Serangan AS-Israel Hantam Gedung Dewan Pemilih Pemimpin Tertinggi Baru Iran
QOM, investor.id – Gelombang serangan udara yang diluncurkan oleh pasukan Amerika Serikat dan Israel pada Selasa (3/3/2026) dilaporkan menghantam gedung krusial di wilayah Qom, sebelah selatan Teheran. Target serangan kali ini adalah markas besar dewan yang bertanggung jawab penuh untuk memilih Pemimpin Tertinggi Iran yang baru.
Menurut laporan kantor berita lokal Tasnim, serangan tersebut menyasar gedung Majelis Pakar (Assembly of Experts). Badan ini merupakan lembaga kunci dalam struktur politik Iran yang memiliki mandat konstitusional untuk menunjuk, mengawasi, dan jika perlu, memberhentikan Pemimpin Tertinggi.
"Para kriminal Amerika-Zionis telah menyerang gedung Majelis Pakar di Qom," lapor kantor berita tersebut dalam sebuah pernyataan yang dikutip pada Selasa malam.
Rekaman video dan foto yang beredar di media lokal menunjukkan kerusakan parah pada struktur bangunan tersebut. Serangan ini terjadi hanya berselang tiga hari setelah tewasnya Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, yang gugur dalam serangan udara gabungan AS dan Israel pada Sabtu (28/2/2026).
Kelumpuhan Transisi Kepemimpinan
Langkah militer ini dinilai sangat strategis sekaligus provokatif. Dengan menyerang tempat di mana para ulama senior berkumpul untuk menentukan penerus Khamenei, serangan ini diduga bertujuan untuk menciptakan kekacauan politik dan menghambat proses transisi kepemimpinan di Teheran.
Hingga berita ini diturunkan, pihak militer Israel (IDF) maupun Pentagon belum memberikan komentar resmi mengenai detail target spesifik di wilayah Qom tersebut, namun menegaskan bahwa operasi militer akan terus berlanjut untuk melumpuhkan pusat-pusat kekuatan rezim.
eran Krusial Majelis Pakar dalam Politik Iran
Majelis Pakar (Majles-e Khobregan) adalah sebuah badan deliberatif yang terdiri dari 88 ahli hukum Islam (ulama) yang dipilih melalui pemilu setiap delapan tahun sekali. Di bawah sistem Velayat-e Faqih (Wilayatul Faqih) yang dianut Iran, Majelis Pakar memegang kekuasaan paling sakral dalam pemerintahan: mereka adalah satu-satunya lembaga yang berwenang menentukan siapa yang layak menyandang gelar Rahbar atau Pemimpin Tertinggi.
Serangan terhadap markas besar mereka di Qom, kota suci yang menjadi pusat pendidikan teologi Syiah, terjadi di saat Iran berada dalam posisi paling rentan. Pasca tewasnya Ayatollah Ali Khamenei yang telah berkuasa sejak 1989, Iran secara konstitusional harus segera menunjuk pemimpin baru untuk mencegah keruntuhan sistem komando.
Dengan hancurnya fasilitas pertemuan utama dan ancaman keamanan terhadap para anggotanya, proses suksesi kepemimpinan Iran kini berada di titik nadir, memicu kekosongan kekuasaan yang dapat berujung pada perang saudara atau pengambilalihan kekuasaan oleh militer (Garda Revolusi).
Editor: Grace El Dora
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
FollowBaca Berita Lainnya di Google News
Read Now






