Trump Soal Lonjakan Harga BBM: "Kalau Naik, Ya Naik Saja"
WASHINGTON, investor.id – Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump menegaskan dirinya tidak khawatir dengan lonjakan harga bahan bakar minyak (BBM) di Amerika Serikat yang dipicu oleh meluasnya konflik dengan Iran. Dalam wawancara eksklusif Reuters pada Jumat (6/3/2026), Trump menyatakan operasi militer AS adalah prioritas utamanya saat ini.
"Saya sama sekali tidak khawatir. Harga akan turun sangat cepat setelah ini selesai. Kalaupun naik, ya naik saja. Ini jauh lebih penting daripada sekadar kenaikan harga bensin yang sedikit," ujar Trump ketika ditanya mengenai kenaikan harga di pompa bensin, Jumat.
Komentar dingin Trump tersebut sontak memicu ingatan publik pada momen ikonik film Rocky IV. Kalimat "if they rise, they rise" (kalau naik, ya naik saja) dinilai sangat mirip dengan ucapan petinju Rusia Ivan Drago yang mengatakan "if he dies, he dies" saat bertarung melawan Apollo Creed.
Perubahan Drastis Sikap Politik
Pernyataan ini menandai pergeseran nada bicara Trump. Padahal, baru bulan lalu dalam pidato kenegaraan (State of the Union), Trump membanggakan keberhasilannya menurunkan harga baham bakar minyak (BBM). Hal serupa juga ia sampaikan dalam kampanye energi di Texas, hanya beberapa jam sebelum AS melancarkan serangan udara pada Sabtu lalu.
Para analis politik menilai sikap "masa bodoh" ini bisa menjadi bumerang bagi Partai Republik dalam pemilu sela (midterm) November 2025. Saat ini, kendali atas Kongres AS sedang dipertaruhkan, sementara pemilih sudah mulai resah dengan tingginya biaya hidup dan pengelolaan ekonomi di bawah pemerintahan Trump.
Kegelisahan di Balik Layar Gedung Putih
Meski Trump tampak santai di depan publik, situasi di internal Gedung Putih justru dikabarkan tegang. Kepala Staf Susie Wiles dan Menteri Energi Chris Wright dilaporkan terus berkomunikasi dengan para CEO perusahaan minyak untuk mencari opsi meredam harga energi.
Seorang pejabat Gedung Putih yang enggan disebutkan namanya mengungkapkan adanya kepanikan di tim keamanan nasional dan tim energi. Wiles bahkan memperingatkan dalam rapat internal kegagalan mengendalikan harga BBM bisa berdampak "katastropik" bagi kemenangan Republik di pemilu mendatang.
Kondisi Pasar Minyak Global
Sejak konflik pecah Sabtu (28/3/2026), harga minyak dunia telah melonjak hingga 16%. Berdasarkan data AAA, rata-rata harga bensin nasional di AS naik 27 sen menjadi US$ 3,25 per galon dalam sepekan terakhir. Angka ini lebih tinggi 15 sen dibanding periode yang sama tahun lalu.
Namun, Trump tetap optimis. Ia yakin Selat Hormuz, jalur krusial pengiriman minyak dunia, akan tetap terbuka karena menurutnya angkatan laut Iran sudah berada di "dasar laut". Ia juga menegaskan belum berniat menggunakan Cadangan Minyak Strategis (Strategic Petroleum Reserve) untuk saat ini.
Ketegangan AS-Iran di Selat Hormuz
Sebagai konteks tambahan, ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran telah mencapai titik didih menyusul serangkaian serangan udara yang dilancarkan AS sebagai respons atas aktivitas militer Iran di kawasan Timur Tengah. Fokus utama dari konflik ini adalah Selat Hormuz, sebuah jalur perairan sempit yang menjadi urat nadi energi dunia.
Sekitar 20% dari total konsumsi minyak bumi dunia melewati selat ini setiap harinya. Gangguan sekecil apa pun di wilayah ini hampir dipastikan akan memicu guncangan hebat pada pasar energi global. Sejarah mencatat bahwa fluktuasi harga BBM di Amerika Serikat selalu menjadi isu sensitif yang mampu mengubah peta politik domestik, terutama menjelang pemilihan umum.
Editor: Grace El Dora
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
FollowBaca Berita Lainnya di Google News
Read Now






