Transcoal Pacific Tambah Armada Antisipasi Kenaikan Angkutan Kargo
JAKARTA, investor.id - PT Transcoal Pacific Tbk (TCPI) optimis jumlah angkutan kargo pada tahun 2022 mendatang akan meningkat sejalan dengan beberapa kontrak yang sedang difinalisasi oleh perseroan. Selain itu, perseroan juga berencana menambah armada baru.
Direktur Utama Transcoal Pacific Dirc Richard mengatakan, kontrak yang sedang difinalisasi yakni dengan perusahaan pertambangan nikel. Jenis pekerjaan yang disepakati berupa pengangkutan kargo jangka panjang selama 5 tahun dengan volume angkutan sekitar 5 juta MT/tahun.
Selain itu, Perseroan saat ini juga sedang dalam negosiasi final untuk pengangkutan kargo batubara menggunakan Mother Vessel dengan volume angkutan sekitar 4 juta MT/tahun. “Dengan tambahan kedua kontrak ini, maka total nilai kontrak yang dimiliki oleh perseroan saat ini adalah sebesar Rp 16,5 triliun. Sebagian besar dari kontrak-kontrak yang dimiliki adalah kontrak jangka panjang dengan durasi 5 – 10 tahun,” jelasnya dalam paparan publik virtual belum lama ini.
Untuk mengimbangi meningkatnya angkutan kargo, perseroan juga berencana untuk menambah armada angkutan berupa pusher tug sebanyak 2 unit atau 4 kapal di tahun 2022. Rencana ini akan dimuluskan dengan belanja modal/capex yang disiapkan yakni sebesar Rp 300 miliar, capex tersebut juga akan digunakan untuk biaya docking kapal yang telah direncanakan.
Apabila penambahan armada tersebut telah rampung, maka TCPI dan entitas anak usahanya akan memiliki 154 unit armada yang terdiri dari pusher tug & barge, tug & barge, mother vessel, floating terminal station, sea truck dan alat berat serta alat pendukung lainnya. Berdasarkan data dari perseroan, per September 2021, total armada yang dioperasikan oleh TCPI berjumlah 326 unit, dengan komposisi 38% milik sendiri dan sisanya sebanyak 62% adalah sewa.
“Selain dari armada milik sendiri, TCPI masih akan menyewa kapal sebanyak ratusan unit di tahun 2022 untuk mendukung operasional perseroan,” ujarnya.
Adapun hingga akhir 2021 mendatang, Richard berharap, perseroan dapat menutup tahun dengan laba bersih mencapai Rp 89 miliar, meningkat 54,16% dari realisasi tahun 2020 lalu yakni Rp 57,73 miliar. Sedangkan pendapatan yang diincar adalah Rp 1,76 triliun, naik 5,39%.
“Dengan faktor cuaca yang mendukung, kami optimistis target tersebut dapat tercapai. Memang target pendapatan tahun ini lebih rendah ketimbang target 2020 lalu yakni Rp 2 triliun, rendahnya target sejalan dengan kondisi pandemi,” kata dia.
Sementara itu, hingga kuartal III-2021 Transcoal Pacific berhasil membukukan pendapatan sebesar Rp 1,17 triliun, realisasi ini menurun 9% dibandingkan periode yang sama tahun lalu senilai Rp 1,28 triliun. Meski demikian, laba tahun berjalan yang dicatatkan perseroan melesat 46,5% menjadi Rp 62,20 miliar dari sebelumnya Rp 42,39 miliar. (fur)
Editor: Investor.id
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
FollowBaca Berita Lainnya di Google News
Read NowBerita Terkini
Strategi Trisula (TRIS) Genjot Kinerja 2026
PT Trisula International Tbk (TRIS) menyiapkan strategi untuk memacu kinerja perusahaan pada tahun 2026.Perkuat Kapasitas Serapan, Bulog akan Bangun 100 Gudang Penyimpanan Baru
Perum Bulog akan menambah 100 gudang penyimpanan untuk memperkuat infrastruktur pascapanen dan meningkatkan kapasitas serapan petani.Presiden Prabowo akan Sambut Kedatangan 3 Jenazah Prajurit TNI dari Lebanon
Presiden Prabowo dijadwalkan menyambut kedatangan tiga jenazah prajurit TNI yang gugur saat menjalankan misi perdamaian di Lebanon.Enam Minggu Perang, Ribuan Nyawa Melayang dan 3 TNI Gugur
Update korban perang Timur Tengah: 3.500 tewas di Iran, 13 tentara AS gugur, dan 3 prajurit TNI Indonesia tewas saat tugas PBB di Lebanon.Perum Bulog Catat Stok Beras 4,4 Juta Ton, Lampaui Target 2026
Perum Bulog mencatat stok beras nasional 4,4 juta ton melebihi target serapan sebesar 4 juta ton. Swasembada pangan optimistis tercapai.Trump Usulkan ’Golden Dome’ dan Anggaran Perang Rp 25,5 Kuadriliun
Presiden Trump usulkan anggaran militer AS 2027 US$ 1,5 triliun. Fokus pada sistem pertahanan Golden Dome dan pangkas dana domestik.Tag Terpopuler
Terpopuler

