Rekaman Baru Perkuat Dugaan AS Bom Sekolah di Iran, 165 Orang Tewas
YERUSALEM, investor.id – Sebuah rekaman video terbaru mengungkap bukti kuat yang mengarah pada keterlibatan Amerika Serikat (AS) dalam serangan maut terhadap sebuah sekolah di Minab, Iran selatan. Insiden yang terjadi pada awal pecahnya perang Timur Tengah ini menewaskan sedikitnya 165 orang, yang mayoritas di antaranya adalah anak-anak.
Kelompok investigasi independen Bellingcat bersama Associated Press (AP) menganalisis rekaman yang menunjukkan sebuah rudal menghantam kompleks bangunan hanya beberapa meter dari lokasi sekolah tersebut.
Pakar persenjataan Trevor Ball mengidentifikasi proyektil tersebut sebagai rudal jelajah Tomahawk. Ini adalah jenis persenjataan yang sejauh ini hanya dimiliki oleh AS dalam konflik ini.
Analisis citra satelit dan geolokasi menunjukkan sekolah yang terletak di Provinsi Hormozgan tersebut berada tepat di sebelah pangkalan Garda Revolusi Iran (IRGC). Berikut adalah poin-poin utama investigasi:
- Identitas Rudal: Penggunaan Tomahawk diperkuat oleh pengakuan Komando Pusat AS (CENTCOM) yang merilis foto kapal induk USS Spruance menembakkan rudal jenis tersebut pada tanggal yang sama dengan kejadian pada 28 Februari 2026.
- Pengakuan Internal: Seorang pejabat AS yang enggan disebutkan namanya mengakui kepada AP bahwa serangan tersebut "kemungkinan besar dilakukan oleh Amerika".
- Pola Serangan: Lokasi sekolah berada di wilayah operasi utama AS (Iran selatan), sementara militer Israel diketahui lebih fokus melakukan serangan di wilayah tengah Iran.
Bantahan Donald Trump dan Sikap Pentagon
Meski bukti teknis mulai terkuak, Presiden AS Donald Trump menolak bertanggung jawab. Tanpa memberikan bukti pendukung, Trump menuduh Iran sebagai pihak yang bersalah atas ledakan tersebut.
"Menurut pendapat saya, itu dilakukan oleh Iran. Mereka sangat tidak akurat dengan amunisinya," ujar Trump seperti dikutip AP, Selasa (10/3/2026).
Baca Juga:
Iran Lempar Propaganda ke Warga ASNamun, pernyataan Trump tampak bertolak belakang dengan langkah Pentagon yang justru meluncurkan penilaian dampak sipil (civilian harm assessment) atas insiden tersebut. Secara prosedur, penilaian semacam ini hanya dilakukan jika ada temuan awal bahwa militer AS kemungkinan memikul tanggung jawab.
Pelanggaran Hukum Internasional
Pakar hukum internasional dari Universitas Oxford, Janina Dill, memperingatkan bahwa meskipun insiden ini merupakan kesalahan identifikasi target, hal itu tetap merupakan pelanggaran serius. "Penyerang berkewajiban melakukan segala upaya untuk memverifikasi status objek yang ditargetkan," tegasnya.
Di sisi lain, Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth memberikan pernyataan keras yang mengabaikan tekanan internasional. "Amerika tidak peduli dengan apa yang dikatakan institusi internasional. Kami bertarung untuk menang, tanpa aturan pelibatan (rules of engagement) yang bodoh," ujar Hegseth.
Tragedi di sekolah Minab pada 28 Februari 2026 menjadi titik balik dalam persepsi publik internasional terhadap operasi militer AS di Iran. Lokasi Minab yang strategis di dekat Selat Hormuz menjadikannya area dengan intensitas serangan udara tertinggi karena keberadaan pangkalan angkatan laut dan unit Garda Revolusi Iran (IRGC).
Konflik yang dipicu oleh tewasnya pemimpin tertinggi Iran ini telah menyeret warga sipil ke dalam "kabut perang" (fog of war) di mana fasilitas publik sering kali berada terlalu dekat dengan instalasi militer. Penggunaan rudal jelajah Tomahawk yang presisi seharusnya mampu meminimalisir kerusakan kolateral, namun insiden Minab menunjukkan adanya celah besar dalam verifikasi target.
Di bawah pemerintahan Trump yang mengusung kebijakan militer tanpa batasan (unleashed power), tragedi ini menjadi simbol perdebatan antara efektivitas militer untuk menang cepat dan kewajiban moral untuk melindungi nyawa warga sipil yang tidak berdosa.
Editor: Grace El Dora
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
FollowBaca Berita Lainnya di Google News
Read Now






