Jumat, 15 Mei 2026

Ekonom: Fed Diperkirakan Tetap Naikkan 75 bps, 40% Kemungkinan Resesi

Penulis : Grace El Dora
21 Jul 2022 | 20:25 WIB
BAGIKAN
Federal Reserve berkomitmen untuk terus menaikkan suku bunga guna menurunkan inflasi yang melonjak di Amerika Serikat. (FOTO: AFP/Jim Watson)
Federal Reserve berkomitmen untuk terus menaikkan suku bunga guna menurunkan inflasi yang melonjak di Amerika Serikat. (FOTO: AFP/Jim Watson)

BENGALURU, investor.id – Federal Reserve Amerika Serikat (AS) atau The Fed diperkirakan tetap memilih kenaikan suku bunga 75 basis poin (bps) lagi daripada langkah yang lebih besar pada pertemuannya minggu depan. Ini akan menjadi strategi memadamkan inflasi yang tinggi, karena kemungkinan resesi selama tahun depan naik menjadi 40%, menurut jajak pendapat ekonom Reuters.

Inflasi AS mencapai 9,1% pada Juni 2022, tertinggi selama empat dekade. Angka ini memicu ekspektasi bahwa The Fed, yang baru saja bergeser dari tenaga 50 bps menjadi 75 bps pada pertemuan terakhir, akan bertindak lebih kuat dan melakukan kenaikan 100 bps.

Tetapi sejumlah pejabat Fed yang bersikap lebih hawkish dalam sambutan publiknya lebih menyukai kenaikan 75 bps, meredam ekspektasi tersebut dalam beberapa hari terakhir. Kenaikan 75 bps bulan lalu adalah yang pertama kenaikan sebesar itu sejak 1994.

ADVERTISEMENT

Jajak pendapat Reuters 14-20 Juli 2022 menemukan bahwa 98 dari 102 ekonom memperkirakan The Fed akan menaikkan suku bunga sebesar 75 bps pada akhir pertemuan 26-27 Juli 2022 menjadi 2,25% hingga 2,50%. Empat ekonom mengatakan mereka memperkirakan kenaikan 100 bps.

Dana Fed berjangka (Fed funds future) memberi harga hanya sekitar satu dari lima peluang kenaikan satu poin persentase penuh (100 bps), menempatkan ekspektasi tersebut sebagian besar sejalan dengan hasil jajak pendapat.

Adapun dana Fed berjangka adalah derivatif berdasarkan tingkat dana federal, suku bunga pinjaman antar bank semalam AS pada cadangan yang disimpan di Fed.

Kekhawatiran Resesi

Tapi apa yang sudah menjadi jalur kenaikan suku bunga paling agresif dalam beberapa dekade membawa serta peningkatan kekhawatiran resesi.

Prediksi median dari jajak pendapat terbaru menunjukkan ada kemungkinan 40% terjadi resesi tahun depan di AS, dengan peluang 50% resesi terjadi dalam dua tahun. Itu adalah peningkatan yang signifikan dari kemungkinan masing-masing 25% dan 40% dalam jajak pendapat Juni 2022.

“Tampaknya ada pajak inflasi pada konsumen dan yang terus menumpuk dan mengambil korban, dan akhirnya mendorong ekonomi ke dalam resesi ringan,” kata ekonom senior AS di Bank of America Securities Aditya Bhave, Kamis (21/7).

Lebih dari 90%, atau 47 dari 51 responden, mengatakan bahwa setiap potensi resesi akan ringan atau sangat ringan. Hanya empat responden yang mengatakan potensinya akan parah.

Sementara itu, perlambatan pertumbuhan bersamaan dengan inflasi kemungkinan akan memaksa The Fed untuk mengurangi ukuran kenaikan suku bunga pada pertemuan lebih lanjut, menurut jajak pendapat tersebut.

Mayoritas kuat memperkirakan The Fed akan melambat menjadi 50 basis poin pada September dan kemudian menaikkan hanya 25 basis poin pada pertemuan November dan Desember. Pandangan tersebut sebagian besar tetap tidak berubah dari jajak pendapat terakhir.

Sementara itu, perkiraan pertumbuhan ekonomi AS diturunkan secara keseluruhan. Setelah kontraksi yang mengejutkan di Q1 2022, pertumbuhan untuk Q2 diperkirakan hanya pada tingkat tahunan yang disesuaikan secara musiman sebesar 0,7 persen, turun dari 3,0 persen yang diprediksi bulan lalu. Lebih dari satu dari lima memperkirakan kontraksi lain.

Pertumbuhan produk domestik bruto (PDB) dipangkas menjadi 2,0% untuk tahun ini dari perkiraan 2,6% bulan lalu. Pada 2023 PDB diperkirakan menjadi 1,2% ketika efek penuh dari kenaikan suku bunga Fed masuk ke dalam perekonomian.

Editor: Grace El Dora

Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id

Follow

Baca Berita Lainnya di Google News

Read Now
BAGIKAN

Berita Terkait


Berita Terkini


Macroeconomy 14 menit yang lalu

Fundamental Ekonomi Kuat, Masyarakat Jangan Panik

Pemerintah secara konsisten melakukan sejumlah pembenahan untuk memperkuat sumber pertumbuhan ekonomi domestik.
Market 46 menit yang lalu

Harga Emas Terkoreksi Buntut Data Konsumen AS

Pasar emas terus mempertahankan dukungan kritis tetapi tidak menunjukkan reaksi besar terhadap data ekonomi terbaru AS.
Market 57 menit yang lalu

Harga Perak Antam (ANTM) Hari Ini, Jumat 15 Mei 2026: Longsor Dalam

Harga perak Antam (ANTM) hari ini pada Jumat (15/5/2026) terpantau longsor dalam. Harga perak Antam menurun ke level ini
Market 1 jam yang lalu

Harga Emas Antam (ANTM) Hari Ini, Jumat 15 Mei 2026: Merosot Lagi

Harga emas Antam (ANTM) terpantau pada Jumat (15/5/2026) kembali merosot. Cek juga harga beli kembali (buyback) emas Antam
Market 2 jam yang lalu

DPR Soroti Kepercayaan Pasar di Tengah Tekanan Rupiah

Anggota Komisi XI DPR Marwan Cik Asan mendorong pemerintah dan BI menjaga kepercayaan pasar di tengah tekanan terhadap rupiah.
Market 2 jam yang lalu

Ujian Berat bagi Saham BUMI

Saham Bumi Resources (BUMI) menjadi salah satu yang banyak dilego oleh investor asing. Ini menandai tekanan terhadap saham BUMI berlanjut.
Copyright © 2026 Investor.id
PT. Koran Media Investor Indonesia