Raksasa Properti Tiongkok Evergrande Tangguhkan Perdagangan Lagi
HONG KONG, investor.id – Raksasa pengembang properti Tiongkok yang bermasalah Evergrande dan semua unitnya kembali menangguhkan perdagangan Senin (21/3) pagi di bursa Hong Kong, menurut pemberitahuan ke bursa saham.
Perusahaan properti Tiongkok tersebut telah berjuang di tengah upaya pemerintah Tiongkok untuk mengekang utang yang berlebihan di sektor real estat, ditambah spekulasi konsumen yang merajalela.
Evergrande menjadi satu di antara sejumlah perusahaan yang terlibat dalam krisis. Perusahaan tersebut sedang terlibat dalam negosiasi restrukturisasi, setelah menanggung kewajiban US$ 300 miliar.
Pada Senin, perusahaan mengumumkan bahwa perdagangan saham akan dihentikan tanpa memberikan alasan.
“Dengan demikian, semua produk terstruktur yang berkaitan dengan perusahaan juga akan dihentikan dari perdagangan pada saat yang sama,” tulis pemberitahuan kepada Bursa Efek Hong Kong, Senin.
Saham Evergrande Property Services Group dan China Evergrande New Energy Vehicle Group ditangguhkan.
Penangguhan ini menjadi yang kedua tahun ini, sebelum kewajiban pembayaran sebesar US$ 2 miliar yang diharapkan pada Rabu (23/3), dilanjutkan dengan pembayaran bulan berikutnya senilai US$ 1,4 miliar.
Pengembang tersebut diberi label sebagai gagal bayar (default) oleh perusahaan pemeringkat internasional pada Desember 2021, setelah gagal membayar kewajiban tepat waktu.
Sebelumnya, perusahaan kesulitan membayar pemasok dan kontraktor karena krisis utang. Ini menuai kritik berkelanjutan, mulai dari pembeli rumah dan investor di markas grup Shenzhen pada September 2021.
Baca Juga:
Perang di Ukraina: Peringatan Rusia untuk Menyerah, Hingga Kerusakan Pabrik Baja Terbesar EropaPerusahaan telah berulang kali mengatakan akan menyelesaikan proyeknya dan menyerahkan properti kepada pembeli, dalam upaya putus asa untuk menyelamatkan perusahaan dari utang.
Tetapi pada Januari 2022, pihak berwenang memerintahkan perusahaan untuk merobohkan 39 bangunan di Pulau Hainan karena bangunan tersebut dibangun secara ilegal di kepulauan buatan di pusat wisata.
Perusahaan telah mencoba menjual aset, dengan kepala perusahaan Hui Ka Yan melunasi sebagian utang menggunakan kekayaan pribadinya.
Kesengsaraan Evergrande memiliki efek knock on di seluruh sektor properti Tiongkok. Beberapa perusahaan kecil juga gagal membayar pinjaman, sementara perusahaan lainnya berjuang untuk menemukan cukup uang untuk melakukan pembayaran.
Dana Moneter Internasional (IMF) memperingatkan pada akhir Januari 2022 bahwa krisis pendanaan properti dapat memiliki efek limpahan pada ekonomi dan pasar global yang lebih luas.
Editor: Grace El Dora
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
FollowBaca Berita Lainnya di Google News
Read Now


