Harga Emas Pekan Depan Terjepit Minyak dan Suku Bunga
JAKARTA, investor.id – Harga emas diperkirakan bergerak fluktuatif pada pekan depan, di tengah tekanan kenaikan harga minyak dan ekspektasi suku bunga, meski logam mulia ini masih mencatat kenaikan mingguan.
Harga emas ditutup jatuh 1,72% ke level US$ 4.676,28 per ons troi. Meski demikian, harga emas berhasil mencatat kenaikan sekitar 3% sepanjang pekan ini dan bertahan di atas level US$ 4.600 per ons troi. Namun, reli tersebut tertahan setelah gagal menembus level resistensi US$ 4.800 per ons pada pertengahan pekan.
Dikutip dari Kitco, analis menilai pergerakan harga emas saat ini masih berada dalam tarik-menarik sentimen, terutama akibat konflik antara Amerika Serikat (AS) dan Israel melawan Iran di kawasan Timur Tengah.
Awalnya, pasar berharap konflik dapat segera mereda. Namun, seiring kenaikan harga minyak kembali menembus US$ 100 per barel menjelang libur panjang Paskah, pelaku pasar mulai memperhitungkan potensi konflik yang lebih berkepanjangan.
Kondisi ini turut memperkuat dolar AS dan meningkatkan kekhawatiran terhadap gangguan rantai pasok global, yang pada akhirnya membatasi kenaikan harga emas.
Analis FxPro Alex Kuptsikevich mengatakan, ketidakpastian geopolitik justru menjadi tekanan bagi emas dalam jangka pendek, terutama karena potensi respons bank sentral terhadap lonjakan inflasi. “Pasar mulai memperkirakan bank sentral akan menaikkan suku bunga untuk meredam inflasi akibat kenaikan harga energi. Ini menjadi sentimen negatif bagi emas,” ujarnya.
Meski demikian, Kuptsikevich menilai tekanan tersebut bisa bersifat sementara. Jika harga emas turun ke kisaran US$ 4.200 per ons troi, tren kenaikan jangka menengah masih dinilai belum berubah. Namun, penembusan di bawah level tersebut dapat menjadi sinyal pembalikan tren naik tiga tahunan.
Fase Pemulihan
Editor: Indah Handayani
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
FollowBaca Berita Lainnya di Google News
Read Now






