Taiwan Lantik Presiden Baru, Desak China Hentikan Intimidasi
TAIPEI, investor.id – Presiden baru Taiwan Lai Ching-te dalam pidato pelantikannya mendesak pemerintah China untuk menghentikan intimidasi militernya terhadap pulau berpemerintahan sendiri itu, yang diklaim China sebagai wilayahnya.
“Rekan-rekan sebangsa, kita punya cita-cita untuk mewujudkan perdamaian, tapi kita tidak boleh berilusi,” kata Lai setelah dilantik, Senin (20/5/2024).
“Karena Tiongkok belum menghentikan penggunaan kekuatannya untuk menyerang Taiwan, kita harus memahami bahwa meskipun kita sepenuhnya menerima usulan Tiongkok dan menyerahkan kedaulatan kita, upaya Tiongkok untuk mencaplok Taiwan tidak akan hilang.”
Dia menggantikan Tsai Ing-wen, yang memimpin Taiwan melalui delapan tahun pembangunan ekonomi dan sosial meskipun ada pandemi COVID-19 dan ancaman militer Tiongkok yang meningkat.
Ribuan orang berkumpul di depan Gedung Kantor Kepresidenan di Taipei untuk menghadiri upacara pelantikan. Dengan mengenakan topi ember berwarna putih, para peserta menyaksikan di layar lebar pembawa acara yang menceritakan upacara pelantikan Lai, diikuti dengan pawai militer dan pertunjukan seni penuh warna yang menampilkan penari folk, pemain opera, dan rapper. Helikopter militer terbang dalam formasi sambil membawa bendera Taiwan.
Lai menerima ucapan selamat dari sesama politisi dan delegasi dari 12 negara yang memelihara hubungan diplomatik resmi dengan Taiwan, serta politisi dari Amerika Serikat (AS), Jepang, dan berbagai negara Eropa.
Lai, yang juga dikenal dengan nama Inggrisnya William, telah berjanji akan melanjutkan upaya pendahulunya untuk menjaga stabilitas dengan China. Pihaknya juga meningkatkan keamanan Taiwan melalui impor pesawat tempur canggih dan teknologi lainnya dari mitra dekat AS, berikut perluasan industri pertahanan dengan manufaktur kapal selam dan pesawat terbang.
Pemerintah Taiwan juga memperkuat kemitraan regional dengan sekutu tidak resminya seperti AS, Jepang, Korea Selatan, dan Filipina.
Menteri Luar Negeri (Menlu) AS Antony J. Blinken mengucapkan selamat kepada Lai atas pelantikannya.
“Kami berharap dapat bekerja sama dengan Presiden Lai dan seluruh spektrum politik Taiwan untuk memajukan kepentingan dan nilai-nilai bersama, memperdalam hubungan tidak resmi yang telah lama terjalin, dan menjaga perdamaian dan stabilitas di Selat Taiwan,” ungkap Blinken dalam pernyataan dari kantornya.
Lai (64) menggantikan Tsai Ing-wen, yang memimpin Taiwan melalui pembangunan ekonomi dan sosial selama delapan tahun meskipun ada pandemi Covid-19 dan ancaman militer China yang meningkat.
Ia dipandang mewarisi kebijakan progresif Taiwan, termasuk layanan kesehatan universal, dukungan terhadap pendidikan tinggi, dan dukungan terhadap kelompok minoritas, termasuk menjadikan Taiwan sebagai negara pertama di Asia yang mengakui pernikahan sesama jenis.
Lai, yang menjadi wakil presiden pada masa jabatan kedua Tsai, tampil lebih sebagai penghasut di awal karirnya. Pada 2017, ia menggambarkan dirinya sebagai “pekerja pragmatis untuk kemerdekaan Taiwan” yang memicu teguran dari pemerintah China.
Sejak itu, ia melunakkan pendiriannya dan sekarang mendukung mempertahankan status quo di Selat Taiwan dan kemungkinan pembicaraan dengan China.
Di sisi lain, pihak China mengklaim Taiwan sebagai wilayahnya dan meningkatkan ancamannya untuk mencaplok Taiwan dengan kekerasan jika diperlukan.
Lai akan melanjutkan upaya Tsai untuk memperkuat hubungan dengan AS, yang tidak secara resmi mengakui Taiwan sebagai sebuah negara tetapi terikat oleh hukumnya sendiri untuk menyediakan sarana bagi Taiwan untuk mempertahankan diri.
Selama masa jabatan Tsai, Taiwan menjadi negara pertama di Asia yang melegalkan pernikahan sesama jenis, meskipun para kritikus mengatakan dia mengabaikan tanggung jawab politik dengan menyerahkan keputusan tersebut ke Mahkamah Agung dan serangkaian referendum.
Dia mengawasi reformasi pensiun dan tenaga kerja yang kontroversial dan memperpanjang masa wajib militer menjadi satu tahun.
Dia juga memulai upaya modernisasi militer, termasuk program pembangunan kapal selam buatan dalam negeri yang masing-masing bernilai lebih dari US$ 16 miliar.
Kepemimpinan Tsai selama pandemi ini memecah opini publik, dengan sebagian besar orang mengagumi kemampuan awal Taiwan untuk mencegah sebagian besar virus berada di luar perbatasannya, tetapi mengkritik kurangnya investasi dalam pengujian cepat seiring dengan berkembangnya pandemi.
Editor: Grace El Dora
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
FollowBaca Berita Lainnya di Google News
Read Now

