Timur Tengah Membara: Perang Israel-AS Lawan Iran Meluas hingga ke Lebanon
DUBAI, investor.id – Eskalasi militer antara Amerika Serikat (AS) dan Israel melawan Iran memasuki babak baru yang mengkhawatirkan pada Selasa (3/3/2026). Perang udara yang awalnya terfokus di tanah Iran kini meluas ke Lebanon, memicu kekacauan transportasi global, hingga menyebabkan insiden "salah tembak" yang melibatkan jet tempur AS.
Front pertempuran baru resmi terbuka setelah kelompok milisi Hizbullah, sekutu utama Iran, meluncurkan rentetan rudal dan pesawat tanpa awak (drone) ke wilayah Israel. Menanggapi hal tersebut, Israel melancarkan serangan udara besar-besaran ke pinggiran selatan Beirut yang dikuasai Hezbollah.
Kantor berita Lebanon, NNA, melaporkan sedikitnya 31 orang tewas dan 149 lainnya luka-luka akibat serangan tersebut.
Insiden Fatal di Kuwait dan Kerugian Militer
Di tengah situasi yang mencekam, Komando Pusat AS melaporkan insiden tragis di Kuwait. Militer Kuwait secara tidak sengaja menembak jatuh tiga jet tempur F-15E milik Amerika Serikat saat terjadi serangan dari Iran. Beruntung, keenam awak pesawat berhasil keluar menggunakan kursi lontar dan telah dievakuasi dengan selamat.
Hingga saat ini, militer AS mengklaim telah menghantam lebih dari 1.250 target di Iran dan menghancurkan 11 kapal perang mereka. Namun, pihak AS juga harus kehilangan enam personel militer yang tewas akibat serangan balasan Iran di Kuwait akhir pekan lalu.
Presiden AS Donald Trump menyatakan, operasi militer ini kemungkinan akan berlangsung selama berminggu-minggu. Fokus utama serangan adalah untuk melumpuhkan program nuklir dan rudal balistik Iran. Trump juga menyebut kondisi kepemimpinan di Iran saat ini tidak menentu menyusul tewasnya Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei dalam serangan pembuka pada Sabtu (28/2/2026).
"Sejak awal, kami memproyeksikan operasi ini memakan waktu empat hingga lima minggu, tetapi kami memiliki kemampuan untuk melakukannya jauh lebih lama dari itu," tegas Trump di Gedung Putih.
Perang ini telah melumpuhkan jalur pelayaran di Selat Hormuz, jalur vital bagi seperlima perdagangan minyak dunia. Akibatnya, harga minyak mentah melonjak tajam, yang juga memicu kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) di Amerika Serikat hingga melampaui US$ 3 per galon.
Di dalam negeri Iran, situasi dilaporkan simpang siur. Sebagian warga merayakan kematian Khamenei yang dikenal represif, namun banyak pula yang menderita akibat serangan udara yang menghantam fasilitas sipil.
"Mereka membunuh anak-anak dan menyerang rumah sakit. Inikah demokrasi yang ingin dibawa Trump?" ujar Morteza Sedighi, seorang guru di Tabriz, melalui sambungan telepon.
Pemicu dan Konteks Krisis
Krisis besar yang mengguncang Timur Tengah saat ini dipicu oleh serangan mendadak gabungan Amerika Serikat dan Israel ke wilayah Iran pada akhir pekan terakhir pada Februari 2026.
Operasi militer yang diberi kode oleh Pentagon sebagai langkah "preemptif" ini bertujuan untuk menghancurkan infrastruktur nuklir Iran secara total sebelum negara tersebut mencapai ambang batas kemampuan senjata nuklir.
Ketegangan mencapai puncaknya setelah Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, terkonfirmasi tewas dalam salah satu serangan udara tersebut. Kejadian ini memicu kemarahan kelompok-kelompok yang tergabung dalam Poros Perlawanan (Axis of Resistance), termasuk Hizbullah di Lebanon, milisi di Irak, dan kelompok Houthi di Yaman yang serentak meluncurkan serangan balasan ke pangkalan militer AS dan wilayah Israel.
Peristiwa ini juga menandai kegagalan total diplomasi nuklir yang sempat diupayakan sebelumnya, serta menyeret negara-negara Teluk seperti Kuwait, Arab Saudi, dan Qatar ke dalam pusaran konflik bersenjata yang mengancam stabilitas energi global.
Editor: Grace El Dora
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
FollowBaca Berita Lainnya di Google News
Read Now






