keras terkait rentetan serangan yang menyasar fasilitas kesehatan di Iran di tengah eskalasi konflik Timur Tengah. Direktur Jenderal WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus mendesak perlindungan bagi sistem kesehatan yang kian lumpuh akibat perang.
Melalui unggahan di media sosial X seperti dikutip AFP, Sabtu (4/4/2026), Tedros mengungkapkan sedikitnya 20 fasilitas kesehatan telah menjadi target serangan. Salah satu yang terdampak paling parah adalah Institut Pasteur di Teheran, pusat penelitian dan kesehatan masyarakat yang memiliki peran vital dalam penanganan darurat di negara tersebut.
Fasilitas Medis Terancam Lumpuh
Laporan dari WHO menyebutkan Institut Pasteur mengalami kerusakan signifikan hingga mengganggu layanan kesehatan. Namun, juru bicara Kementerian Kesehatan Iran, Hossein Kermanpour, serta kantor berita ISNA menyatakan produksi vaksin dan serum akan tetap diupayakan berlanjut meski gedung mengalami kerusakan berat.
"Untungnya, tidak ada karyawan Institut Pasteur yang terluka dalam serangan terbaru oleh Amerika Serikat dan rezim Zionis," tulis laporan ISNA melalui Telegram. Selain Institut Pasteur, RS Jiwa Delaram Sina dan perusahaan farmasi Tofigh Daru, produsen obat bius dan kanker, juga dilaporkan telah dihantam serangan pekan ini.
Perluasan Target Serangan
Pengamat menilai Amerika Serikat dan Israel mulai memperluas target serangan mereka. Jika pada minggu-minggu awal "Operasi Epic Fury" serangan difokuskan pada infrastruktur militer, kini fasilitas pendidikan, transportasi, hingga kesehatan mulai terkena dampak.
Israel berdalih beberapa universitas dan pusat riset yang menjadi target digunakan untuk penelitian militer. Padahal, berdasarkan Konvensi Jenewa, fasilitas kesehatan merupakan lokasi yang harus dilindungi dalam aturan perang internasional.
Krisis Kemanusiaan dan Pengungsian Massal
Selain di Iran, WHO menyerukan dukungan darurat sebesar US$ 30,3 juta untuk membantu sistem kesehatan di Irak, Yordania, Lebanon, dan Suriah. Perang yang pecah sejak akhir Februari 2026 ini telah menyebabkan pengungsian massal sekitar empat juta orang, menewaskan lebih dari 3.000 jiwa, dan melukai 30.000 lainnya.
Tedros memperingatkan risiko penularan penyakit serta bahaya lingkungan akibat pembakaran depot minyak dan penggunaan bom fosfor putih yang dapat menyebabkan luka bakar kimia serta cedera pernapasan parah bagi warga sipil.
Konflik bersenjata yang mengguncang kawasan Teluk bermula pada 28 Februari 2026, ketika Amerika Serikat dan Israel meluncurkan serangan gabungan ke Iran. Serangan ini dilakukan dengan dalih menghentikan ambisi Iran dalam mengembangkan senjata nuklir, sebuah tuduhan yang secara konsisten dibantah oleh Teheran.
Eskalasi ini dengan cepat berubah menjadi krisis kemanusiaan terbesar di kawasan tersebut dalam satu dekade terakhir. Ancaman Presiden AS Donald Trump untuk "membawa Iran kembali ke Zaman Batu" memicu kekhawatiran internasional akan kehancuran total infrastruktur sipil.
Penggunaan taktik yang sebelumnya terlihat di Gaza, seperti penargetan fasilitas medis dengan klaim penggunaan oleh militer, kini diterapkan dalam skala yang lebih luas di Iran. Kondisi ini menempatkan organisasi internasional seperti WHO dalam posisi sulit untuk menyalurkan bantuan medis di tengah blokade Selat Hormuz dan intensitas serangan udara yang terus meningkat.
Editor: Grace El Dora
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
FollowBaca Berita Lainnya di Google News
Read Now






