Harga Minyak Kembali Tembus ke US$ 100 per Barel, Usai Pidato Perdana Mojtaba Khamenei
JAKARTA, investor.id - Harga minyak kembali melonjak ke level US$ 95 hingga US$ 100 per barel, usai Pemimpin Tertinggi Iran Mojtaba Khamenei menyatakan Selat Hormuz harus tetap ditutup. Pernyataan resmi perdana dari Pemimpin Tertinggi Iran itu menyeret kekhawatiran pasar tentang durasi gangguan pasokan yang lebih lama.
Berdasarkan data Trading Economics pada pukul 21.40 WIB, Kamis (12/3/2026), harga minyak WTI kembali naik lebih dari 9% ke level US$ 95 per barel. Sedangkan minyak Brent menembus US$ 100 per barel atau naik 8,7%.
Pemimpin Tertinggi baru Iran, Mojtaba Khamenei, secara resmi menyatakan bahwa penutupan jalur maritim strategis Selat Hormuz harus dilanjutkan. Dalam pernyataan publik perdananya pada Kamis (12/3/2026), ia menegaskan bahwa blokade tersebut merupakan instrumen penting untuk menekan pihak musuh di tengah kecamuk perang.
Selain kebijakan blokade, Khamenei juga menuntut penutupan segera seluruh basis militer Amerika Serikat (AS) di Timur Tengah. “Pangkalan-pangkalan tersebut akan diserang,” tegasnya dalam pernyataan di televisi nasional yang dikutip oleh Reuters.
Segera setelah pernyataan tersebut disiarkan, harga minyak dunia langsung kembali merangkak naik. Melansir BBC, lonjakan harga minyak tersebut tetap berlangsung meskipun Badan Energi Internasional (IEA) pada hari Rabu mengatakan akan melepaskan 400 juta barel minyak dalam upaya untuk mengekang dampak ekonomi dari perang AS-Israel dengan Iran.
Para investor semakin khawatir bahwa ekonomi global akan membutuhkan waktu lebih lama untuk pulih jika pembatasan atau bahkan penutupan infrastruktur pelayaran dan energi di dalam dan sekitar Selat Hormuz terus berlanjut. Selat ini merupakan jalur pelayaran utama untuk pasokan 20% energi dunia, termasuk gas.
Seorang juru bicara Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) mengatakan pada hari Rabu bahwa setiap kapal yang terkait dengan AS, Israel, atau sekutu mereka akan menjadi sasaran. Ia juga mengatakan bahwa harga minyak tidak bisa diturunkan begitu saja.
“Perkirakan harga minyak akan berada di angka $200 per barel. Harga minyak bergantung pada keamanan regional, dan Anda (AS, Israel, dan sekutunya) adalah sumber utama ketidakamanan di kawasan ini," jelas salah seorang Juru Bicara IRGC.
Editor: Prisma Ardianto
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
FollowBaca Berita Lainnya di Google News
Read Now






