Pasar Saham AS Lesu di Tengah Perang Iran dan Menanti Data Inflasi CPI
NEW YORK, investor.id – Kontrak berjangka (futures) saham Amerika Serikat bergerak (AS) stagnan pada perdagangan Rabu (11/3/2026). Para investor cenderung bersikap waspada (wait and see) seiring berlanjutnya konflik di Timur Tengah dan melonjaknya harga minyak mentah yang melampaui level US$ 90 per barel.
Kelesuan di bursa Wall Street, termasuk pada indeks S&P 500 dan Nasdaq 100, terjadi setelah laporan adanya serangan proyektil terhadap tiga kapal dagang di Selat Hormuz dan Teluk Persia. Ketegangan ini memicu Badan Energi Internasional (IEA) untuk mengusulkan pelepasan cadangan minyak darurat terbesar dalam sejarah guna menstabilkan pasar.
"Langkah pelepasan cadangan minyak ini lebih bersifat psikologis. Namun, saat ini psikologi adalah faktor terpenting bagi pasar, bahkan mungkin lebih krusial daripada jumlah bom atau barel minyak itu sendiri," ujar Chief Investment Officer Siebert Financial Mark Malek, seperti dikutip Bloomberg internasional, Rabu.
Fokus pada Data Inflasi CPI
Investor kini menantikan rilis data Indeks Harga Konsumen (CPI) yang dijadwalkan keluar Rabu pagi waktu setempat atau Kamis pagi WIB. Data ini sangat krusial untuk menentukan apakah inflasi masih terkendali sebelum lonjakan harga minyak akibat perang terjadi.
Jika inflasi inti tercatat lebih rendah dari perkiraan 2,4%, hal tersebut dapat menjadi bantalan ekonomi yang meredam dampak negatif dari krisis di Timur Tengah. Selain CPI, pasar juga menunggu rilis indeks pengeluaran konsumsi pribadi (PCE) yang merupakan indikator inflasi favorit Federal Reserve (The Fed) untuk menentukan arah kebijakan suku bunga.
Di tengah ketidakpastian makro, beberapa saham menunjukkan pergerakan signifikan pada sesi pra-pasar:
- Oracle Corp: Melonjak tajam setelah melaporkan kinerja keuangan yang kuat, didorong oleh tingginya permintaan komputasi kecerdasan buatan (artificial intelligence/ AI).
- Nike Inc: Mengalami kenaikan setelah mendapat peningkatan peringkat (upgrade) menjadi overweight oleh analis Barclays.
- AeroVironment Inc: Merosot setelah produsen drone pertahanan ini mengeluarkan proyeksi pendapatan kuartal ketiga yang berada di bawah ekspektasi pasar.
Pasar modal global memiliki ketergantungan yang sangat erat terhadap stabilitas harga energi. Minyak bumi merupakan komponen utama dalam biaya produksi dan transportasi, sehingga kenaikan harga minyak yang drastis akibat konflik geopolitik di Timur Tengah hampir selalu diikuti oleh lonjakan inflasi ( cost-push inflation).
Bagi Amerika Serikat, situasi ini menjadi dilema bagi Bank Sentral (The Fed).
Jika inflasi terus merangkak naik akibat harga energi, The Fed kemungkinan besar akan mempertahankan sikap hawkish atau tetap menahan suku bunga di level tinggi untuk meredam laju kenaikan harga. Namun, di sisi lain, suku bunga tinggi yang bertahan lama dapat menekan pertumbuhan ekonomi dan menurunkan minat investasi pada aset berisiko seperti saham.
Oleh karena itu, rilis data inflasi saat ini menjadi "peta jalan" bagi investor untuk memprediksi apakah ekonomi dunia akan menghadapi resesi atau mampu bertahan di tengah badai perang.
Editor: Grace El Dora
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
FollowBaca Berita Lainnya di Google News
Read Now






