Minggu, 21 Juni 2026

Rekaman Baru Perkuat Dugaan AS Bom Sekolah di Iran, 165 Orang Tewas

Penulis : Grace El Dora
10 Mar 2026 | 05:35 WIB
BAGIKAN
Petugas penyelamat dan warga mencari di antara reruntuhan setelah serangan terhadap sekolah dasar putri di Minab, Iran, Sabtu (28/2/2026). (Foto: Abbas Zakeri/ Kantor Berita Mehr via AP)
Petugas penyelamat dan warga mencari di antara reruntuhan setelah serangan terhadap sekolah dasar putri di Minab, Iran, Sabtu (28/2/2026). (Foto: Abbas Zakeri/ Kantor Berita Mehr via AP)

YERUSALEM, investor.id – Sebuah rekaman video terbaru mengungkap bukti kuat yang mengarah pada keterlibatan Amerika Serikat (AS) dalam serangan maut terhadap sebuah sekolah di Minab, Iran selatan. Insiden yang terjadi pada awal pecahnya perang Timur Tengah ini menewaskan sedikitnya 165 orang, yang mayoritas di antaranya adalah anak-anak.

Kelompok investigasi independen Bellingcat bersama Associated Press (AP) menganalisis rekaman yang menunjukkan sebuah rudal menghantam kompleks bangunan hanya beberapa meter dari lokasi sekolah tersebut.

Pakar persenjataan Trevor Ball mengidentifikasi proyektil tersebut sebagai rudal jelajah Tomahawk. Ini adalah jenis persenjataan yang sejauh ini hanya dimiliki oleh AS dalam konflik ini.

ADVERTISEMENT

Analisis citra satelit dan geolokasi menunjukkan sekolah yang terletak di Provinsi Hormozgan tersebut berada tepat di sebelah pangkalan Garda Revolusi Iran (IRGC). Berikut adalah poin-poin utama investigasi:

- Identitas Rudal: Penggunaan Tomahawk diperkuat oleh pengakuan Komando Pusat AS (CENTCOM) yang merilis foto kapal induk USS Spruance menembakkan rudal jenis tersebut pada tanggal yang sama dengan kejadian pada 28 Februari 2026.

- Pengakuan Internal: Seorang pejabat AS yang enggan disebutkan namanya mengakui kepada AP bahwa serangan tersebut "kemungkinan besar dilakukan oleh Amerika".

- Pola Serangan: Lokasi sekolah berada di wilayah operasi utama AS (Iran selatan), sementara militer Israel diketahui lebih fokus melakukan serangan di wilayah tengah Iran.

Bantahan Donald Trump dan Sikap Pentagon

Meski bukti teknis mulai terkuak, Presiden AS Donald Trump menolak bertanggung jawab. Tanpa memberikan bukti pendukung, Trump menuduh Iran sebagai pihak yang bersalah atas ledakan tersebut.

"Menurut pendapat saya, itu dilakukan oleh Iran. Mereka sangat tidak akurat dengan amunisinya," ujar Trump seperti dikutip AP, Selasa (10/3/2026).

Namun, pernyataan Trump tampak bertolak belakang dengan langkah Pentagon yang justru meluncurkan penilaian dampak sipil (civilian harm assessment) atas insiden tersebut. Secara prosedur, penilaian semacam ini hanya dilakukan jika ada temuan awal bahwa militer AS kemungkinan memikul tanggung jawab.

Pelanggaran Hukum Internasional

Pakar hukum internasional dari Universitas Oxford, Janina Dill, memperingatkan bahwa meskipun insiden ini merupakan kesalahan identifikasi target, hal itu tetap merupakan pelanggaran serius. "Penyerang berkewajiban melakukan segala upaya untuk memverifikasi status objek yang ditargetkan," tegasnya.

Di sisi lain, Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth memberikan pernyataan keras yang mengabaikan tekanan internasional. "Amerika tidak peduli dengan apa yang dikatakan institusi internasional. Kami bertarung untuk menang, tanpa aturan pelibatan (rules of engagement) yang bodoh," ujar Hegseth.

Tragedi di sekolah Minab pada 28 Februari 2026 menjadi titik balik dalam persepsi publik internasional terhadap operasi militer AS di Iran. Lokasi Minab yang strategis di dekat Selat Hormuz menjadikannya area dengan intensitas serangan udara tertinggi karena keberadaan pangkalan angkatan laut dan unit Garda Revolusi Iran (IRGC).

Konflik yang dipicu oleh tewasnya pemimpin tertinggi Iran ini telah menyeret warga sipil ke dalam "kabut perang" (fog of war) di mana fasilitas publik sering kali berada terlalu dekat dengan instalasi militer. Penggunaan rudal jelajah Tomahawk yang presisi seharusnya mampu meminimalisir kerusakan kolateral, namun insiden Minab menunjukkan adanya celah besar dalam verifikasi target.

Di bawah pemerintahan Trump yang mengusung kebijakan militer tanpa batasan (unleashed power), tragedi ini menjadi simbol perdebatan antara efektivitas militer untuk menang cepat dan kewajiban moral untuk melindungi nyawa warga sipil yang tidak berdosa.

Editor: Grace El Dora

Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id

Follow

Baca Berita Lainnya di Google News

Read Now
BAGIKAN

Berita Terkait


Berita Terkini


Business 3 menit yang lalu

Bahlil Pastikan Rencana Konversi LPG ke CNG Masih dalam Proses

Menteri ESDM Bahlil Lahadalia mengungkapkan bahwa rencana konversi penggunaan LPG ke CNG masih dalam tahap proses.
Market 34 menit yang lalu

Harga Emas Perhiasan Hari Ini, Minggu 21 Juni 2026, Cek Rinciannya

Harga emas perhiasan hari ini, Minggu (21/6/2026) di Raja Emas Indonesia, Hartadinata Abadi, dan Laku Emas dalam berbagai karat
Market 2 jam yang lalu

BBCA Dijagokan Lagi, Dana Besar Masuk

Saham BBCA (BCA) kembali dijagokan untuk perdagangan selanjutnya. Target harga saham BBCA tinggi. Dana besar masuk!
Business 2 jam yang lalu

KEK Industropolis Batang Jadi Magnet Investasi Global, Pimpin Transisi Industri Hijau

KEK Industropolis Batang jadi magnet investasi global, yang berada di jalur tepat untuk memimpin transisi industri hijau di Asia Tenggara.
Market 3 jam yang lalu

BERITA POPULER: Saham Murah BMRI Diserok hingga Rencana MSCI 23 Juni

Berita populer 24 jam terakhir, mulai dari saham murah BMRI diserok hingga rencana MSCI pada 23 Juni soal status pasar modal Indonesia.
International 8 jam yang lalu

Skandal Korupsi Spanyol: Istri PM Pedro Sanchez Diadili dan Paspornya Disita

Istri PM Spanyol Begoña Gómez resmi diadili atas kasus korupsi. Paspor disita dan kubu oposisi mendesak pemerintah untuk mundur.
Copyright © 2026 Investor.id
PT. Koran Media Investor Indonesia