Bunga Kredit Cuma Turun 1 Bps dalam Dua Bulan
JAKARTA, investor.id - Suku bunga kredit tidak berubah pada Februari 2026 yaitu sebesar 8,80%, menandai penurunan sebesar 1 basis poin (bps) dalam kurun dua bulan di tahun ini. Bank Indonesia (BI) menilai penurunan suku bunga kredit perlu terus dilakukan untuk mendorong pertumbuhan ekonomi nasional.
“Suku bunga kredit pada Februari 2026 mencapai sebesar 8,80%,” ungkap Gubernur BI, Perry Warjiyo dalam konferensi pers pada Selasa (17/3/2026).
Meski menerangkan bahwa suku bunga kredit telah turun 40 bps sejak Januari 2025 dari sebesar 9,20%, Perry mengakui bahwa transmisi penurunan suku bunga dana ke penurunan suku bunga kredit perbankan perlu terus dilanjutkan.
Berdasarkan data BI, sejauh ini penurunan BI-Rate sebesar 125 bps selama tahun 2025 dan ekspansi likuiditas moneter Bank Indonesia telah berdampak signifikan terhadap penurunan berbagai jenis suku bunga. Sebagai gambaran, Suku bunga INDONIA menurun 186 bps sejak awal tahun 2025 menjadi sebesar 4,16% pada 16 Maret 2026.
Suku bunga SRBI untuk tenor 6, 9, dan 12 bulan menurun masing-masing sebesar 191 bps, 190 bps, dan 194 bps sejak awal tahun 2025 menjadi sebesar 5,25%; 5,30%; dan 5,33% pada 13 Maret 2026. Sementara itu, imbal hasil SBN untuk tenor 2 tahun dan 10 tahun masing-masing tercatat sebesar 5,99% dan 6,88% pada 16 Maret 2026.
Transmisi penurunan suku bunga kebijakan terhadap suku bunga pendanaan perbankan terus berlanjut, meski lebih terbatas. Suku bunga deposito 1 bulan turun sebesar 64 bps dari 4,81% pada Januari 2025 menjadi 4,17% pada Februari 2026. Ini juga menggambarkan upaya bank untuk mengurangi pemberian special rate kepada deposan besar yang saat ini mencapai 26,64% dari total DPK, masih perlu terus dilanjutkan.
“Ke depan, upaya penurunan suku bunga dana dan kredit perbankan masih perlu terus ditingkatkan agar dapat mendorong pertumbuhan kredit lebih tinggi guna mendukung pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan,”ucap Perry.
Dalam realisasinya, kredit perbankan pada Februari 2026 tumbuh sebesar 9,37% secara tahunan (year on year/yoy). Penyaluran kredit perbankan jelang Ramadan 1447 Hijriah itu bahkan bergerak melambat dibandingkan bulan sebelumnya sebesar 9,96% yoy.
Bank Indonesia memandang, dari sisi permintaan, pemanfaatan pembiayaan perbankan masih dapat ditingkatkan, terutama untuk mengoptimalkan fasilitas pinjaman yang belum digunakan (undisbursed loan). Kredit menganggur itu masih cukup besar yaitu senilai Rp 2.536,40 triliun atau 22,86% dari plafon kredit yang tersedia.
Sementara dari sisi penawaran, kapasitas pembiayaan bank tetap memadai, ditopang oleh rasio Alat Likuid terhadap Dana Pihak Ketiga (AL/DPK) sebesar 27,40% dan DPK yang masih tumbuh tinggi sebesar 13,18% yoy pada Februari 2026.
Selain itu, minat penyaluran kredit perbankan tetap baik, tecermin dari persyaratan pemberian kredit (lending requirement) yang masih longgar, kecuali pada segmen kredit konsumsi dan UMKM akibat masih tingginya risiko kredit pada kedua segmen tersebut.
Editor: Prisma Ardianto
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
FollowBaca Berita Lainnya di Google News
Read Now






